SLEEP PARALYSIS : APAKAH BENAR DISEBABKAN OLEH TAK KASAT MATA?

Pernahkan anda tidak bisa menggerakkan badan anda saat anda masih tidur, anda merasa seolah anda melihat makhluk halus atau yang tak kasat mata berada diatas anda sehingga anda terjebak dalam tidur yang tidak nyaman.. apakah benar hal itu di sebabkan oleh roh. Apakah ada penjelasan ilmiah tentang peristiwa tersebut?

OVERVIEW SLEEP PARALYSIS
Selama berabad-abad, gejala sleep paralysis telah dijelaskan dalam banyak cara dan sering dikaitkan dengan kehadiran roh “jahat” seperti setan malam yang tak terlihat di zaman kuno, wanita tua atau penyihir di Romeo dan Juliet karya Shakespeare, dan penculik alien. Hampir setiap budaya sepanjang sejarah memiliki cerita tentang makhluk jahat bayangan yang menakuti manusia tak berdaya di malam hari. Orang-orang telah lama mencari penjelasan untuk kelumpuhan waktu tidur yang misterius ini dan perasaan teror yang menyertainya.

Sleep paralysis adalah suatu kondisi yang diidentifikasi oleh hilangnya kontrol otot secara singkat, yang dikenal sebagai atonia, yang terjadi tepat setelah tertidur atau bangun. Selain atonia, orang sering mengalami halusinasi selama episode sleep paralysis.

Sleep paralysis dikategorikan sebagai jenis parasomnia. Parasomnia adalah perilaku abnormal saat tidur. Karena terhubung dengan tahap rapid eye movement (REM) dari siklus tidur, sleep paralysis dianggap sebagai parasomnia REM.

Tidur REM standar melibatkan mimpi yang jelas serta atonia, yang membantu mencegah tindakan mimpi. Namun, dalam keadaan normal, atonia berakhir saat bangun tidur, sehingga seseorang tidak pernah menyadari ketidakmampuannya untuk bergerak.

Peneliti tidur menyimpulkan bahwa, dalam banyak kasus, sleep paralysis hanyalah tanda bahwa tubuh Anda tidak bergerak dengan lancar melalui tahapan tidur. Jarang sleep paralysis terkait dengan masalah kejiwaan yang mendasarinya. para peneliti percaya bahwa sleep paralysis melibatkan keadaan campuran kesadaran yang memadukan antara terjaga dan tidur REM. Akibatnya, atonia dan gambaran mental dari tidur REM tampaknya bertahan bahkan dalam keadaan sadar dan terjaga.

TIPE HALUSINASI DALAM SLEEP PARALYSIS
Halusinasi selama sleep paralysis terbagi dalam tiga kategori:
• Halusinasi penyusup, yang melibatkan persepsi orang berbahaya atau kehadiran di dalam ruangan. Dalam hal ini seseorang akan merasa ia dalam bahaya karena kehadiran seseorang yang asing yang tiba-tiba saja muncul
• Halusinasi tekanan dada, juga disebut halusinasi inkubus, yang dapat memicu perasaan mati lemas. Ini sering terjadi bersama dengan halusinasi penyusup.
• Halusinasi motorik vestibular (V-M), yang dapat mencakup perasaan bergerak (seperti terbang) atau sensasi di luar tubuh.
• Halusinasi pendengaran, pengalaman halusinasi pendengaran pada sleep paralysis dapat berkisar dari yang rutin hingga yang aneh. Banyak orang mendengar berbagai suara. Hal ini paling umum bagi orang untuk mendengar suara-suara. Bahasa yang digunakan mungkin terkesan asing. Mungkin ada persepsi berbisik, berteriak, dan tertawa.
• Halusinasi Taktil, Salah satu fenomena kelumpuhan tidur yang paling sering dilaporkan adalah halusinasi taktil, pengalaman disentuh saat Anda tidak disentuh. Banyak orang menggambarkan perasaan tekanan atau kontak, sering merasa seolah-olah sesuatu (atau seseorang) menahan mereka.
• Halusinasi Penciuman, Halusinasi yang paling tidak umum dalam kelumpuhan tidur adalah yang bersifat penciuman, berkaitan dengan indera penciuman Anda. Seperti jenis halusinasi lainnya, Anda dapat membayangkan berbagai kemungkinan bau yang dibayangkan yang mungkin Anda alami.

PENYEBAB SLEEP PARALYSIS
Pertama, penting untuk memahami apa yang diwakili oleh sleep paralysis. Dalam istilah sederhana, sleep paralysis adalah kehadiran atau kegigihan fitur tidur gerakan mata cepat (REM) selama transisi ke atau keluar dari tidur.

Ini mungkin terjadi ketika Anda pertama kali tertidur (hypnagogic) atau ketika Anda bangun (hypnopompic). Diperkirakan terjadi pada sekitar 20% orang sehat. Kebanyakan orang hanya mengalami sleep paralysis, tetapi juga dapat terjadi dengan gejala lain sebagai bagian dari narkolepsi.

Selama REM, pikiran Anda aktif dan Anda mungkin membayangkan dengan jelas pemandangan, suara, dan perasaan lain sebagai bagian dari mimpi. Anda bahkan mungkin takut, seperti yang Anda lakukan dalam mimpi buruk.

Pada saat yang sama, tubuh Anda lumpuh sehingga Anda tidak mewujudkan mimpi Anda (ini disebut atonia otot). Ketika fitur ini terjadi saat terjaga, Anda akan mengalami sleep paralysis.

Tidak jelas mengapa sleep paralysis bisa terjadi tetapi telah dikaitkan dengan:
1. insomnia
2. pola tidur yang terganggu – misalnya, karena kerja shift atau jet lag
3. narkolepsi – kondisi jangka panjang yang menyebabkan seseorang tiba-tiba tertidur
4. gangguan stres pascatrauma (PTSD)
5. gangguan kecemasan umum
6. gangguan panik
7. riwayat keluarga sleep paralysis

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SLEEP PARALYSIS
Sediknyanya sebanyak 4 dari setiap 10 orang mungkin mengalami sleep paralysis. Kondisi umum ini sering kali pertama kali diperhatikan pada masa remaja. Baik pria dan wanita dari segala usia pasti pernah mengalaminya. Sleep paralysis dapat terjadi dalam keluarga. Faktor lain yang mungkin terkait dengan sleep paralysis meliputi:
1. Kurang tidur
2. Jadwal tidur yang berubah
3. Kondisi mental seperti stres atau gangguan bipolar
4. Tidur telentang
5. Masalah tidur lainnya seperti narkolepsi atau kram kaki malam hari
6. Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti untuk ADHD
7. Penyalahgunaan zat

GEJALA SLEEP PARALYSIS
Kelumpuhan tidur bukanlah keadaan darurat medis. Mengenali gejalanya dapat memberikan ketenangan pikiran.

Karakteristik paling umum dari episode kelumpuhan tidur adalah ketidakmampuan untuk bergerak atau berbicara. Sebuah episode dapat berlangsung selama beberapa detik hingga sekitar 2 menit.

Anda mungkin juga mengalami:
• merasa seolah-olah ada sesuatu yang mendorong Anda ke bawah
• merasa seperti seseorang atau sesuatu ada di dalam ruangan
• merasa takut
• pengalaman hypnagogic and hypnopompic (HHEs), yang digambarkan sebagai halusinasi selama, tepat sebelum, atau setelah tidur
• Merasakan tekanan di dada
• Mengalami kesulitan bernapas
• Merasa seolah-olah kematian mendekat
• Berkeringat
• Sakit kepala
• Nyeri otot
• paranoid
Gejala ketindihan bisa terjadi selama beberapa detik hingga beberapa menit. Penderita akan kembali dapat bergerak dan berbicara seperti biasa setelahnya, tapi rasa cemas dan ketakutan untuk kembali tidur mungkin terus berlanjut.

Sleep paralysis umumnya tidak termasuk sebagai kondisi medis. Tapi jika kondisi ini sudah mengganggu rutinitas seseorang, konsultasi ke dokter mungkin diperlukan.Dokter dapat melakukan langkah-langkah pemeriksaan di bawah ini untuk menentukan diagnosis sleep paralysis:
• Tanya jawab
Dokter akan menanyakan hal-hal berikut: durasi dan frekuensi ketindihan, riwayat medis pasien maupun keluarga, serta penggunaan obat-obatan.
• Polysomnogram
Polysomnogram atau sleep study diperlukan untuk mengumpulkan data tidur pasien agar bisa dianalisis. Metode ini dilakukan dengan mencatat gelombang otak, detak jantung, dan pernapasan pasien selama tidur.
• Elektromiogram (EMG)
Elektromiogram (EMG) akan menunjukkan aktivitas listrik di dalam otak pasien. Jika aktivitasnya sangat rendah, pasien kemungkinan besar mengalami ketindihan.
• Multiple sleep latency test (MSLT)
Metode MSLT bertujuan mengetahui seberapa cepat pasien bisa tidur siang. Kondisi ini dapat membantu dalam menunjukkan jenis tidur sekaligus ada tidaknya gejala narkolepsi.

PENANGANAN SLEEP PARALYSIS
Pengobatan Sleep Paralysis seringkali terbatas pada edukasi tentang fase-fase tidur dan atonia yang biasanya terjadi saat orang tidur. Jika episode terus berlanjut, spesialis tidur dapat mengevaluasi narkolepsi, yang biasanya terjadi pada mereka yang menderita sleep paralysis.

Penanganan yang dilakukan pada situasi tersebut dapat mencakup:
• Memperbaiki pola tidur, seperti memastikan bahwa seseorang mendapatkan waktu tidur sekitar enam hingga delapan jam setiap harinya
• Mengatasi masalah kesehatan jiwa lain yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya
• Menangani gangguan tidur lain yang dapat terjadi, seperti narkolepsi atau kram kaki pada saat terbangun dari tidur
• Dokter dapat meresepkan obat-obatan tertentu untuk meregulasi pola tidur

Sumber:
www.klikdokter.com
www.verywellhealth.com
www.webmd.com
www.halodoc.com
www.nhs.uk
www.sleepfoundation.org
stanfordhealthcare.org
www.healthline.com
www.medicalnewstoday.com
www.sehatq.com

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *