Hikmah Covid-19

Penulis
Pitriana, S. Pd., M. Pd, Bambang Kartiman, Warno, M.Pd, S. Kuncoko Weni, Semuel, Dina Ediana, Agung Adha Witasa Dewana, Mercy Monica Yolanda, S.H.,CCD.,C.PS, Setiawan Shaputra, Erli Saputra, S.Pd.I, M.Ag, Lestari, Hj. Nurhidayah,S.Ag.,M.Pd, Afiffudin khalim Nur Adkha, Dewi Sri, SE., S.Pd.Ing, M.Si.,Ak.,CA, Imank Alisandra, Endang Sundari, Gojali, Heru Oktavianto, Suhandi, Rosnila Hura, Anisa Rahmadina, Immanuel Yosua T.
Tak Ada yang Lebih Penting dari ‘Sehat’

Oleh: Pitriana, S. Pd., M. Pd

Pandemi covid-19 mengajarkan kita untuk selalu menjaga kesehatan, kebersihan, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ayah saya, yang kami panggil dengan sebutan ‘tetta’ (panggilan ayah di suku Makassar) pensiun di tahun 2013. Yah, kita semua tahu jika guru mencapai akhir masa tugasnya di umur 60 tahun. Desember 2013 Tetta sudah genap berusia 60 tahun. Alhamdulillah bisa pensiun dalam keadaan masih sehat wal’afiat. Setelah pensiun, aktivitas tetta sehari-hari hanyalah mengantar jemput mama ke sekolah. Selain menjalankan tugasnya sebagai kepala RW yang disegani oleh masyarakat. Mama saya juga adalah seorang guru.
Tahun demi tahun dilewati tanpa terasa. Hingga pada akhir tahun 2017, tetta mulai batuk. Awalnya kami tidak terlalu khawatir, karena kami pikir itu hanya karena cuaca Malino (salah satu kelurahan di dataran tinggi Kabupaten Gowa) sangat dingin saat itu. Makin hari, batuknya makin parah dan tak kunjung sembuh walau tetta sudah berobat. Batuk itu, kemudian diikuti oleh sesak nafas. Tetta yang sejak dulu tak pernah sakit seperti ini tetap tidak mau dibawa ke rumah sakit. Ia memang agak ngeri membayangkan jarum suntik. Sejak dulu jika terkena flu atau sakit kepala, ia lebih memilih membeli obat di warung.
Tetta memang punya sejarah kelam tentang rokok dan minuman sejak ia masih muda. Tetapi, seiring dewasanya semua anak-anaknya, ia mulai meninggalkan kebiasaan buruknya, kecuali rokok. Sampai pensiun pun ia masih tidak bisa terpisah dengan rokoknya.
Beberapa hari diserang batuk parah dan sesak, akhirnya tetta menyerah. Ia sendiri yang meminta kami untuk membawanya ke rumah sakit. Tentu saja kami sangat khawatir saat itu. Karena memang tetta sudah sangat sesak. Berbaring tidak bisa, duduk tegak pun susah. Ia hanya bisa duduk membungkuk dan menyuruh kami untuk mengelus-elus punggungnya. Perjalanan dari Malino hingga ke kota Makassar kurang lebih dua jam jika jalan tidak macet. Selama perjalanan tetta terus mengeluh dan ingin buru-buru sampai di rumah sakit. Kami makin khawatir, sampai di rumah sakit dokter langsung menangani tetta dengan periksa jantung dan memasangkan oksigen. Kami memang sengaja membawa tetta ke rumah sakit yang penangannya cepat, tanpa harus banyak tanya. atau mencari ini itu. Saya melihat mama dengan wajah layu berdiri di samping tempat tidur tetta di sudut ruang gawat darurat berharap tetta segera membaik setelah ditangani dokter.
Dokter mengatakan tetta harus dirawat karena membutuhkan oksigen. Segera kakak tertua saya ke bagian administrasi untuk mendaftarkan pasien dan mencari kamar kosong. Alhamdulillah masih ada kamar VIP yang kosong. Sengaja mencari kamar VIP agar tetta bisa istirahat dengan tenang. Keluarga yang menjenguk pun tidak bercampur dengan keluarga pasien lain.
Dengan berada di rumah sakit, bukan berarti tetta bisa merasa lebih baik. Walau di hidungnya terpasang selang oksigen, namun tidak mengurangi sesaknya. Ia pun harus tidur dengan posisi duduk memeluk bantal yang bersandar di tempat tidurnya. Sesekali petugas datang memasangkan nebulizer (alat uap pernapasan) untuk meringankan sesak dan mengencerkan dahaknya. Kami yang menemani tetta harus bergantian mengusap-usap punggungnya agar ia bisa tertidur walau sekejap. Sampai suatu waktu tetta seperti tidak sadar, sampai BAB pun ia tidak merasakannya. Saat membersihkan popoknya, kami semua menangis karena saat itu kami kira tetta akan meninggalkan kami. Ia sudah tak berdaya sampai tak merasakan kami bolak balik badannya untuk membersihkan popoknya. Malam itu tak ada satupun dari kami yang bisa memejamkan mata. Kami harus terus mengawasi tetta. Namun setelah dirawat selama seminggu lebih, keadaannya membaik. Alhamdulillah. Dokter menyarankan agar tetta tidak tinggal di Malino untuk sementara waktu karena suhu di Malino memang dingin. Namun mau bagaimana lagi, mama harus menjalankan tugasnya sebagai ASN.
Di akhir tahun 2018, tetta drop lagi dan harus dilarikan ke rumah sakit. Setiap musim hujan, tetta memang selalu drop karena suhu di Malino lebih dingin saat musim hujan. Lagi-lagi tetta dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Tapi alhamdulillah tidak separah saat pertama kali dirawat. Tahun 2019, keadaan keuangan sedang sulit, tetta mencoba berhenti mengkonsumsi obat dokter dan beralih ke obat-obatan herbal. Alhamdulillah selama setahun ini tetta tidak pernah lagi drop separah saat pertama ke rumah sakit. Walau sesekali merasa sangat sesak.
Maret 2020, di Indonesia mulai mewabah virus corona. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di semua wilayah diberlakukan. Semua aktivitas dibatasi dan yang bekerja dihimbau untuk bekerja dari rumah. Sejak itu, kami sangat menjaga aktivitas dan lingkungan tetta. Membatasi ia bertemu dengan orang-orang. Karena penyakitnya sangat rentan terkena covid-19. Kami sangat bersyukur selama pandemi, tetta tidak pernah drop walau caranya bernafas sudah tak pernah normal lagi. Selama berbulan-bulan belakangan ini, kami semua jadi punya lebih banyak waktu untuk keluarga karena semua bekerja dari rumah. Semoga pandemi covid-19 segera berlalu. Aamiin.

Hikmah Covid-19 di Tempat Kerja

Oleh : Bambang Kartiman

Beberapa pekerja dikontruksi bangunan tinggi serasa was-was mengenai berita tentang Covid-19, termasuk saya yang selalu bertanya dan mencari fakta kebenaran berita asal-usul Covid-19. Hal ini penting untuk antisipasi keberlangsungan periuk kami agar tidak terguling dengan kata lain “Dapur harus ngebul”. Kenyataanya, sampai saat ini belum juga ada kebenaran apakah asal-usul Covid-19 dari hewan kelalawar lalu masuk ke hewan tikus yang dijual bebas di Wuhan Cina? belum ada informasi akurat, saya saja bingung apalagi rekan kerja serta para pekerja yang sering bertanya “Kapan sih kondisi Covid-19 ini berakhir?” dalam hati saya, “Allah SWT yang tahu di langit dan di bumi.” Saya terdiam karena tidak bisa menjawab pertanyaan rekan kerja serta para kerja skill bangunan tinggi disalah satu kota segitiga emas Jakarta.
Sampai saat ini diproyek kontruksi bangunan tinggi para pekerja skill sudah mulai jenuh karena tiap pagi ditembaki pakai laser gun, harus pakai masker, cuci tangan, jaga jarak dan tidak boleh berkerumun. cek kondisi kesehatan mandiri sebelum masuk kerja, etika batuk, tidak berjabat tangan, yang biasanya kalau pagi pijit-pijit body sekarang ditiadakan. Namun, kegiatan senam seminggu sekali tetap ada, tetapi frekwensinya dikurangi. ada juga rekan kerja bekerja di rumah, supplay logistic juga ada kendala seperti telat, terutama material yang dibutuhkan, Namun, ada juga rekan yang dirumahkan dengan proporsi gaji sesuai keputusan dan kesepakatan. Bahkan, temanku namanya Teguh menjalankan isolasi mandiri nama sekarang “karantina mandiri” karena dari zona merah ke zona hijau sewaktu pulang kampung walau pun melewati jalan tikus karena main kucing-kucingan dengan aparat penegak hukum tapi bisa saja lolos sampai kampung. Dikampung tidak bisa lolos karena ada wajib lapor dari RT sampai ke Kepala Desa.
Namun, pada tahun 2020 atau saya sebut tahun Covid-19, ada hikmah atas terjadinya wabah Covid-19 ini seperti merubah mindset untuk selalu mendisiplinkan diri, ini dilakukan setiap berangkat kerja, saat bekerja, serta sampai kembali kerumah harus menerapkan Protokol kesehatan. Merubah pola pikir agar kita selalu bergaya hidup sehat setiap hari. Berkurangnya jumlah pekerja sampai 50%, bila ada pekerja baru wajib menyertakan surat Rapid Test.
Tak disangka transportasi darat bisa berhenti di kota Jakarta yang biasanya padat merayap bahkan jalan trotoar untuk pejalan kaki dirampas juga bagi pengendara motor, polusi udara bulan April sampai Juni 2020 berubah menjadi Sehat, saya bersyukur bisa menghirup udara segar di tengah kota Jakarta. Untuk partisipasi menyegarkan kota Jakarta saya berangkat kerja lebih baik memilih transportasi naik kereta api, walaupun lebih banyak berdiri karena kapasitas tempat duduk juga dikurangi 50% tapi asik selain bebas rokok di dalam udaranya pun dingin.
Karena pandemi Covid-19 yang berkepanjangan saya lebih paham memakai aplikasi zoom, meet zoom untuk ikut seminar online dan meeting online baik yang memakai HandPhone atau pun memakai laptop, rekan group bertambah, tidak hanya via WhatsApp Grup, Telegram juga bertambah. Berkat Aplikasi Telegram saya dapat banyak buku-buku bermutu yang dahulu saya pernah pinjam diperpustakaan kabupaten tempat saya tinggal. Sampai di galeri saya foto-foto isinya karena isinya sangat bagus ternyata saat ini didepan layar digital. Selain buku, ebook aku juga dapat materi dari dalam jaringan online seperti materi migas, dunia pertambangan, tak kalah juga dunia Konstruksi serta materi Keselamatan dan Kesehatan kerja sebagai bidang profesi aku bekerja (Health Safety and Environment). yang dahulu untuk mencari ilmu dunia safety sangat susah apalagi ikut seminar K-3 satu tahun paling banyak saya dapat sertifikat 2 lembar, sekarang tinggal kemauan dan niat.
Hikmah lain dari Covid-19 ini adalah belajar menahan ego dan selalu bersabar, adanya perubahan kebiasaan bekerja dengan pola tatanan baru seperti di kantor meja harus di kurang setengahnya di buat jarang-jarang, sirkulasi udara harus lancar, ruang meeting juga dibatasi, peserta meeting juga wajib memakai masker, cuci tangan menyediakan hand sanitizer. terdapat poster dan Standart Operational Prosedur (SOP) pencegahan virus yang selalu diupdate, bekas buangan masker juga harus dikendalikan dan tidak boleh dibuangan sembarang. Dari semua hikmah yang saya peroleh ada segi positif ada juga segi negatif dengan kata lain ada ancaman juga ada peluang. Segi negatif yakni tagihan pulsa bertambah, tagihan listrik juga ada kenaikan, kurang refresing karena tidak bisa jalan kemana-mana.
Yang paling tidak dilupakan hikmah Covid-19 adalah meningkatkan keimanan kita, karena kita banyak waktu untuk beribadah baik di kantor ataupun dirumah. Bagi umat muslim, semua yang terjadi di muka bumi tidak ada yang sia-sia. Semuanya ada hikmahnya. Dalam Islam, kehidupan kaum muslimin memang sangat menakjubkan. Ketika diberikan nikmat dia bersyukur, saat ditimpa musibah dia bersabar. Tak ada takdir yang sia-sia apalagi yang bersifat mudarat. Semuanya ada manfaat. Tinggal bagaimana manusianya yang berpikir atas semua kehendak-Nya. agar kita tetap husnudzon kepada Allah, dan jangan sekali-kali kita berpikir suudzon kepada-Nya.
Sepenggal kalimat yang selalu saya kenang untuk menjalankan aktifitas sehari-hari adalah sebagai berikut :
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.”
“ Jaga Kondisi Kesehatan dengan cukup istirahat, pola hidup bersih dan sehat.”
“Tingkatkan Skill, Atitude dan Pengetahuan selagi masih hidup”  

