SPLIT PERSONALITY: SOSOK YANG TIDAK KAMU KETAHUI

Pernahkah anda menonton serial korea berjudul kill me heal me? Atau film berjudul split? atau yang teranyar adalah voice season 4. Ketiganya tayangan ini mengisahkan mengenai gangguan mental berupa kepribadian ganda yang dapat mengendalikan tubuh asli pemiliknya. Lantas bagaimana kepribadian aslinya jika ada kepribadian lain yang mengambil alih? Mari simak beberapa penjelasan mengenai split personality.

Kepribadian ganda atau split personality mengacu pada dissociative identity disorder (DID), gangguan mental di mana seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Pikiran, tindakan, dan perilaku setiap kepribadian mungkin sangat berbeda. Kepribadian ini mengontrol perilaku mereka pada waktu yang berbeda. Setiap identitas memiliki sejarah pribadi, ciri-ciri, suka dan tidak suka. DID dapat menyebabkan kesenjangan dalam memori dan halusinasi (percaya sesuatu itu nyata padahal tidak).

Aspek disosiatif dianggap sebagai mekanisme koping — orang tersebut benar-benar menutup diri atau memisahkan diri dari situasi atau pengalaman yang terlalu keras, traumatis, atau menyakitkan untuk berasimilasi dengan kesadaran diri mereka.

Ketika terjadi perubahan kepribadian, maka kepribadian baru tersebut akan memiliki sejarah yang berbeda, identitas baru, dan perilaku yang berbeda.

Kepribadian ganda ini, atau alter, sering kali memiliki perbedaannya sendiri:

  1. nama
  2. usia
  3. jenis kelamin
  4. suasana hati
  5. memori
  6. kosakata

TANDA DAN GEJALA DID

Tanda-tanda DID dapat bervariasi, tetapi termasuk perubahan antara dua atau lebih kepribadian yang terpisah.

Gejalanya meliputi:

  1. Mengalami dua atau lebih kepribadian yang terpisah, masing-masing dengan identitas diri dan persepsinya sendiri.
  2. Perubahan penting dalam perasaan diri seseorang.
  3. Kesenjangan yang sering terjadi dalam ingatan dan riwayat pribadi, yang bukan karena kelupaan normal, termasuk kehilangan ingatan, dan melupakan kejadian sehari-hari.

Ketika kepribadian lain ini mengambil alih, mereka sering berbicara dengan kosakata yang berbeda, dan gerakan yang berbeda. Dalam beberapa kasus, satu kepribadian juga dapat mengambil kebiasaan tertentu yang tidak dimiliki oleh yang lain, seperti merokok, atau menjadi kasar.

Dalam peralihan dari satu kepribadian ke kepribadian lain, seseorang mungkin mengalami gejala lain. Beberapa orang dapat mengalami kecemasan, karena mereka mungkin takut dengan perubahan kepribadian. Beberapa mungkin menjadi sangat marah atau kasar. Orang lain mungkin tidak memperhatikan atau mengingat transisi ini sama sekali, meskipun orang lain mungkin memperhatikannya.

Namun juga terdapat gejala lain yang muncul. Meskipun tidak semua mengalaminya namun beberapa diantaranya mengaku merasakan hal tersebut gejala lainnya yang mungkin termasuk:

  1. masuk ke keadaan seperti trance
  2. pengalaman di luar tubuh, atau depersonalisasi
  3. terlibat dalam perilaku yang tidak biasa bagi orang tersebut
  4. gangguan tidur
  5. Sakit kepala parah dan mengalami nyeri-nyeri pada tubuh.
  6. Derealization, yakni perasaan bahwa lingkungan sekitarnya asing, aneh, atau tidak nyata.
  7. Suasana hati mudah berubah atau depresi.
  8. Mudah gelisah dan cemas.
  9. Amnesia atau merasakan distorsi waktu.
  10. Gangguan tidur, seperti sering mengalami mimpi buruk atau sleep walking.
  11. Cenderung memiliki gangguan makan.
  12. Halusinasi, yakni persepsi palsu terhadap sesuatu, seperti mendengar suara yang sebenarnya tidak ada.
  13. Timbul masalah seks, seperti gairah seks menurun.
  14. Penggunaan obat-obatan terlarang.
  15. Keinginan melukai diri dan hampir 70% orang dengan split disorder pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Seseorang dengan DID juga dapat mengalami gejala kondisi lain, seperti melukai diri sendiri. Satu studi mencatat bahwa lebih dari 70% orang dengan DID telah mencoba bunuh diri.

YANG BERISIKO TERKENA DID

Penelitian menunjukkan bahwa penyebab DID kemungkinan merupakan respons psikologis terhadap tekanan interpersonal dan lingkungan, terutama selama tahun-tahun awal masa kanak-kanak ketika pengabaian atau pelecehan emosional dapat mengganggu perkembangan kepribadian. Sebanyak 99% individu yang mengembangkan gangguan disosiatif telah mengenali sejarah pribadi gangguan berulang, kuat, dan sering mengancam jiwa atau trauma pada tahap perkembangan sensitif masa kanak-kanak (biasanya sebelum usia 6 tahun).

Disosiasi juga dapat terjadi ketika ada pengabaian atau pelecehan emosional yang terus-menerus, bahkan ketika tidak ada pelecehan fisik atau seksual yang terbuka. Temuan menunjukkan bahwa dalam keluarga di mana orang tua menakutkan dan tidak terduga, anak-anak dapat menjadi disosiatif. Studi menunjukkan DID mempengaruhi sekitar 1% dari populasi.

Memiliki kepribadian ganda sering dianggap sebagai mekanisme perlindungan diri pada seseorang dari situasi yang membuatnya stres, tertekan, dan trauma. Dengan begitu, orang yang memilki kepribadian alternatif bisa melawan rasa sakit fisik atau emosional yang timbul akibat pengalaman yang menyakitkan.

Saat kepribadian alternatif mengendalikan penderitanya, akan ada batasan yang tercipta antara dirinya dengan peritiwa yang membuatnya trauma. Batasan tersebut akhirnya bisa membuat penderitanya mampu mempertahankan fungsi dirinya dalam kehidupan sehari-hari, seolah peristiwa traumatis tidak pernah terjadi.

Episode peralihan kepribadian dapat dipicu oleh berbagai hal, baik itu peristiwa traumatis yang menjadi penyebab, maupun peristiwa ringan, seperti

FAKTOR RISIKO DID

Trauma sering memicu DID sebagai respons psikologis, sehingga merupakan faktor risiko yang kuat, terutama pada masa kanak-kanak. Trauma ini dapat berasal dari:

  • physical abuse
  • sexual abuse
  • emotional neglect
  • psychological abuse

Dalam beberapa kasus, seorang anak mungkin tidak mengalami bentuk pelecehan yang jelas, tetapi mungkin tidak tumbuh di lingkungan rumah yang aman. Misalnya, mereka mungkin tinggal dengan orang tua yang sangat tidak terduga, dan mulai memisahkan diri sebagai respons terhadap stres yang menyertainya.

DID dapat muncul bersamaan dengan gangguan lainnya. Ini berarti bahwa beberapa gangguan kesehatan mental dapat muncul dari penyebab yang sama.

 

Gangguan umum lainnya yang dapat terjadi bersamaan dengan DID meliputi:

DIAGNOSA DID

Membuat diagnosis DID membutuhkan waktu. Diperkirakan bahwa individu dengan gangguan disosiatif telah menghabiskan tujuh tahun dalam sistem kesehatan mental sebelum diagnosis yang akurat. Ini biasa terjadi, karena daftar gejala yang menyebabkan seseorang dengan gangguan disosiatif mencari pengobatan sangat mirip dengan banyak diagnosis psikiatri lainnya. Faktanya, banyak orang yang memiliki gangguan disosiatif juga memiliki diagnosis ambang atau gangguan kepribadian lainnya, depresi, dan kecemasan.

