FENOMENA MUDIK DALAM ILMU SOSIAL
Budaya khas yang dimiliki masyarakat Indonesia, khususnya pulau Jawa yang menarik untuk diapresiasi adalah adanya sebuah tradisi mudik lebaran (Daniar & Rindawati, 2022; Fuad, 2011; Herawati, 2015). Kata istilah mudik merupakan istilah yang berasal dari kata “Udik” artinya kampung dan kata “Udik” tersebut mendapat tambahan awalan “m” kemudian artinya menjadi pulang kampung. Tradisi mudik lebaran dilakukan masyarakat Indonesia pada saat perayaan hari raya umat muslim atau Idul Fitri yang bertepatan pada tanggal 1 Syawal. Mudik lebaran ini sebuah budaya yang dilakukan masyarakat Indonesia. Mudik lebaran adalah fenomena sosio-kultural yang menjadi darah daging manusia Indonesia (Arribathi & Aini, 2018; Mulyani, 2022). Tradisi mudik lebaran yang dilakukan setiap tahun sekali membuat masyarakat Indonesia menunggu momentum ini. Masyarakat perantauan akan pulang ke kampung halamannya untuk bertemu sanak saudaranya. Adanya mudik lebaran ini sebenarnya terkait erat dengan sistem kekerabatan yang melihat keluarga sebagai keluarga luas, jadi tidak heran jika mudik lebaran ini akan diselenggarakannya pertemuan yang akan melibatkan keluarga besar. Tradisi mudik lebaran menjadi hal yang berkesan bagi umat muslim pada saat hari raya Idul Fitri tiba. Terdapat tujuan masyarakat Indonesia muslim yang melakukan tradisi mudik lebaran tersebut, tujuan tersebut sebagai berikut.
Melepas Kerinduan
Tradisi mudik lebaran menjadi sebuah kesempatan bagi masyarakat Indonesia yang merantau karena alasan untuk memperbaiki perekonomian maupun yang lainnya untuk dapat berkumpul kembali dengan keluarga di kampung halaman. Masyarakat Indonesia yang berada di perantauan jarang bertemu dengan keluarganya maka pada saat momen mudik lebaran ini para perantau akan dapat melepas kerinduannya dengan keluarga maupun sanak sanak saudaranya.
Ajang Mempererat Tali Silaturahmi
Mudik lebaran yang menjadi ajang untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan atas segala kesalahan yang pernah dilakukan keluarga maupun teman-teman yang ada di kampung halaman (Karimullah, 2021). Pada saat mudik dapat dipastikan nantinya akan bertemu saudara-saudara dan teman-teman jauh, pertemuan dengan saudara-saudara dan teman-teman tersebut akan mempererat tali silaturahmi dan juga bisa menjaga persaudaraan dengan keluarga besar di kampung halaman
Nostalgia Kampung Halaman
Arti dari kata istilah nostalgia berasal dari kata “nost” yang berarti pulang ke rumah dan “algia” yang berarti kondisi menyakitkan, hal tersebut mengacu pada kerinduan yang teramat dalam untuk lingkungan yang akrab pada suatu waktu. Mudik lebaran menjadi salah satu ajang untuk bernostalgia ke kampung halaman, seperti mengingat kembali kenangan masa kecil yang dilakukan pada saat di kampung halaman.
Unjuk Kesuksesan
Para perantau yang rela meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kesuksesan di kota agar memperbaiki perekonomian keluarga. Setelah perantau tersebut mudik lebaran, kemudian tak jarang para perantau akan menceritakan keberhaasilan atau kesuksesannya di kota kepada sanak saudaranya. Unjuk kesuksesan juga sebagai motivasi kepada saudara yang lain untuk dapat meraih keberhasilan.
Rekreasi Keluarga
Setelah penat melakukan segala aktivitas pekerjaan di kota, mudik lebaran ini bisa menjadi rekreasi keluarga untuk sejenak melepaskan kepenatan hiruk pikuk ramainya perkotaan. Saat mudik lebaran, di kampung halaman menjadi alternatif untuk beristirahat dan merecharge kembali tenaga, sebelum kembali beraktivitas di perkotaan.
Pandangan Ilmu Sosiologi terhadap Fenomena Mudik
Mudik merupakan suatu fenomena sosial yang terjadi dan melibatkan masyarakat banyak. Mudik ini adalah suatu istilah yang diberikan kepada sekelompok masyarakat yang melakukan kegiatan “pulang kampung” di mana mereka yang tinggal di kota-kota besar untuk mencari pekerjaan maupun alasan lainnya berbondong-bondong pulang ke rumah mereka di kota yang lebih kecil atau desa. Kegiatan mudik ini biasa dilakukan oleh masyarakat menjelang hari raya Idul Fitri.
pemerintah. Masyarakat terlihat sangat antusias di kegiatan mudik tahun ini. Dikaji dengan kacamata ilmu sosiologi, mudik ini berkaitan dengan proses interaksi sosial masyarakat. Masyarakat memiliki tujuan untuk bertemu dengan keluarga di rumah dan juga melakukan silaturahmi kepada keluarga dan tetangga di kampung mereka. Dengan mudik ini, masyarakat dapat menjalin interaksi dan membentuk pola interaksi sosial antara satu sama lain, dikarenakan ketika sebuah komunikasi terjalin maka akan memberikan sebuah reaksi terhadap hal yang ingin disampaikan. Dalam makna sosio-kultural, dijelaskan bahwa terdapat keluarga inti dan keluarga besar. Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu, dan anak, sedangkan keluarga besar merupakan suatu garis keturunan kurang dari atau lebih dari tiga tingkatan dalam silsilah suatu keluarga. Masyarakat Indonesia memandang bahwa tidak lengkap rasanya jika tidak berkumpul bersama keluarga besar ketika hari raya. Oleh karena itu terjadilah mudik yang akan mendorong terjadinya interaksi sosial antar individu maupun masyarakat. Menurut para ahli sosiolog, keinginan manusia atau individu untuk berkumpul bersama keluarga besarnya di saat acara-acara penting merupakan suatu kebutuhan dasar bagi manusia, tentu saja manusia secara alamiah akan memiliki ikatan dengan keluarganya. Mudik juga akan menguatkan solidaritas organik masyarakat. Ketika masyarakat sebelum dan sesudah hari raya kadang sibuk dengan urusan masing-masing yang bisa saling melupakan silaturahmi antar sesama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mudik jika dipandang dengan ilmu sosiologi merupakan suatu kegiatan yang didalamnya akan mendorong terjadinya interaksi sosial antar individu dan masyarakat yang juga akan mendorong terjalinnya solidaritas organik.
Makna Mudik dalam Perspektif Sosiologi
Mudik menjadi tradisi yang sudah menjadi adat istiadat masyarakat di Indonesia dan bukan hanya sekedar kebiasaan. Ada satu hal unik mengenai mudik yang bisa dikaji secara sosiologis, yaitu meskipun kemajuan teknologi saat ini semakin berkembang namun itu tidak berpengaruh kepada aktivitas masyarakat untuk mudik terutama saat hari raya, salah satunya seperti hari raya Idul Fitri. Meskipun dengan internet masyarakat bisa dengan mudah berkomunikasi dengan keluarga tanpa harus bertemu secara langsung, namun mudik tetap menjadi pilihan terbaik untuk bertemu keluarga.
Secara sosiologis para pemudik bisa dikatakan sebagai aktor sosial yang membangun sistem sosialnya sendiri. Fakta yang bisa kita lihat di lapangan yaitu pemerintah daerah yang mulai memperbaiki sarana penunjang kelancaran masyarakat untuk mudik, contohnya seperti jalan, tempat wisata, tempat peristirahatan, dan lain-lain. Adapun para pemudik ini akan disambut oleh pemerintah lokal, karena mereka dianggap sebagai pahlawan kampung halaman. Hal ini dikarenakan mereka yang sedang merantau di kota ataupun yang sedang mudik ke kampung menahan diri untuk tidak pulang kampung dan memilih saat menjelang lebaran atau sesaat setelahnya akan berpotensi untuk mengalirkan sumber daya yang dimilikinya. Yang bisa berupa kebutuhan rutin sampai dengan kegiatan untuk berbagi kepada sanak saudara dan para tetangga. Terjadinya mudik juga memberikan dampak negatif. Mudik identik dengan perjalanan yang panjang dan lama. Dengan mayoritas masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi menyebabkan kemacetan di jalan raya, ditambah lagi dengan melonjaknya pemudik Tahun 2022 membuat kemacetan semakin parah. Sedikitnya ada tiga faktor penyebab yang membuat masyarakat tidak menggunakan transportasi. Pertama, transportasi umum tidak menjangkau sampai ke pelosok desa, adanya stasiun ataupun terminal pada umumnya selalu ada di kota yang mungkin masih jauh dari tempat tinggal pemudik. Kedua, keterbatasan tiket dan waktu keberangkatan. Mayoritas pemudik yang merupakan pekerja ataupun karyawan memiliki waktu libur yang hampir sama yaitu saat mendekati hari H. Sementara ketersediaan saat mendekati hari H juga terbatas. Faktor yang ketiga adalah para pemudik yang cenderung memiliki keinginan untuk memberitahu kepada keluarga atau para tetangga bahwa mereka telah sukses di perantauan
sumber:
journal-fis.um.ac.id
Jurnal Praksis dan Dedikasi (JPDS)