Di Balik Peti Jenazah Covid-19

Oleh: Warno, M.Pd.

Pada suatu malam setelah salat isya, aku duduk di serambi depan musala. Ku tengadahkan wajahku ke langit. Tak terlihat bintang bertebaran seperti biasanya. Rembulan pun menyembunyikan diri di balik awan hitam berarak-arakan. Tiba-tiba lamunanku buyar dengan mobil ambulans melintas di depanku. Mobil itu berjalan dengan menyalakan lampu merah berputar-putar menyilaukan mataku. Ditambah lagi, bunyi sirene meraung-raung membuat semua orang penasaran untuk melihatnya.
Di seberang jalan, Pak Yasin membuka pintu rumahnya dan melihat mobil ambulans yang lewat. Di dalam mobil itu tampak orang-orang memakai baju seperti astronot. Setelah mobil itu melintas, aku menghampiri Pak Yasin. “Rupa-rupanya ada yang meninggal ya, Pak?” tanyaku pada Pak Yasin yang masih memandangi lajunya mobil ambulans tadi.
“Ya, yang meninggal dunia itu Pak Supat. Dia dibawa ke rumah sakit tiga minggu yang lalu. Setelah dokter melakukan Swab Test, ternyata dia positif Covid-19,” kata Pak Yasin. “Lho, setahuku Pak Supat selalu pakai masker setiap hari, dan jarang bepergian, Pak,” sanggahku. Aku memang belum yakin kalau Pak Supat meninggal dunia karena Covid-19.
“Pada awalnya, Pak Supat mematuhi aturan pemerintah untuk melakukan protokol kesehatan. Namun, lama-lama hatinya memberontak. Dia tidak mau physical distancing, pakai masker, maupun cuci tangan. Pak Supat tidak percaya lagi adanya virus korona”. jelasnya.
“Ah, kita malah ghibah pada orang yang sudah mati. Bagaimana kalau kita ke tempat pemakamannya saja, Pak? Aku ingin tahu bagaimana prosesi pemakaman orang yang terkena Covid-19 itu,” ajakku kepada Pak Yasin.
“Apa kita diperbolehkan, kalau ikut ke pemakaman? Bukankah itu membahayakan diri kita juga?” kata Pak Yasin ragu-ragu. “Insya Allah tidak terjadi apa-apa, Pak. Kita tetap mematuhi protokol kesehatan,” kataku meyakinkan.
“Oke, baiklah kalau begitu, tapi aku membonceng sepeda motormu saja ya,” jawab Pak Yasin. Akhirnya, aku ambil sepeda motorku dan berboncengan menuju ke pemakaman umum. Hujan gerimis mengiringi perjalananku. Setelah sampai dekat tanjakan, Pak Yasin tidak tahan lagi menahan dinginnya air hujan yang membasahi tubuhnya.
“Kita berhenti dulu, Pak, hujan semakin deras, aku mau pakai mantel dulu,” pintanya. “Ya Pak, kita berhenti di gardu itu,” jawabku sambil mengarahkan motorku ke tepi jalan mendekati gardu yang diterangi lampu jalan. Kami berniat berteduh dahulu sambil menunggu hujan reda. Pada saat Pak Yasin selesai memakai mantel, terdengar suara mobil meraung-raung di atas jalan tanjakan. Aku ajak Pak Yasin melihatnya. Aku tinggalkan sepeda motorku lalu berjalan mendekati suara itu. Ternyata, mobil ambulans yang membawa jenazah Pak Supat selip dan tergelincir, hingga terperosok ke selokan dengan posisi miring.
“Alhamdulillah, masih tersangkut pohon randu sehingga tidak terguling,” gumamku. Seandainya tidak ada pohon randu itu, dapat dipastikan mobil ambulans terguling masuk selokan yang lebih dalam lagi.
“Pak, tolong geserkan peti ini biar tidak menghimpit kakiku!” pinta orang yang memakai baju hazmat yang kedua kakinya terjepit oleh peti jenazah kepadaku.
“Ya Pak, tunggu sebentar, saya panggilkan Pak Yasin untuk membantunya,” jawabku spontan. Selanjutnya, aku memanggil Pak Yasin yang tidak jauh dari aku berdiri, “Tolong ke sini dulu, Pak Yasin!”
“Ya pak, aku segera ke sana, setelah ini,” jawab Pak Yasin yang sedang membantu Pak Sopir keluar dari mobil. Aku, Pak Yasin, dan sopir membantu petugas pemakaman yang terjepit peti jenazah yang masih di dalam mobil. Kemudian kami geser peti jenazah ke arah kanan agar kedua petugas pemakaman itu bisa keluar.
“Astaghfirullahal adziim!” aku terkejut karena tiba-tiba peti jenazah meluncur keluar dari mobil dan jenazahnya terguling ke genangan air hujan. Kepanikan dan rasa kekhawatiranku mulai timbul karena jenazah ini terkena Covid-19.
“Ayo, segera kita angkat jenazah ini,” ajak petugas pemakaman itu. Beberapa orang membantu petugas pemakaman mengangkat jenazah dalam kondisi basah karena air hujan. Aku hanya melihatnya saja, tidak berani membantu mengangkatnya.

Pada saat jenazah diangkat, terbukalah kain kafannya. Aku keheranan melihat kain hijau kotak-kotak masih melekat di tubuh Pak Supat. Dalam hatiku bertanya-tanya, “Mengapa Pak Supat masih memakai sarung saat akan dimakamkan? Mengapa tidak dilepas? Apakah jenazah positif Covid-19 tidak perlu dimandikan?”
Tak lama kemudian, para petugas berbaju hazmat membetulkan kembali kain kafan Pak Supat yang terbuka. Selanjutnya, jenazah diangkat dan dimasukkan ke peti untuk dibawa ke mobil ambulans. Para petugas pemakaman dibantu warga berhasil menarik mobil dari selokan ke jalan raya. Mobil itu akhirnya bisa melanjutkan perjalanannya menuju ke makam. Aku dan Pak Yasin mengikuti dari belakangnya hingga sampai ke tempat pemakaman. Meskipun hujan rintik-rintik, pemakaman Pak Supat tetap dilaksanakan. Alhamdulillah, aku dapat menyaksikan prosesi pemakaman jenazah secara protokol kesehatan sampai selesai, meskipun menyisakan segudang pertanyaan di balik peti jenazah Covid-19 itu.