Tidak ada tes laboratorium khusus untuk mendiagnosis kepribadian ganda. Meski begitu, tes darah, CT scan, maupun MRI mungkin diperlukan untuk menyingkirkan masalah kesehatan tertentu. Selain itu, dokter ahli kejiwaan mungkin akan meminta Anda menjalani serangkaian tes berupa:

  • Pemeriksaan fisik. Pada tes ini dokter akan mengajukan pertanyaan riwayat kesehatan dan meninjau gejala apa saja yang dialami.
  • Tes psikiatri. Ahli kejiwaan Anda mengajukan beberapa pertanyaan mengenai pikiran, perasaan, dan perilaku Anda. Tidak hanya Anda, anggota keluarga atau orang terdekat yang mendampingi juga akan diajukan pertanyaan terkait perilaku Anda

Setelahnya, dokter akan membandingkan catatan kesehatan Anda dengan panduan DSM-5 memberikan kriteria berikut untuk mendiagnosis DID:

  1. Terdapat dua atau lebih identitas atau keadaan kepribadian yang berbeda, masing-masing dengan pola persepsi, hubungan, dan pemikirannya sendiri yang relatif bertahan lama tentang lingkungan dan diri.
  2. Amnesia harus terjadi, didefinisikan sebagai kesenjangan dalam mengingat peristiwa sehari-hari, informasi pribadi yang penting, dan/atau peristiwa traumatis.
  3. Orang tersebut harus tertekan oleh gangguan atau mengalami kesulitan berfungsi dalam satu atau lebih bidang kehidupan utama karena gangguan tersebut.
  4. Gangguan tersebut bukan bagian dari praktik budaya atau agama yang normal.
  5. Gejala tidak dapat disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (seperti pingsan atau perilaku kacau selama keracunan alkohol) atau kondisi medis umum (seperti kejang parsial kompleks).

Kepribadian yang berbeda dapat melayani peran yang beragam dalam membantu individu mengatasi dilema kehidupan. Misalnya, ada rata-rata dua hingga empat kepribadian yang muncul saat pasien didiagnosis pertama kali. Lalu ada rata-rata 13 hingga 15 kepribadian yang dapat diketahui selama perawatan. Pemicu lingkungan atau peristiwa kehidupan menyebabkan perubahan tiba-tiba dari satu perubahan atau kepribadian ke yang lain.

PENGOBATAN DID

Meskipun tidak ada satu jenis obat khusus untuk mengobati DID, pengobatan mungkin berguna dalam mengelola suasana hati, kecemasan, dan gejala lain yang terjadi bersamaan.

Perawatan utama untuk DID melibatkan penggunaan berbagai pendekatan terapeutik. Beberapa bentuk, atau modalitas, yang telah terbukti efektif antara lain:

  1. Psikoterapi: Psikoterapi, atau terapi bicara, dapat membantu orang dengan DID memproses emosi dan mendapatkan kendali atas gejala mereka. Tujuan psikoterapi adalah untuk mengintegrasikan keadaan kepribadian yang terpisah ke dalam rasa diri yang lebih kohesif.
  2. Terapi Perilaku: Dua modalitas pengobatan perilaku yang ditemukan berhasil untuk orang dengan DID adalah terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi perilaku dialektik (DBT). Modalitas ini berfokus pada pikiran dan perilaku seseorang dan mengelola pengaruh yang menyedihkan dan luar biasa (perasaan, emosi, atau suasana hati)
  3. Hipnosis: Alih-alih digunakan untuk menggali ingatan yang tertekan pada orang dengan DID (seperti hipnosis secara historis dikenal), hipnosis dapat digunakan untuk membantu mengelola gejala seperti kilas balik dari gangguan stres pasca-trauma, atau PTSD
  4. Penggunaan obat: Tidak ada obat untuk mengobati sendiri gangguan disosiatif. Namun, orang dengan kondisi ini, terutama yang berkaitan dengan depresi dan atau gangguan kecemasan, dapat diresepkan obat antidepresan atau obat anticemas.
  5. Terapi tambahan. Terapi seperti terapi seni atau gerakan telah terbukti membantu orang terhubung dengan bagian pikiran mereka yang telah mereka tutup untuk mengatasi trauma.

SUMBER:

www.medicalnewstoday.com

my.clevelandclinic.org

www.webmd.com

hellosehat.com

www.verywellhealth.com

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *