Pada suatu malam yang sunyi di Mekah, ketika sebagian besar manusia telah terlelap, Rasulullah Muhammad SAW berada di dekat Ka’bah. Beliau duduk merenungkan keheningan malam, membawa beban dakwah yang semakin berat. Tahun-tahun sebelumnya telah dipenuhi duka: wafatnya Abu Thalib, sang pelindung, dan Khadijah, istri tercinta. Cobaan diThaif masih terasa perih. Tiba-tiba malam yang gelap itu diterangi cahaya lembut. Seorang malaikat tampak hadir bukan malaikat yang asing bagi Rasulullah, tetapi Jibril, sosok yang setiap wahyu turunkan dari langit. “Wahai Muhammad,” ujar Jibril dengan suara yang menenangkan, “Bersiaplah. Malam ini engkau akan diperjalankan oleh Tuhanmu.” Rasulullah berdiri. Pada saat itulah, tampak seekor makhluk putih yang indah, lebih kecil dari kuda namun lebih besar daripada keledai. Makhluk itu bersayap, dan setiap langkahnya mencapai sejauh mata memandang. Itulah Buraq. “Naiklah,” kata Jibril. Rasulullah meletakkan telapak kakinya pada punggung Buraq. Buraq bergetar, namun Jibril menenangkannya. Buraq pun melesat menembus malam, begitu cepat namun begitu lembut sehingga Rasulullah merasakan kenyamanan luar biasa. Perjalanan itu menuju Masjid Al-Aqsa di Palestina, sebuah perjalanan yang biasanya memakan waktu berhari-hari, tetapi kini ditempuh hanya dalam sekejap. Saat Buraq berhenti, Rasulullah turun, mengikatnya pada cincin tempat para nabi mengikat hewan tunggangan mereka dahulu. Di dalam masjid, Rasulullah melihat para nabi berkumpul Ibrahim, Musa, Isa, Daud, Yusuf, Adam, Nuh dan banyak lagi. Mereka tersenyum, menyambut saudara mereka, penutup para nabi. Jibril berkata, “Wahai Muhammad, engkaulah imam mereka.” Rasulullah pun maju. Semua nabi berdiri dan mengikuti beliau dalam shalat. Selesai shalat, Jibril mendekat dan berbisik, “Kini, perjalanan ke langit dimulai.”
Mi’raj: Naik ke Langit Pertama sampai Ketujuh
- Langit Pertama Pintu langit terbuka, dan Rasulullah melihat sosok lelaki tampan, tinggi, dengan cahaya lembut pada wajahnya. “Ini adalah ayahmu, Adam,” kata Jibril. Adam mendekat, tersenyum penuh kasih. “Selamat datang wahai anakku yang saleh, selamat datang wahai nabi yang baik.” Rasulullah melihat di kiri Adam sekumpulan wajah muram dan di kanan wajahwajah cerah. “Itu adalah ruh keturunannya,” jelas Jibril, “yang bahagia dan sengsara.”
- Langit Kedua Kembali pintu diketuk dan dibuka. Di sana Rasulullah melihat dua pemuda tampan. “Itu Isa putra Maryam dan Yahya bin Zakariya,” ujar Jibril. Keduanya berkata, “Selamat datang, wahai saudara yang saleh, wahai nabi yang baik.”
- Langit Ketiga Di langit ketiga Rasulullah bertemu seorang nabi yang berwajah paling rupawan di antara manusia. “Dialah Yusuf,” kata Jibril. Yusuf tersenyum dan menyapa, “Selamat datang wahai nabi Allah.”
- Langit Keempat Di sini Rasulullah bertemu seorang lelaki serius, penuh wibawa. “Itu adalah Idris,” ujar Jibril, seraya mengutip firman Allah, ‘Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’ Idris menyambut, “Selamat datang wahai nabi yang saleh.”
- Langit Kelima Di langit ini tampak seorang lelaki tegap, wajahnya bersinar dengan ketegasan. “Itulah Harun,” kata Jibril. Harun berkata ramah, “Selamat datang, wahai saudara dan nabi yang mulia.”
- Langit Keenam Rasulullah melihat seorang lelaki yang tampak sedih, seolah memikul beban berat. “Inilah Musa,” jelas Jibril. Musa menatap Rasulullah dengan kasih dan berkata, “Selamat datang wahai nabi yang saleh.” Namun ketika Rasulullah melewatinya, Musa menangis. Jibril bertanya, “Mengapa engkau menangis?” “Karena umat seorang nabi yang diutus setelah aku lebih banyak yang masuk surga daripada umatku.”
- Langit Ketujuh Pintu terakhir terbuka, dan Rasulullah melihat sosok yang paling mirip dengannya. “Itu Ibrahim,” kata Jibril. Ibrahim duduk bersandar pada Baitul Ma’mur, tempat tawaf para malaikat. Setiap hari 70.000 malaikat masuk, dan tidak pernah kembali karena jumlahnya tak terhitung. Ibrahim berkata, “Sampaikan salamku kepada umatmu dan kabarkan bahwa surga itu tanahnya datar, dan tanamannya adalah Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar.”
Sidratul Muntaha dan Perintah Shalat
Perjalanan berlanjut hingga ke tempat yang disebut Sidratul Muntaha, sebuah pohon besar dengan warna yang tidak dapat digambarkan manusia. Rasulullah melihat pena-pena takdir menulis, mendengar suara halus sayap para malaikat. Kemudian Jibril berhenti. “Aku tidak bisa melewati batas ini,” katanya, “Jika aku melangkah satu ujung saja, aku akan terbakar oleh cahaya Tuhan.” Rasulullah maju sendiri. Di sana Allah memberikan wahyulangsung kepadanya: perintah shalat 50 waktu dalam sehari. Rasulullah pun turun kembali. Di langit keenam, Musa memanggilnya. “Apa yang Tuhanmu wajibkan atas umatmu?” “Shalat lima puluh kali sehari.” Musa berkata, “Umatmu tidak akan sanggup, karena aku telah menguji Bani Israil. Kembalilah dan mintalah keringanan.” Rasulullah kembali menghadap Allah. Kewajiban itu dikurangi. Musa menyuruhnya kembali lagi, dan Allah menguranginya lagi. Demikian terjadi berkali-kali, sampai shalat menjadi lima waktu, namun dengan ganjaran pahala lima puluh. Musa berkata lagi, “Mintalah keringanan lagi.” Rasulullah menjawab, “Aku sudah malu kepada Tuhanku. Cukuplah lima ini.”
Kembalinya Rasulullah ke Mekah
Setelah seluruh perjalanan yang luar biasa itu, Rasulullah tiba kembali di Mekah sebelum fajar. Ketika pagi datang, beliau menceritakan pengalaman itu kepada kaum Quraisy. Mereka menertawakan, mencemooh, bahkan sebagian orang yang mulai condong kepada Islam menjadi ragu. Namun Abu Bakar berkata tegas, “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka aku membenarkannya.” Sejak itulah ia diberi gelar Ash-Shiddiq.