 
Hikmah Covid-19

Oleh: S. Kuncoko Weni

Saat itu merupakan hari-hari yang membuat pak Tommy dan istrinya tidak bisa menjalani kehidupannya dengan tenang. Putrinya yang berada di Zona merah membuat pak Tommy semakin gelisah. Setiap hari pak Tommy dan istrinya bergantian menelpon putrinya sekedar menanyakan persediaan bahan makanan, mengingatkan untuk selalu pakai masker, langsung mandi dan bajunya segera dicuci ketika dari luar juga seterusnya. Pokoknya protokol kesehatan wajib diterapkan. Suatu ketika putrinya mengabarkan bahwa ada mahasiswa yang pulang kerumah bertemu orang tuanya dan ternyata mahasiswa itu terpapar Covid-19 tapi dengan kondisi Orang Tanpa Gejala (OTG), yang mengakibatkan kedua orang tuanya tertular covid-19 dan meninggal. Akibat orang tuanya meninggal mahasiswa tersebut merasa menyesal dan sangat terpukul, akhirnya imun tubuhnya ngedrop dan kondisinya sangat lemah. Akhirnya iapun meninggal.
Pak Tommy dan Istrinya semakin gelisah, akhirnya istrinya mengusulkan bahwa putrinya suruh pulang saja.
“Maksud mama apa?” kata pak Tommy.
“Apa mama tidak berpikir? banyaknya orang ditemui yang kita tidak tau terdeteksinya virus selama di perjalanan. Kebersihan di tempat umum juga tidak bisa terjamin…” lanjut pak Tommy.
“Lalu gimana dong… di sana kan Zona merah pa…kalau sudah diumumkan lockdown sama pemerintah bagaimana putri kita? Mama takut kalau lockdownnya seperti di Wuhan, orang tidak bisa kemana-mana. ” kata istri pak Tommy.
“Papa… kemarin mama baca berita ada ibu-ibu yang tidak pernah kemana-mana tapi dia tertular virus covid-19 juga, gara-gara dia belanja sama tukang sayur, padahal sudah pakai masker, jaga jarak eh masih kena juga.” Lanjut istri pak Tommy dengan kegelisahannya yang membuat pak Tommy ikut gelisah.
Keesokan harinya pak Tommy duduk memikirkan antara putrinya harus bertahan di kosannya atau harus pulang. Kalau bertahan disana, tidak tau sampai kapan Virus corona ini berakhir, sedangkan di sana sudah di nyatakan Zona merah. Kalau pulang bagaimana cara pulangnya? transpotasi sudah mahal sedangkan keuangan keluarga pak Tommy tidak berlebih, situasi perjalanan jauh sangat penuh resiko. Pak Tommy terus mencoba mencari jalan keluar. Tiba-tiba handphonenya berbunyi yang membuyarkan lamunan pak Tommy, dan sontak pak Tommy menuju ke handphonenya, buru buru melihat siapa yang menelepon,
“ohh… ternyata pak Andre” gumam pak Tommy. Saat pak Tommy menjawab teleponnya
“Apa!, di rumah sakit?!..” teriak pak Tommy. istrinya yang baru datang dari dapur melihat reaksi pak Tommy dan mendengar kata rumah sakit, langsung menangis,
“Siapa yang masuk rumah sakit, siapa… siapa…?” tanya sang istri. Akhirnya pak Tommy mengakhiri percakapannya
“Nanti saya coba bicara sama istri saya dulu ya.” Kata pak Tommy menutup telepon. Dengan muka yang makin sedih dan bingung, akhirnya pak Tommy menjelaskan yang telepon tadi pak Andre, dia mau pinjam uang untuk orang tuanya yang masuk rumah sakit.
Pak Tommy terlihat tambah pusing karena uangnya mau dikirim keputrinya untuk pulang, dan untuk persediaan karena selama pandemi covid-19 penghasilannya berkurang. Akhirnya pak Tommy dan istrinya berunding, putrinya kalau pulang transpotasi dalam kondisi seperti ini tidaklah mudah, sedangkan keluarga pak Tommy juga harus punya simpanan untuk persiapaan selama pandemi. Akhirnya pak Tommy dan Istrinya ada kata sepakat untuk meminjamkan uangnya ke pak Andre karena menyelamatkan yang sudah sakit lebih penting. Siangnya pak Tommy kembali membicarakan putrinya,
“Jadi bagimana putri kita pa…?” kata istrinya penuh kecemasan.
“Ya sudah kita suruh pulang saja sendiri. Karena kalau kita jemput biaya juga makin banyak.” Ucap pak Tommy. Selanjutnya Pak Tommy berniat ambil Handphone, tapi tiba-tiba Handphonenya berbunyi, terlihat putri pak Tommy yang menelepon, segera ditanya kondisi di sana bagaimana,
“Papa.. teman-teman kostku sudah pada pulang dan ada rencana mau di lockdown karena sudah makin parah di sini…” ucap putri pak Tommy.
“Ya papa juga melihat beritanya seperti itu.” Kata pak Tommy berusaha bicara tenang.
“Makanya tadi papa mau telepon kamu untuk pulang saja. Sekarang kamu langsung liat info kereta yang ke Jakarta hari ini.” Lanjut Pak Tommy menjelaskan kepada anaknya.
“Ya aku tutup dulu teleponnya, nanti aku kabari lagi.” Ucap sang anak, sambil menutup telepon. Beberapa menit kemudian Handphone berdering lagi,
“Papa kereta hari ini dan besok sudah tidak ada lagi yang kosong tempat duduknya.” Ucap sang putri langsung. Kegelisahan pak Tommy dan istrinya makin terlihat di wajahnya. Akhirnya ditutuplah perbincangan itu. Istri pak Tommy matanya berkaca-kaca tapi mulutnya seperti orang yang bergumam. Ternyata istrinya sedang berdoa sambil meneteskan air mata karena sudah bingung harus bagaimana, mau menyusul uangnya tidak cukup dan tambah repot. Tiba tiba putrinya telepon kembali dan di bukalah speakernya oleh pak Tommy, maka terdengar jelas suara putrinya,
“Papa-papa…baru aku buka lagi ada yang batalin tapi sampai Jakarta jam 23.45 wib.” Ucap sang putri. Tanpa berfikir panjang,
“Ya sudah langsung booking dulu aja, uangnya gimana? papa kirimin ya? katanya kemaren habis?” tanya pak Tommy.
“Eh iya kemaren waktu rapi-rapi ternyata uangku yang pernah aku cari terselip dibuku 100 ribu ditambah sisanya didompet masih cukup. Jadi masih bisa di pakai buat tambahan.” Jawab sang Putri.
Mulai lega hati pak Tommy dan Istrinya. Akhirnya, Putri pak Tommy bisa pulang. Tetapi muncul lagi kekhawatiran bagaimana caranya supaya aman di sepanjang perjalanan, nasihat-nasihat terus disampaikan ke putrinya. Sepanjang perjalanan putrinya, pak Tommy dan istri tidak bisa tertidur menunggu sampai putrinya sampai. Sepanjang perjalanan pun pak Tommy dan istrinya menelepon berkali-kali menanyakan sudah sampai mana, sebentar-sebentar melihat jam, akhirnya jam menunjukkan pukul 22.30 wib pak Tommy mengeluarkan motornya yang sudah tua dan menuju stasiun. Sementara Istrinya sudah menyiapkan air hangat untuk mandi sang putri juga sabun dan air di teras untuk mencuci tangan dan kaki. Akhirnya pak Tommy dan putrinya sampai juga, semua peralatan yang di bawa disemprot dengan disinfektan. Setelah bersih masuk rumah dan langsung ke kamar mandi, semua baju yang di bawa direndam oleh istri pak Tommy.
Putrinya disediakan air garam untuk berkumur, selanjutnya minum air lemon dan madu, baru makan. Setelah makan dikasih tau harus tetap di kamar sendiri jangan banyak bicara dulu dan tetap pakai masker walaupun di rumah selama 3 hari. Akhirnya pak Tommy bisa merasa lega, walaupun dalam kondisi sulit pak Tommy masih mau dan bisa memberikan pertolongan orang lain, ternyata kesulitan-kesulitan yang dialami bisa diselesaikan dengan tanpa masalah.
 
Cerpen Hikmah dari Wabah Covid-19

Oleh: Semuel

  1. Pembelajaran Hikmah virus corona oleh Guru lewat Group WhatsApp (WA). Penulis adalah seorang Guru di SMP Negeri 7 Sigi.“Hai, teman-teman apa kabar semua?” sapaan dari Wati lewat WhatsApp (WA) kepada teman-teman sekelasnya yang tergabung dalam WA grup Kelas 8 B.Teman-teman yang lain membalas sapaan tersebut dengan jawaban, “Hai juga Wati, kabar baik dan salam sehat,” kata Rita . Si Budi berkata “Aku kangen sama teman-teman semua juga kepada Bapak dan Ibu Guru di Sekolah.” Lalu kata Iwan “Kenapa harus kita selalu berada di rumah?” “Ayo kita jalan-jalan ke luar rumah, bagaimana kawan-kawan?”. “Hus, sekarang ini kita tidak boleh keluar rumah,” kata Warni. “Mengapa kita tidak boleh keluar rumah,” kata Joni. Warni menjawab “Karena sekarang ini ada virus yang sangat ditakuti orang.”Tiba-tiba ada suara yang menyahut , “Apa kalian sedang membicarakan tentang Virus Corona?” kata Budi. “Benar Bud” kata Wati. “Kalian mau tahu apa itu virus corona?” tanya Budi, semua menjawab lewat grup whatsapp “iya saya mau tahu,” “Okey kalau begitu saya mencoba menjelaskannya bahwa virus corona adalah virus ganas yang berasal dari kota Wuhan Cina, penyebab infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu dan lebih ngerinya lagi sampai saat ini belum ada vaksin yang dapat menangkalnya, sehingga jumlah kematian gara-gara kau Virus Corono semakin bertambah di Dunia.” Budi melanjutkan ceritanya, makanya kita harus waspada agar kita tidak tertular virus corona ini.“Bagaimana caranya agar kita bisa terhindar dari virus corona yang mematikan ini?” Sahut teman-teman yang lain.
    “Begini teman-teman caranya agar kita terhindar dari virus corona yang menakutkan itu.” kata Arni :
    “Kita harus belajar dan melakukan kegiatan dirumah saja.” Benar kata arni, “kita tidak boleh keluar rumah kalau tidak terlalu penting, agar kita tidak tertular virus corona” lanjut yang harus kita lakukan yaitu :
    “Jangan menyentuh benda-benda yang sering disentuh oleh orang lain.” “Nah, tahukah teman-teman benda-benda yang sering disentuh orang?” kata Leni. “Menurut saya benda-benda itu adalah : gagang pintu, ponsel dll.” “Benar kawan” setuju, yang berikutnya adalah :
    “Kita harus selalu menggunakan masker, agar virus tidak masuk kedalam tubuh kita, karena virus ini masuk lewat mulut dan hidung kita,” kata Amos, lanjut yang lainnya.
    “Jaga jarak dengan orang yang ada disekitar kita, agar virus corona tidak menular bagi kita,” jawab Wati.
    “Sering cuci tangan diair yang mengalir dan menggunakan cairan anti septik,” kata Ali. Disambut dengan acuan jempol oleh temannya yang lain.
    “Makan makanan yang sehat, agar tubuh kita kuat dan punya imun yang tinggi,” kata Nober. Jadi anak-anak sudah tahu semua apa itu virus corona dan bagaimana cara menhindarinya, sekarang simak baik baik apa yang Bapak sampaikan tentang virus corona ini.

1. Apakah Corona Virus dan COVID-19 itu?
Corona virus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Corona virus jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa muncul di Wuhan Cina, pada Desember 2019, kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2), dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (COVID-19).
2. Apa saja gejala COVID-19?
Gejala umum berupa demam ≥380C, batuk kering, dan sesak napas. Jika ada orang yang dalam 14 hari sebelum muncul gejala tersebut pernah melakukan perjalanan ke negara terjangkit, atau pernah merawat/kontak erat dengan penderita COVID-19, maka terhadap orang tersebut akan dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut untuk memastikan diagnosisnya.
3. Apakah sudah ada vaksin untuk COVID-19?
Vaksin untuk mencegah infeksi COVID-19 sedang dalam tahap pengembangan/uji coba. Anak-anak, Karena Virus ini sangat berbahaya maka selama masa pandemik covid 19 ini pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk belajar dari rumah atau biasa disebut dengan sistem daring. Hal ini dilakukan guna mencegah penyebaran virus covid 19 dengan mengurangi interaksi sosial di luar rumah”.
“Anak-anak kalian semua sudah tahu tentang virus corona, cara penularannya serta bagaimana cara pencegahan penyakit yang disebabkan virus itu . Nah, sekarang siapa yang bisa menyampaikan hikmah dari wabah virus corona ini .
“Saya bapak,” kata Wati. “Hikmah yang bisa kita ambil dari terjadinya wabah virus corona ini kita banyak waktu bersama Ayah,Ibu, Kakak, adik dan saudara-saudara di rumah, sehingga waktu dirumah kita manfaatkan untuk belajar bersama ayah dan ibu, bantu ibu memasak, bernyanyi bersama, beribadah bersama, belajar memanfaatkan teknologi pembelajaran dengan android”.
“Ya, anak-anak itu pendapat temanmu Wati!” “bagaimana yang lain?. “Saya sependapat”. “saya juga pak sependapat” jawab yang lainnya. Jadi, semua sudah mengerti bahwa dengan adanya wabah virus corona, ada juga hikmah yang bisa kita ambil di dalamnya, seperti yang kalian sudah sebutkan, nah sekarang bapak ingin merangkum hikmah yang bisa kita jadikan pelajaran dalam hidup kita sebagai berikut :
HIKMAH
1. “Belajar dari rumah dengan ditemani oleh orang tua kita.” 2. “Kita punya waktu untuk membantu orang tua dan Belajar masak sendiri.” 3. “Kesadaran kita untuk lebih mementingkan kesehatan semakin baik.” 4. “Berkurangnya kemacetan di kota besar.” 5. “Meningkatnya jiwa sosial masyarakat (memberi secara individual dan gotong royong).” 6. “Memanfaatkan teknologi (Hp, Zoom, dll). Belajar, Ibadah, dll.” 7. “Berkumpul dengan Keluarga.” 8. “Orang mendekatkan diri dengan sang pencipta (berdoa dan berzikir).” 9. “Kesadaran akan kebersihan diri dan lingkungan di masyarakat.” 10. “Kesabaran orang semakin meningkat.”
Demikianlah anak-anak, cerita tentang hikmah dari adanya wabah virus corona ini , semoga kita semua tetap sehat dan terhindar dari wabah virus corona yang menakutkan ini, kalian harus tetap ingat : 1. “Selalu mencuci tangan.” 2. “Pakai masker.” 3. “Jaga Jarak.”
Terimakasih semua.

Aktivitas Dirumah Saja

Oleh: Dina Ediana

Dina (38) adalah seorang pengajar pada salah satu perguruan tinggi kota wisata di Bukittinggi Sumatera Barat. Selama pandemi Dirumah saja, berkumpul bersama keluarga hanya di malam hari, terasa sebentar, pandemi covid-19 memberikan hal yang positif bagi saya, saya yang sangat jarang berkumpul bersama keluarga dikarenakan kesibukan dan rutinitas keseharian bekerja, berkumpul dimalam hari bersama anak dan suami adalah suatu hal yang sangat berharga. saya bekerja pada salah satu kampus di Bukittinggi, pandemi membawa hikmah atau kesenangan tersendiri bagi saya dan keluarga, semenjak wabah sudah memasuki daerah kami, dan kami sudah dianjurkan bekerja dirumah, dan anak belajar dirumah juga, sehingga membuat kami banyak waktu buat bercerita dan bersenda gurau bersama anak-anak, suami dan nenek.
Awal pandemi, himbauan atau instruksi dari pemerintah untuk belajar dirumah, bekerja dirumah, membuat semua orang, merasakan suatu hal yang baru, dan tidak pernah merasakan sebelumnya. Pandemi mulai menata kembali kehidupan, mulai dari kehidupan pribadi seseorang atau kelompok orang atau masyarakat pada umumnya. Orang mulai menata/mengatur kehidupannya, baik yang berhubungan dengan sosial, ekonomi dan budaya, semua menyesuaikan diri dengan pekerjaannya yang mulai baru dirasakan dalam keadaan pandemi, dampak pandemi cukup terasa, sehingga membawa dampak yang begitu besar bagi kehidupan masyarakat, sulit bekerja, sulit berkomunikasi jarak dekat, sulit berkumpul bersama, tidak adanya proses belajar tatap muka dan berbagai hal lainnya. semua terhenti sesaat sehingga masyarakat mulai menata hidupnya, menyesuaikan diri dengan kondisi ditengah pandemi tersebut.agar kehidupannya dapat berjalan dengan baik.
Masa pandemi ini menata atau mengatur kegiatan, merupakan salah satu hal yang harus saya lakukan, baik berperan sebagai ibu rumah tangga mau pun sebagai wanita karir. kegiatan tersebut harus saya buat jadwal yang rapi agar semua pekerjaan bisa saya lakukan dengan baik. kehadiran saya sebagai bunda dan kehadiran bapak bagi kedua anak kami, dalam keluarga sangat dibutuhkan mulai dari mengatur kegiatan anak-anak belajar, pekerjaan kantor saya dan suami, dan pekerjaan rumah yang begitu banyak.
Kehadiran bunda dalam keluarga membantu keluarga dalam menyiapkan segala sesuatu, mulai mengatur kebutuhan anak-anak dan suami, suami yang awalnya bekerja dikantor, sekarang sudah bekerja dirumah Work From Home (WFH), anak-anak yang biasa belajar di sekolah, sekarang sudah mulai belajar di rumah, bunda yang biasa mengajar kekampus sekarang sudah mengajar secara daring dengan menggunakan beberapa aplikasi dalam proses belajar mengajar, bunda tidak lupa juga mengatur jadwal dengan sebaik-baik mungkin agar jadwal tersebut dapat dijalankan oleh anak-anak dengan baik dan begitu juga bunda dalam menyelesaikan pekerjaan rumah dan kantor sudah terjadwal dengan baik.dan tidak lupa juga waktu/jadwal untuk anak-anak bermain, waktu bunda istirahat agar saya dan anak-anak tidak merasa jenuh, bosan dirumah saja, dengan adanya jadwal untuk anak bermain dan untuk bunda ber istirahat/bersantai di rumah.walaupun sudah terjadwaldengan rapi, terkadang bunda masih merasakan kesulitan dalam membagi waktu dalam melakukan pekerjaan tersebut. Antara pekerjaan rumah dengan jadwal sekolah anak yang terkadang hampir bertepatan atau bersamaan. Pekerjaan rumah merupakan suatu kegiatan rutinitas yang selalu bunda lakukan, banyak menyita waktu, mulai dari membersihkan rumah, memasak dan mencuci, setrika dan lainnya.
Ternyata pekerjaan rumah merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan dan menghabiskan banyak waktu, pekerjaan yang tidak bisa dianggap remeh dalam proses mempersiapkan serta menyelesaikannya. terkadang karena tidak terbiasa melihat jadwal, saya sering melakukan suatu kesalahan dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Sehingga jadwal tidak teratur dengan baik. Pekerjaan merupakan suatu kegiatan yang akan kita lakukan di tengah pandemic ini, saya mengajari anak-anak bagaimana menjaga kebersihan diri, rumah dan lingkungan agar terhindar dari berbagai macam penyakit terutama penyakit covid-19. Dan juga mengajak anak-anak sesuai anjuran pemerintah tentang protocol kesehatan yaitu 3 M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak) serta membersihkan rumah dan lingkungan sekitarnya dengan menyemprotkan disimpactance.
Hikmah covid ini membawa suatu hal yang positif, keluarga menjadi harmonis, terjalinnya komunikasi yang baik antara orang tua dan anaknya.Terbinanya keakraban antar sesama dalam keluarga. Kadang saya berpikir kapan kah wabah ini akan berakhir….atau kapan berhenti agar penyebran virus ini tidak bertambah banyak. Penyebaran virus ini tidak memandang usia, suku, ras dan lainnya. Ribuan manusia terkena dampak covid-19, ribuan manusia telah meninggal dunia akibat covid-19, Maka kita wajib menjalankan protocol kesehatan sebagai pemutusan matarantai penyebaran covid-19.
Bersama kita bisa………..
Semoga badai ini cepat berlalu agar kami bisa beraktivitas seperti dulu lagi………..
Semua akan terasa indah…..

Kapan waktunya tiba….

 
Hikmah Covid-19

Oleh : Agung Adha Witasa Dewana


Pada hari Senin, 2 Maret 2020, secara resmi Presiden Jokowi mengumumkan penemuan penderita Covid-19 pertama di Indonesia. Berita itu beredar disaluran televisi, koran, youtube dan sosial media lainnya, lalu berikutnya bahaya virus covid-19 semakin intens tersebar, dan menjadi momok yang menakutkan di khalayak ramai. Beritanya segera tersebar ke berbagai penjuru negeri. Berikutnya pengumuman tentang angka orang yang terinfeksi dan mereka yang meninggal terus bertambah. Kepanikan melanda seluruh Indonesia dan zona merah pun meluas. Aneka anjuran untuk tetap di rumah, menjalankan protokol kesehatan, ketakutan akan stok sembako, serta desakan untuk dilakukan lockdown segera menggema. Berbagai bisnis mulai terkena dampak pandemi, bahkan bangkrut. PHK karyawan pun mulai terjadi. Banyak pelaku usaha, baik bisnis besar, sedang maupun sektor UKM mengeluhkan kesulitan omset. Pariwisata, penerbangan dan perhotelan adalah sektor yang paling menderita akibat pandemi ini.
Sebagai seorang apoteker yang bekerja di sebuah apotek dan juga Aparatur Sipil Negara (ASN) di salah satu instansi pemerintah di Kota Medan, secara finansial saya tidak terlalu terganggu dengan perlambatan ekonomi yang terjadi. Namun saya juga prihatin dengan kondisi yang ada. Ada banyak teman, sahabat, saudara yang berkeluh kesah kepada saya tentang kesulitan ekonomi yang mereka alami akibat pandemi. Ingin saya ikut membantu mereka dalam usaha minimal mampu bertahan di dalam badai besar ekonomi ini. Terbesit juga keinginan untuk memiiiki usaha dan memulai bisnis sehingga bisa mempekerjakan banyak orang dan memberi manfaat bagi masyarakat. Namun apa daya, saya pun bingung harus mulai dari mana. Latar belakang saya berasal dari keluarga Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terbiasa dengan zona nyaman gaji pasti setiap bulan. Lalu apa ya usaha yang bisa saya buat? Saya mulai bertanya-tanya dalam hati. Menjadi pengusaha tidak pernah terbayangkan saya sebelumnya. Apalagi dalam alam pikiran saya, dunia pengusaha memiliki ketidakpastian dalam hal penghasilan setiap bulannya, balum lagi mengelola resiko rugi, tertipu, cek stok barang, pajak, pembukuan keuangan, dan lain-lain.
Saya pun mulai berselancar didunia maya, sebelumnya saya online cuma untuk mencari hal-hal terkait pekerjaan kantor, tugas sekolah anak, dan hiburan. Namun rasa ingin tahu dan semangat untuk hidup lebih baik, membuat saya mulai mencari hal-hal terkait bisnis dan usaha sampingan. Selain google, saya juga berselancar di Instagram, Facebook, dan Youtube. Ketiga platform yang banyak dipakai di Indonesia Aneka hal ada disana. Mulai dari yang bersifat teknis sampai strategis. Ternyata banyak informasi yang bisa didapat. Kita bisa belajar membuat usaha apapun, dengan bermodal kuota internet untuk belajar bagaimana teknis suatu usaha, mulai dari ternak lele, ternak bunga anggrek, properti, forex, daging gulung, kue brownies, dan aneka bisnis digital. Ternyata dunia maya juga tersedia aneka pelatihan yang berbiaya murah, bahkan gratis, untuk berbagai jenis usaha. Saya pun semakin giat mencari informasi seminar online lainnya, baik yang gratis maupun berbayar. Namun yang berbayar pun tidaklah mahal. Biasanya dipatok kurang dari 100.000 untuk 1 hari seminar. Digrup Whatsapp pun banyak bertebaran informasi tentang seminar online. Seminar tentang kefarmasian pun tak luput dari perhatian saya, karena memang latar belakang pendidikan saya adalah farmasi. Bayangkan bila di kondisi sebelum pandemi, seminar-seminar ini harganya lumayan menguras kantong. Untuk seminar kefarmasian biasanya dipatok 250-300 ribu, sedang biaya seminar onlinenya cuma 30-50 ribu. Seminar motivasi yang diadakan di hotel bisa dipatok 1-3 juta. Namun dengan webinar online tiketnya sekitar 100 ribuan. Semakin banyak mengikuti seminar online, semakin banyak pula ilmu yang saya dapat, semakin terbuka pula pikiran dan mengubah pola pikir dari yang saya pernah tahu. Saya pun semakin bersemangat untuk memiliki bisnis. Mindset pun mulai berubah. Sebelumnya saya menganggap bahwa kaya itu tidak baik, bahwa kekayaan mengantantarkan kita menuju kesombongan, dan orang kaya itu sombong. Serta pikiran bahwa nanti orang kaya akan lama dihisab (ditimbang amalannya) dihari akhir. Namun sekarang saya mulai berpikir posistif tentang kaya dan orang kaya serta tidak lagi menganggap kaya itu buruk.
Saya juga mengikuti kelas mengenai properti digital dan neuro linguistic programming (NLP). Banyak seminar, training, pelatihan yang diadakan secara online serta menjadi lebih mudah dan murah selama pandemi ini. Yang penting anda siapkan: full baterai HP, komputer atau laptop, lalu sinyal internet atau wifi yang optimal serta alat tulis. Anda bisa ikut seminar sambil rebahan, mengurus anak maupun nongkrong di kafe. Saya juga mengikuti beberapa seminar, training dan workshop online yang bisa memakan waktu 1 bulan, dan biayanya tidak lebih dari 500.000. Bisa anda bayangkan berapa harga yang harus dibayar bila dilakukan secara offline, di hotel mewah, seperti pada masa sebelum pandemi? Pasti jutaan lah harga tiketnya.
Salah seorang pengusaha yang aktif di Rumah Yatim, Mardigu Wowiek, menyatakan bahwa pandemi ini membuat de-coupling, yaitu keterputusan dari masa lalu. Bisnis dan banyak aspek kehidupan kita akan berubah dari masa sebelum pandemi. Kita akan lebih banyak berinterakasi secara online daripada offline. Dalam hal jual beli sekarang, kita sudah mulai sering mengandalkan Dana, Gopay, Ovo, Paypal, dan transaksi digital lainnya.
Bisnis mengalami great shifting (pergeseran besar) dari sebelumnya. Kalau anda ingin bisnis emas tanpa repot menyimpan emas, sekarang bisa secara digital. Anda ingin punya properti, lalu menyewakan properti tersebut dengan modal duit cuma 20 juta? Sekarang ini bisa dengan properti digital. Anda ingin membeli saham dengan modal kurang dari 1 juta? Juga bisa. Dari berbagai seminar, saya pun baru menyadari kesalahan besar saya adalah menyisihkan uang dari penghasilan aktif untuk biaya gaya hidup. Jadi sebaiknya menjalankan hidup sederhana untuk 2-5 tahun guna mengumpulkan uang dan membeli aset. Lalu aset tersebut lah yang membiayai gaya hidup kita untuk naik satu level. Nash Daily dalam chanel Facebook-nya juga mengatakan bahwa internet akan menjadi lebih bagian terpenting dalam kehidupan kita daripada sebelumnya. Banyak hal yang diprediksi akan berubah setelah pandemi covid-19 ini berakhir. Jadi mempelajari aneka keahlian terkait internet dan online adalah skill yang perlu dan mumpuni. Diprediksi bisnis yang akan maju nantinya adalah bisnis yang online-able.
Lalu pertanyaan berikutnya, kapankah pandemi covid ini akan berakhir? Wah, saya tidak berani berkalkulasi. Tapi sekarang ini, saya telah memiliki mindset dan ilmu untuk menjadi pebisnis akibat terjadinya pandemi covid-19. Sekarang saya membuka kelas online, berinvestasi di properti digital dan crowdfunding, serta memiliki bisnis kesehatan dan travel, yang tentunya juga bisnis digital. Syukur alhamdulillah dengan pencapaian yang saya peroleh. Semoga apa yang saya kisahkan ini dapat menjadi inspirasi bagi yang lainnya.

 
Perubahan Dimasa Pandemi

Oleh: Mercy Monica Yolanda, S.H.,CCD.,C.PS


Pada awal tahun 2020 masyarakat dunia dikejutkan dengan kemunculan “Virus” yang diduga berasal dari Negeri Tirai Bambu Tiongkok, tepatnya di Wuhan yang merupakan ibu kota provinsi Hubei. WHO sudah menetapkan Covid – 19 (Corona Virus) sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD) Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) dan mengkategorikan bahwa telah memasuki masa pandemi sejak tanggal 30 Januari 2020 karena adanya peningkatan kasus yang signifikan dan kasus konfirmasi di berbagai negara lain.
Memasuki masa Pandemi ini kita dipaksa menghadapi berbagai macam perubahan, perubahan yang terjadi menyerang berbagai sektor bidang. Perubahan signifikan yang terjadi yakni mempengaruhi gaya hidup kita sehari – hari dimana kita dituntut untuk menjadi pribadi yang lebih higienis dari sebelumnya dan saling menjaga jarak, seperti contohnya kita harus mencuci tangan setiap akan memasuki tempat dan melakukan pengecekan suhu tubuh sebelum memasuki suatu tempat. Positifnya kita menjadi pribadi yang lebih memperhatikan kesehatan dan lebih menjaga kebersihan. Sehingga kita dapat mengingat betapa berharganya diri kita satu sama lain. Perubahan akan selalu terjadi meskipun bukan di masa pandemi karena pada dasarnya, yang tidak pernah berubah, hanyalah perubahan itu sendiri.
Tanpa bermaksud menyinggung pihak manapun yang dirugikan, tapi karena kita sering mendengar pembicaraan bahwa pandemi ini memaksa kita untuk keluar dari zona nyaman dan melakukan perkembangan untuk bertahan menghadapi masa pandemi ini. Dan banyak langkah yang tertunda karena pandemi tapi ada juga langkah yang awalnya tertunda karena berbagai alasan sebelum pandemi malah berdampak ke suatu akselerasi yang tidak terduga dan tidak terbayangkan sebelumnya.
Adapun tindakan yang dilakukan pemerintah dalam menekan penyebaran Covid – 19 dan mengakhiri masa pandemi ini adalah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan pemerintah juga menerapkan social distancing dan physical distancing. Dengan adanya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mengurangi kegiatan masyarakat dalam bekerja dan melakukan perilaku konsumtif yang berlebihan. Banyak dari kita yang bekerja dari rumah Work From Home (WFH) yang membantu mengurangi polusi sehingga meningkatkan kualitas udara di seluruh dunia dikarenakan pengurangan volume kendaraan di jalanan karena banyak dari kita yang Work From Home. Selain meningkatkan kualitas udara Work From Home juga mendekatkan kita dengan orang terkasih yang biasanya sulit untuk dilakukan dikarenakan kesibukan dalam bekerja sehingga tidak memiliki banyak waktu dirumah untuk bertemu orang – orang terkasih. Selain itu pengeluaran juga menjadi sedikit berkurang seperti pengeluaran untuk transport, makan diluar atau pembelian untuk tiket tidak lagi menjadi keharusan di masa pandemi.
Masih banyak hal yang dapat kita syukuri di tengah pandemi ini, tergantung bagaimana kita bisa ikhlas dalam setiap situasi dan bagaimana tindakan, attitude kita saat bertindak menjadi faktor penting dalam melewati masa pandemi ini dengan baik. Karena baik dan buruknya hari yang kita lalui tergantung bagaimana attitude kita pada hari itu.
Setiap ada yang hilang, akan ada yang kembali atau terganti. Cukup perbanyak tawakal dan jangan pernah kehilangan kepercayaan (iman). Tetap bekerja sama dan menjaga jarak serta kesehatan kita agar kita dapat segera lepas dari masa pandemi ini dan kembali beraktivitas normal sehingga yang mendapatkan dampak negatif dari pandemi ini dapat kembali bangkit.

 
Meniti Karir Baru Dimasa Pandemic Covid-19

Oleh : Setiawan Shaputra


Pandemic Covid-19 ini memberikan sebuah pelajaran berharga buat semua orang. Hal ini berdampak untuk semua sektor dari pendidikan, kegiatan bisnis, perdagangan, pariwisata dan sebagainya. Namun, ada hikmah positif yang bisa diambil dari pandemic covid-19 ini, yaitu waktu bersama keluarga semakin banyak, pentingnya menjaga kebersihan (pola hidup sehat), dan membuat saya juga untuk berfikir kreatif serta melihat peluang yang ada. Saya melihat peluang untuk menjadi seorang Trainer dan Life Coach. Saya mengikuti beberapa training sertifikasi yaitu Public Speaking, Life Coach, Motivator, dan Neuro Linguistic Programming (NLP). Ketika itu, tepatnya bulan agustus 2020 saya mengikuti training public speaking yang diselenggarakan oleh sekolah trainer pendidikan Indonesia. Saya sangat menyukai public speaking ini sudah lama sekali.
Saya melihat kedepannya ini merupakan kesempatan untuk meniti karir menjadi seorang public speaker sangat terbuka. Saya mengikuti training sertifikasi public speaking selama 2 hari secara online. Ya, karena memang dalam masa pandemi corona ini semua serba online. Jadi, kita juga harus siap dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang ada. Singkat cerita, setelah selesai mengikuti training sertifikasi public speaking, saya benar-benar mendalami ilmunya.
1 Bulan kemudian, saya memberanikan diri untuk tampil menjadi pemateri dikelas training public speaking berkolaborasi dengan sekolah trainer pendidikan Indonesia. Saya sangat senang dan bersyukur bisa memberikan materi kepada peserta yang terdiri dari berbagai kalangan ada guru, mahasiwa, bahkan pelajar. Semua orang bisa melakukan hal yang sama jika kita mau berusaha mewujudkan. Jangan malas untuk mencari informasi apapun itu karena dimasa pandemi corona ini banyak sekali yang terdampak ada yang di phk, gaji belum turun bahkan dikurangi, dan sebagainya. Maka dari itu, teruslah menambah wawasan pengetahuan kita terlebih lagi kita harus menerapkan prinsip 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.
Hikmah positif yang bisa diambil adalah:
1. Walaupun dimasa pandemi corona, ayo kita tetap berusaha dan mencari peluang kedepannya akan seperti apa. Karena hidup itu serba tidak pasti dan kita juga tidak tau virus covid-19 ini akan hilang kapan. Hanya Tuhan yang tahu.
2. Tetap produktif dan terus belajar upgrade ilmu karena ilmu tidak akan ada habis. Jadi jangan pernah berhenti untuk belajar dimana pun kalian berada.
3. Kita bisa punya waktu lebih banyak bersama keluarga dirumah. Saya merasakannya karena saya mahasiswa rantau dan sudah hampir 1 tahun dirumah saja karena kuliah daring. Tentunya, saya senang bisa mempunya waktu banyak bersama keluarga. “ I love My Family”.
4. Saya belajar banyak hal baru dan sekaligus saya meniti karir baru sebagai seorang Public speaker dan Trainer Ini merupakan keberkahan dalam hidup saya yang luar biasa bisa memberikan manfaat untuk banyak orang terlebih lagi keluarga.
Jadilah pribadi yang berbeda dari yang lain. Karena setiap orang memiliki keunikan masing- masing. Semoga pandemic covid-19 ini segera berakhir dan menghilang dimuka bumi ini. Ada masa dimana kita memang harus merelakan sesuatu yang sudah kita raih. Tetapi, jangan pernah putus asa teruslah berusaha dan belajar. Mungkin ini cara Tuhan dengan adanya virus covid-19, kita semakin sadar bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Mari kita dekatkan diri kita masing-masing kepada Tuhan. Semoga apa yang kalian inginkan dapat tercapai Aamiin.
“ Jalani Sebaik Kau Bisa”

 
Allah Selalu Memberikan yang Terbaik

Oleh: Erli Saputra, S.Pd.I, M.Ag.


Penulis menyadari bahwa dalam kehidupan ini ada kekuatan yang maha dahsyat. Kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia. Kekuatan tersebut meliputi pengaturan terhadap kepemilikan anak dalam sebuah keluarga, kehadiran pasangan hidup, luas sempitnya rezeki, pengaturan perputaran bumi sehingga terjadi siang dan malam, perubahan cuaca, bahkan pengaturan terhadap kejadian dalam rangkaian rencana kegiatan yang telah kita ditentukan. Dzat pemilik kekuatan itu adalah Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Perjalanan hidup manusia tidaklah selalu sesuai yang direncanakannya atau yang diharapkannya, terkadang seorang manusia harus melewati jalan terjal setelah beberapa waktu menikmati jalan yang datar bahkan beberapa waktu menikmati jalan yang landai. Hari-harinya pun penuh warna, terkadang gembira namun sewaktu-waktu ia dihampiri rasa sedih, inilah sunnatulloh dalam kehidupan. Tak ada yang dapat menghindar dari kenyataan ini. Diantara kesedihan yang banyak menimpa manusia adalah kondisi dimana seseorang mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkannya. Banyak orang yang berusaha menggapai sesuatu yang kelihatannya baik, ia mati-matian mendapatkannya dan mengorbankan apapun yang ia miliki demi mewujudkan impiannya itu. Namun, ternyata hal tersebut tanpa disadari tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika hal seperti ini terjadi, tak sedikit orang yang galau, menyalahkan diri sendiri, menyalahkan pihak lain, bahkan Allah SWT pun tak luput untuk disalahkan. Tidak sampai disana bahkan dia yakin bahwa ketetapan tersebut adalah pukulan yang menghancurkan segala impian dan kehidupannya. Padahal ketetapan tersebut dapat berubah menjadi kebaikan tanpa disadarinya.
Apabila kita termasuk dalam kondisi seperti yang disebutkan di atas, maka ingatlah sebuah firman Allah SWT:

… وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).


Ayat ini merupakan kidah agung dalam kehidupan, kaidah yang memiliki hubungan erat dengan salah satu prinsip keimanan. Meletakkan ayat di atas sebagai pedoman hidup akan membuat hati ini tenang, nyaman dan jauh dari keresahan. Andai kita mau kembali melihat lembaran-lembaran sejarah di dalam Al-Qur’an, membuka mata untuk mengamati realita yang ada, niscaya kita akan menemukan pelajaran-pelajaran dan bukti yang sangat banyak. Salah satu realita yang terjadi di sekeliling kita adalah kejadian yang mungkin anda juga sudah mengetahuinya yiatu ustadz Yusuf Mansur yang mengalami “3 kali ditolak IAIN Jakarta (sekarang UIN), berkali-kali ditolak UI, tapi sekarang… Alhamdulillah, Yusuf Mansur diundang jadi tamu kehormatan di UI. Yang waktu itu lolos? Belum tentu.” Peristiwa lainnya Ada seorang karyawan yang di PHK setelah selang 5 tahun dia diberhentikan dari pekerjaannya dia sekarang menjadi pengusaha sukses, dia amat bersyukur telah di PHK pada waktu itu. Padahal pada saat di PHK dia merasa resah gelisah, sedih, tidak terima dengan kejadian.
Penulis juga disini ingin membagi pengalaman. Pada saat pandemic covid-19, saat itu sekitar bulan maret 2020 mulai diberlakukan PSBB. Awal bulan maret itu Isteri tengah hamil tua, perkiraan akan lahiran di akhir bulan maret atau awal april. Perasaan pun mulai gelisah, pikiranpun mulai tak terarah. Namun penulis ingat bahwa Allah adalah pengatur alam semesta ini selalu memberikan yang terbaik, kita tawakkal saja kepada-Nya. Ini pula yang menjadi nasihat kepada isteri. Selang beberapa hari diberlakukannya PSBB pada saat itu kurang lebih jam 4 subuh istri mulai ada tanda-tanda melahirkan. Lalu pergi ke bidan yang tidak jauh dari rumah dimana istri rutin control ke bidan tersebut, setelah sampai di bidan isteri sudah mulai pembukaan 3. Namun ternyata karena kondisi masa pandemic covid-19, dan istri yang memiliki riwayat pernah keguguran serta jarak kelahiran begitu dekat dengan kelahiran sebelumnya, bidan tersebut memutuskan tidak sanggup menangani. Bidan menawarkan rujukan mau ke rumah sakit mana? Sebagai suami saya pun mulai gelisah, lalu saya bertanya : masih bisa kah ditangani di poned? Kemungkinan bisa jawab bidan. Baik kalau begitu saya minta rujukan ke poned saja. Tidak lama setelah selesai dibuatkan rujukan saya pergi ke poned. Tidak lama setelah sampai di poned sekitar jam 07.00 pagi istri melahirkan dengan selamat. Alhamdulillah.
Hikmah selain itu pada masa pandemic covid-19 penulis bisa bergabung dengan salah satu PKBM di luar kota yang memakai system pembelajaran online. PKBM tersebut benama PKBM Generasi Juara. Selain mendapat tambahan penghasilan, di PKBM ini penulis belajar bagaimana cara melakukan pembelajaran online dengan warga belajar diberbagai belahan wilayah Indonesia mulai aceh sampai papua bahkan ada juga dari luar negeri. Hikmah lainnya adalah dapat memiliki sebuah buku hasil karya sendiri yang merupakan cita-cita penulis sejak lama. Pada masa pandemic covid-19 penulis bisa bersama-sama menyusun sebuah buku melalui pelatihan menulis di Edu Learning Academy.
Ketika kita berani menerima apa yang terjadi, menggali hikmah dibalik kejadian tersebut dan senantiasa bersyukur. Maka kita akan menjadi orang yang senantiasa beruntung. Selalu ingatlah bahwa Allah tidak pernah memberikan sesuatu kepada kita melainkan yang terbaik. Dia adalah sumber kebaikan, maka tidak ada yang diberikan dari-Nya kecuali yang terbaik.

 
Kehidupan Semasa Covid

Oleh: Lestari


Aku adalah salah seorang tenaga medis yang bekerja di salah satu Puskesmas, Puskesmas Gajah Mada namanya. Puskesmas ku ini berada di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Profesiku adalah dokter umum. Semenjak covid masuk ke Indonesia pada bulan Maret 2020, semuanya berubah secara perlahan. Snelli ( jas putih) ku itu sudah mulai menganggur dan tergantung dalam lemari. Aku bahkan sudah lupa terakhir memakainya tanggal berapa. Aku dan teman- teman di tempat kerja, mulai memakai “gaun” perang, mulai dari gown ruang OK waterproof , sampai coverall berjudul hazmat. Tak mudah menggunakan “baju” perang ini, andaikan kita tak sempat sarapan pagi, makan siang atau makan malam sebelum menggunakannya, kemungkinan besar kita akan mengalami mual yang teramat parah bisa disertai muntah, bahkan pingsan karena panas, dan kekurangan oksigen untuk bernafas. Jikalau bernasib baik, biasanya hanya akan mengalami sakit kepala ringan karena dehidrasi atau kekurangan cairan.
Walaupun kami hanya bertugas di puskesmas, yang nota bene sarana dan fasilitasnya lebih kecil dari rumah sakit, tapi lingkungan kerjanya cukup luas. Semua pasien yang terinfeksi virus covid-19, kami yang di puskesmaslah yang bekerja untuk menelusuri riwayat penularan dan kontak erat dari 1 orang pasien yg positif covid-19 tersebut. Dalam menelusuri pasien dan keluarganya ini banyak tantangan yang dihadapi. Mulai dari soal pasien yang tidak merasa terkena covid dan mengatakan tenaga kesehatan meng-covid-kan pasien, terkadang tak jarang juga aku dan teman-teman menghadapi kemarahan, perkataan bernada tinggi dan penolakan dari pasien. Tak jarang aku pun menangis. Sebenarnya bukan karena takut dengan pasien. Karena terkadang aku merasa lelah, lelah fisik dan mental. siapa yang ingin tertular? Tentu tidak ada. Jiwa ini lelah mana kala aku ditolak saat ingin mendekat menawarkan bantuan, sementara aku sendiri sedang memikirkan agar selamat dari virus ini. Namun, tetap banyak pasien-pasien covid-19 yang sangat baik, kooperatif bahkan kadang berkesan (semoga Allah merahmati mereka) karena sudah ikut andil dalam menurunkan risiko penularan penyakit.
Selama pandemi, semua sakit bahkan kematian tanpa sebab yang jelas harus dibuat sehati-hati mungkin dalam penanganannya. Pernah suatu ketika ada kasus, aku ditelepon kepala puskesmas agar memeriksa keadaan seseorang di sebuah rumah. Berita belum jelas, tapi aku dan tim di UGD puskesmas datang ke lokasi dengan APD (Alat Pelindung Diri) lengkap seperti menghadapi penderita covid-19. Sesampainya di sana, masyarakat sekitar sudah sangat ramai dan ada beberapa polisi yang sudah menunggu kedatanganku dan tim untuk hadir di situ. Aku sudah mencium aroma tak sedap dari dalam rumah meskipun memakai masker. Rupanya ada jenazah yang ditemukan di rumah itu, perkiraan kematian sudah sekitar 3 – 5 hari karena jenazah sudah mengalami pembusukan. Penyebab kematian tidak diketahui karena memang tidak dilakukan bedah mayat. Di daerah tempatku tinggal juga tidak memiliki Spesialis Forensik, dan keluargapun yang tidak serumah dengan jenazah tersebut menginginkan agar jenazah segera dilakukan rangkaian pengurusan jenazah secara islam. Sehingga aku dan tim hanya melakukan visum luar saja. Itu kali pertama aku melakukan visum dengan menggunakan hazmat.
Melihat kondisi covid-19 di daerah ku yang hampir selalu bertambah, dalam hati aku selalu was-was, kapan ini akan berakhir, bahkan pernah suatu ketika di poliklinik umum pada suatu hari, aku memeriksa seorang pasien, dan hari berikutnya, aku di kantor polisi memeriksa tahanan. 1 minggu kemudian diketahui bahwa kedua orang ini swab nya positif covid-19. Saat itu aku walaupun memakai APD level 2, ada perasaan was was sehingga akhirnya aku memutuskan untuk di lakukan swab saja. Di daerah kami, menunggu swab itu tidak semudah menunggu hasil swab seperti di rumah sakit swasta yang bisa keluar di hari yang sama. Aku menanti selama 5 hari untuk mengetahui hasil swab sendiri. Selama itu antara tidak enak makan, tidak enak tidur, terbayang kalau positif siapa yang akan mengurus anak -anak, terbayang kasihan anak-anak akan diswab yang rasanya cukup tidak mengenakkan dan membuat air mata refleks keluar. Alhamdulillah hasil swab saat itu negatif. Tapi kita tidak tau sampai kapan kita bisa tetap negatif, seolah-olah covid ini ada gilirannya masing-masing untuk tertular, apalagi setelah itu kemudian teman para medis di tempat ku bekerja, satu per satu mulai ada yang positif tertular covid 19.
Aku tahu, semua yang Allah izinkan untuk ada di muka bumi ini termasuk virus covid-19, pasti ada hikmahnya. Aku pernah mendengar dari teman, covid bisa membuat orang terlihat aslinya seperti apa. Siapa yang benar-benar tulus, siapa yang tidak. Siapa teman sejati, siapa yang bukan. Siapa yang hanya bisa menyalahkan dan merasa tertular, padahal belum tentu orang yang positif itu menularkan ke orang lain, bisa jadi dia korban yang tertular dari teman yang tidak bergejala, hanya saja dia bergejala sehingga diperiksa atau dilakukan swab lebih dulu. Sehingga seolah-olah dialah yang salah. Padahal tidak.
Covid 19 mampu membuat semua perubahan dalam kehidupan kita. Mungkin dulu orang hanya cuci tangan saat mau makan, itupun tidak dengan sabun, ala kadarnya saja, tapi lihatlah, semenjak pandemi, banyak orang mulai menyadari pentingnya arti kebersihan, agar terhindar dari penyakit. Tempat-tempat cuci tangan tersedia dimana-mana. Orang mulai sadar untuk memakai masker, dimana di masa lalu orang indonesia, apalagi di desa desa, tidak akan mau memakai masker walaupun dia sudah bersin-bersin di depan wajah kita saat terserang flu.
Semenjak pandemi covid, segala acara seminar, perkuliahan dilakukan secara zoom meeting, aku rasa itu menghemat pengeluaran. Aku bisa dapatkan sertifikat untuk memperpanjang Surat Tanda Registrasi (STR) dokter nantinya, tanpa harus berulang-ulang ke ibukota provinsi tempat di mana banyak acara seminar kedokteran diselenggarakan. Apalagi ketika punya balita, agak sulit bepergian dan mengikuti acara resmi. Beberapa waktu sebelum pandemi, aku sempat mengikuti pelatihan sambil membawa balita karena dia hanya mau dengan ku sebagai ibunya, dan tidak terbiasa dengan orang lain. Semenjak pandemi, aku bisa mengikuti segala webinar bahkan sambil memasak di dapur, alhamdulillah.
Semoga pandemi ini cepat berlalu, dan semoga aku, dan kita semua bisa melewati “seleksi alam” ini dengan selamat dan tetap Allah izinkan hidup, sehingga mempunyai kesempatan bercerita kepada anak cucu kita suatu hari nanti, bahwa kita pernah berada hidup berdampingan dengan covid, di masa vaksin sedang diteliti dengan singguh -sungguh, di masa semua orang yang tertular diisolasi di tempat khusus. Dan semoga suatu hari, snelli ku itu bisa kupakai lagi dalam kondisi yang tetap putih. Seputih hati orang orang yang tetap ikhlas mengabdi dalam kondisi apapun, aamiin.

 
Hikmah Di Balik Pandemi

Oleh: Hj. Nurhidayah,S.Ag.,M.Pd


Sehari-hari aku bekerja sebagai seorang guru di sebuah SMP Negeri di kotaku. Selain mengajar, aku juga aktif di beberapa organisasi yang sangat menyita waktu. Meski begitu, aku sangat menikmatinya. Sebagai ketua Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU di kabupaten, aku dituntut untuk aktif menggerakkan para pemudi Nahdlatul Ulama di tingkat kabupaten dan di dua belas kecamatan. Tanggung jawab ini aku lakukan dengan sukacita dan tak sedikitpun ada keluhan karenanya. Pun, sebagai penggiat literasi aku sering menyambangi sekolah-sekolah untuk mengajak para guru di sekitarku untuk menulis. Mendampingi dan belajar bersama, begitu kusebut. Aku juga membuka layanan diskusi melalui beberapa grup WA, untuk siapa saja. Kebanyakan dari mereka adalah kaum perempuan dan para guru yang berminat untuk menulis. Pintu rumahku pun terbuka lebar untuk sahabat-sahabat yang ingin belajar menjahit gratis. Alhamdulillah, dengan bekal keterampilan menjahit yang kuperoleh dari kursus menjahit puluhan tahun silam, aku dapat melakukan sedekah ilmu kepada ibu-ibu yang ingin belajar namun tak memiliki biaya untuk mengikuti kursus di lembaga kursus yang ada di kota kami.
Hampir seluruh waktu kuhabiskan untuk kegiatan-kegiatan tersebut. Banyak prestasi yang telah kutorehkan dalam perjalanan hidupku. Banyak pujian dan sanjungan aku dapatkan dari orang-orang di sekitarku. Namun sesungguhnya, aku tak membutuhkan semua itu. Aku melakukannya semata-mata karena aku berharap saat tiada nanti, orang-orang akan mengenangku karena karya. Aku bahagia karena dapat berbagi ilmu dengan orang-orang di sekitarku. Aku bahagia karena dapat membawa manfaat bagi orang lain. Namun, ada satu hal yang luput dari perhatianku. Seiring keaktifanku di berbagai kegiatan tersebut, aku sering mengabaikan kewajibanku sebagai seorang istri.
Aku dan suamiku terpisah jarak, karena tugas. Kadang seminggu sekali pulang di akhir pekan, namun tak jarang pula jika sedang sibuk, pertemuan kami tertunda hingga dua minggu sekali. Seharusnya di saat-saat kepulangannya, aku selalu ada di sampingnya. Namun, terkadang aku larut dalam berbagai kesibukan sehingga untuk mendampinginya pun kadang tidak sempat kulakukan. Tak jarang, kulihat ada sorot tak terima dari matanya, namun tak kuhiraukan. Tetap saja aku asyik dengan duniaku. Kami belum dikaruniai anak sampai saat ini. Dan ini pula yang menjadi alasan aku untuk terus menyibukkan diri agar aku lupa dengan kesedihanku. Yaa, tak dimungkiri ada rasa sedih tatkala sadar sebagai perempuan aku belumlah sempurna. Sebagai istri aku belum menjadi istri yang baik.
Bulan Maret 2020, saat awal merebaknya wabah Corona Virus Disease (Covid – 19), semua sekolah mendadak ditutup. Tak ada kegiatan sama sekali. Demikian juga dengan kegiatan-kegiatan lain yang selama ini kutekuni. Semua libur, lockdown istilahnya. Hal itu memaksaku untuk tinggal di rumah fulltime. Hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Demikian juga dengannya. Kami sama-sama WFH (Work From Home). Dan untuk pertama kalinya kami menghabiskan waktu bersama tanpa ada kegiatan apapun di luar rumah. Apakah aku senang?? Ahh, sejujurnya di awal-awal aku merasa sangat sulit untuk beradaptasi. Dulunya, setiap pagi aku tak pernah disibukkan dengan kegiatan lain selain bersiap-siap untuk ke sekolah dan pulang ke rumah saat senja menjelang, bahkan terkadang sampai malam hari. Namun, mau tak mau… suka tak suka, aku harus membiasakan diri menjadi ibu rumah tangga yang baik. Sejak pagi hari, aku sudah bersiap di dapur. Ia adalah tipe suami yang sarapannya adalah makanan berat. Jadilah aku harus menyediakan menu sarapan lengkap setiap paginya.
Ternyata bertambah hari, aku justru semakin menyenangi kegiatan baruku itu. Menjadi ibu rumah tangga. Kegiatan yang awalnya amat berat untuk kulakukan, kini berbalik menjadi hal yang paling aku nantikan. Jika malam tiba, aku mulai browsing menu untuk esok hari. Hal tersebut aku lakukan dengan suka hati. Ternyata, menjadi ibu rumah tangga yang betul-betul fokus melayani suami itu sangat menyenangkan. Ada rasa yang tak dapat kulukiskan manakala ia nampak lahap menikmati makanan yang kubuatkan. Hal yang mungkin bagi perempuan lain terkesan biasa-biasa saja, namun bagiku sungguh luar biasa.
Ternyata banyak hikmah yang aku dapat di masa pandemi Covid – 19 ini. Aku merasa menjadi lebih bertanggung jawab dengan tugasku di rumah tangga. Hal yang sangat jarang aku lakukan selama ini, menjadi hobi baru buatku. Orang-orang di luar sana mungkin tak pernah menyangka kalau aku tak sesempurna yang mereka bayangkan. Mereka tahunya aku adalah seorang perempuan aktif di luar rumah dan di dalam rumah tangga. Setelah menjalani WFH, aku tersadar betapa banyak waktuku terbuang selama ini. Waktu yang seharusnya aku gunakan sebaik mungkin untuk suamiku. Terbayang betapa kecewanya ia saat tiba dari tempat tugasnya, aku hanya ada sekadar menyapa saja lantas pergi lagi untuk urusan yang lainnya. Betapa ia sebenarnya merindukan masakan istrinya, namun yang terhidang hanyalah makanan yang dibawa oleh kurir. Ahh, ada rasa bersalah jika mengingat semua itu.
Sesorean tadi, aku sibuk menyiapkan makan malam untuknya. Dengan penuh semangat aku memasak makanan kesukaannya. Pallu mara kakap merah (masakan ikan khas Makassar) dan Oseng-oseng brokoli wortel. Ada perkedel jagung sebagai pelengkapnya. Lelah memang saat memasaknya. Namun, rasa lelah itu mendadak hilang saat melihatnya bersemangat menikmati masakanku kali ini. Ya Allah, maafkanlah hambaMu, telah abai dengan keinginan suami hamba yang ternyata sangat sederhana ini.
Aku berjanji dalam hati. Aku harus tetap fokus menomorsatukan keluargaku, meskipun masih tetap akan menjalankan amanah organisasi. Ternyata pandemi Covid – 19 tak hanya menyimpan duka. Ada banyak sekali pembelajaran yang dapat kita petik di baliknya. Allah memang menciptakan segala sesuatu untuk menjadi pelajaran bagi hambaNya. Alhamdulillah wa syukrulillah, pandemi Covid – 19 membawaku kembali pada suamiku. Menghadirkan kembali keceriaan di dalam rumah tanggaku. Terima kasih ya Allah, Kau sadarkan aku di saat semuanya belum terlambat….

*****



 
Virus Corona VS Umat Manusia

Oleh: Afiffudin Khalim Nur Adkha


Tahun baru 2020 menjadi momen bersejarah bagi umat manusia yang belum pernah terjadi pada abad-abad sebelumnya. Dunia dihadapkan kepada ujian besar yang melanda seluruh muka bumi, yakni datangnya virus corona. Kepopuleran virus corona dengan nama Covid-19 menjadi topik hangat di semua media sosial, bayangkan saja, pada dua bulan awal kemunculannya, topik Covid-19 menjadi trending topik mengalahkan sang master trending Youtube Indonesia, Mr. Deddy Corbuzier. Bagaimana mungkin tidak trending?, dampak yang ditimbulkan merebak ke seluruh bidang kehidupan manusia. Mulai dari ekonomi, politik, budaya, sosial, keagamaan, serta pendidikan.
Kita ibaratkan peristiwa pandemi Covid-19 sebagai perang antara umat manusia melawan virus corona. Sejarah mencatat bahwa umat manusia tak luput dari peristiwa peperangan. Pada masa bangsa Sumeria, peperangan menjadi hal yang lumrah guna mendapatkan wilayah sebagai bawahan, hingga memunculkan sistem kerajaan. Bangsa Yunani terkenal dengan siasat perang Kuda Troya. Bangsa Romawi dikenal sebab memiliki pasukan dan strategi perang yang handal. Di era 90-an banyak pula terjadi peperangan, seperti perang dunia kedua, perang dingin, dan sebagainya. Oleh karena manusia tak luput dari peperangan, rasa-rasanya kita merasa sudah terbiasa dengan peristiwa peperangan. Namun, bila berperang melawan pasukan virus tak kasat mata, nah inilah tantangan bagi kita untuk berjuang meraih kemenangan bagi umat manusia.
Dalam sebuah peperangan terdapat tiga aspek utama, yakni adanya pasukan, strategi, dan kemenangan atau kekalahan dalam perang tersebut. Dari segi pasukan, umat manusia berada pada posisi yang diuntungkan, dengan jumlah populasi melebihi 7 miliar jiwa. Melawan virus tak kasat mata dengan jumlah yang sedikit. Ada pepatah mengatakan bahwa sedikit lama-lama jadi bukit, nah pasukan virus corona berkembang dengan pesat bak pepatah tersebut. Sampai hari ini tercatat sebanyak 1 Juta orang meninggal dunia akibat virus corona, 60 juta lainnya positif Covid-19, dan 40 juta jiwa berhasil sembuh
Pasukan umat manusia terdiri dari tiga komponen utama. Masyarakat sebagai pasukan pertahanan, tenaga medis sebagai kekuatan penyerangan, dan pemerintah berperan sebagai bala bantuan. Sebagai bagian pertahanan, masyarakat yang memiliki daya tahan tubuh kuat, menjadi potensi besar kemenangan umat manusia. Daya tahan tubuh kita, terbentuk oleh pola makan, pola istirahat, dan pola olahraga. Jika masyarakat ingin memiliki pertahanan kuat terhadap Covid-19, maka makan-makanlah yang menyehatkan, baik dan tentunya halal, istirahat yang cukup, serta olahraga teratur.
Komponen kedua sebagai gugus depan melawan Covid-19 adalah golongan tenaga medis. Tenaga medis merupakan seseorang yang bertugas dalam bidang kesehatan, termasuk di dalamnya ada seorang dokter, perawat, bidan, ahli medis, ahli farmasi, dan sebagainya. Tugas mereka amat berat, mulai dari perawatan terhadap positif corona, penyembuhan, pendataan, penemuan vaksin, bahkan pengurusan jenazah meninggal akibat Covid-19. Kita patut support tenaga medis agar tidak down semangat.
Komponen berikutnya datang dari pihak pemerintah yang sekarang lagi mumet sebab mikirin rakyatnya. Mulai dari pemerintah pusat hingga jenjang pemerintah desa, semuanya mumet. Soalnya saya tahu sendiri, lah orang tua saya juga pegawai kantor desa. Pemerintah berusaha memperbaiki nasib rakyat pada masa pandemi ini. Dalam sektor pendidikan misalnya, pemerintah berusaha memfasilitasi paket data bagi para pelajar, mahasiswa dan tenaga pendidik. Di sektor ekonomi pemerintah berusaha memperbaiki perekonomian dengan cara membuka kembali kegiatan ekonomi tentunya dengan protokol kesehatan. Melalui bidang sosial-budaya pemerintah berusaha mengobati luka trauma akibat pandemi. Selanjutnya, aspek yang penting dalam peperangan melawan Covid-19 adalah strategi perang. Strategi untuk mencapai kemenangan tentunya merupakan strategi yang efektif dan efisien. Efektif berarti strategi tersebut dapat menghasilkan kemenangan bagi umat manusia, efisien dapat diartikan sebagai usaha manusia agar menang melawan Covid-19 dengan waktu yang singkat, biaya yang tidak mahal dan kemudahan lainnya.
Salah satu strategi yang manjur adalah strategi perang ala Bangsa Romawi. Strategi perang dari Bangsa Romawi yang dimaksud adalah Formasi Testudo. Strategi tersebut cocok digunakan oleh masyarakat sebagai bagian dari pertahanan. Dalam formasi Testudo, prajurit yang dilengkapi dengan perisai lebar, membentuk pertahanan dengan cara merapatkan barisan antar prajurit, alhasil perisai raksasa kumpulan dari perisai milik prajurit siap membendung serangan lawan.
Formasi Testudo sangat efektif untuk pertahanan seperti di atas, namun tidak efisien untuk pola penyerangan, dikarenakan sulitnya mobilitas untuk menyerang musuh dikarenakan rapatnya barisan prajurit. Maka, masyarakat juga harus sedikit melonggarkan barisan yakni dengan pola hidup Social Distancing. Sebuah perpaduan Formasi Testudo dengan Protokol Social Distancing yang epik.
Strategi penyerangan kita coba gunakan teknologi ala Yunani. Mengapa Yunani?, suka-suka saya aja yang buat, hehehehe. Alasan utama karena strategi Bangsa Yunani menjadi dasar lahirnya strategi perang bangsa lain. Strategi tersebut dinamakan Phalancx, dimana prajurit bertombak mengarahkan tombak menjulang ke arah lawan. Dengan bersenjatakan tombak panjang yang disebut Dory serta perisai bundar bernama Hoplon, pasukan Yunani siap menusuk perut lawan menggunakan tombak serta mempertahankan diri dari serangan menggunakan perisai bundar. Jika kita asumsikan terhadap strategi perang melawan Covid-19, kita dapat berasumsi bahwa umat manusia menggunakan Vaksin sebagai perwujudan tombak panjang ala Yunani serta Hand Sanitizer sebagai perwujudan perisai bundar khas Yunani. Vaksin sendiri hendak disebarkan kepada masyarakat melalui uji klinis tenaga medis yang berguna sebagai senjata utama menghancurkan Covid-19.
Strategi berikutnya ditujukan untuk pemerintah, yakni dengan meniru taktik perang Sahabat Khalid Bin Walid dalam perang melawan pasukan Romawi. Kala itu pasukan muslim berjumlah 46 ribu harus melawan pasukan Romawi dengan jumlah 240 ribu, sungguh perbandingan yang mencolok. Namun, dengan kejeniusan beliau sebagai panglima perang, pasukan umat muslim dibagi menjadi 40 kontingen dengan posisi yang telah diatur oleh beliau. Formasi pasukan muslim membuat nyali Romawi hancur dikarenakan mobilitas pasukan muslim yang terus berpindah formasi membuat seolah olah bayangan pasukan bala bantuan berdatangan terus menerus, padahal aslinya hanya ilusi belaka. Dengan formasi tersebut pasukan muslim meraih kemenangan.
Dari strategi perang Sahabat Khalid Bin Walid tersebut, pemerintah diharapkan memberikan bantuan kepada masyarakat secara nyata. Bantuan yang diberikan bukan hanya fatamorgana. Bantuan yang diberikan memang bantuan yang nyata sampai ke tangan rakyat. Jangan sampai rakyat menerima bantuan yang Zonk, tidak ada isinya. Pasukan serta strategi di atas dapat kita gunakan untuk menang melawan Covid-19 apabila didasari atas rasa persatuan dan kesatuan yang kuat. Tanpa ada rasa persatuan dan kesatuan strategi top apapun tak akan berguna dalam pertempuran. Seperti tertutur pada pepatah yang menyatakan bahwa bersama kita teguh bercerai kita runtuh. Dengan persatuan dan kesatuan antar semua elemen, umat manusia akan mengalami kemenangan.

Tertipu

Oleh: Dewi Sri, SE., S.Pd.Ing, M.Si.,Ak.,CA,

Angin yang sejuk sehabis hujan gerimis membuat mataku semakin berat dan mengantuk. Sofa merah langganan tidur siang pun melekat di tubuhku. Ohh … alangkah nikmatnya. Terlelaplah aku entah berapa lama hingga aku terbangun mendengarkan bantingan pintu. Merasa terganggu karena kebisingan yang ada. Ani, adik perempuanku, dengan wajah kesal seolah hendak mengekspresikan kegalauannya keluar masuk dengan kasar membanting daun pintu.
Aku berusaha kembali untuk menutup mataku dan membalikkan tubuhku ke arah sofa. Gedubrakkk…. terdengar suara kursi jatuh. Walahhh…. sepertinya sudah habis waktu istirahatku. Kalau adikku sudah galau seperti ini pertanda tidak ada kedamaian lagi disini. Aku segera beranjak dari sofa dan kembali ke kamar tidurku untuk menyiapkan baju untuk mandi sore. Ibu sedang sibuk di dapur, aroma sedap menyeruak di dalam rumah. “Wah… makan lezat malam ini,” celetukku dengan ibu ketika melaluinya menuju kamar mandi.
“Desi, ada apa dengan adikmu? Kamu buat dia menangis, ya?” ujar ibu dengan nada yang tinggi. Hahhhh… aku jadi bingung. Gila juga mengapa aku jadi dituduh biang kerok, ya. “Boro-boro, Bu, ini saja terbangun karena pintu dibanting,” balasku. Sambil terus menuju kamar mandi. Makan malam lezat masakan ibu memang maknyus. Kalau tidak ingat kami dua bersaudara, mungkin sudah kusantap habis hidangannya. Malam ini aku kurang beruntung, makan lezat ternyata tidak nikmat karena ternyata aku disidang oleh orang tuaku.
“Desi, kenapa kamu tidak pernah akur dengan adikmu?” tanya ayahku. Aku hanya mencibirkan bibirku. Ibuku secara refleks menggelengkan kepalanya tanda tidak berkenan dengan responku tadi. “Emang kenapa, Ayah?” tanyaku balik. Sejenak kami terdiam hingga aku berinisiatif menjawab lagi “Suer, Ayah. Tidak ada apa-apa. Dianya saja yang heboh,” balasku lagi.
Sekalipun aku berusaha cuek namun tergelitik juga kepingin tahu mengapa si kiwil satu ini tiba-tiba menangis. “Dek, kenapa tiba-tiba mewek? Emang ada yang ngapain kamu?” tanyaku sambil mencoba mengamati wajah adikku yang masih terisak menangis. Tiba-tiba tangan kiri yang disembunyikannya ditunjukkannya. Hahhhh… akupun terkejut melihat benda yang ada di tangannya. Sebuah sabun yang dipotong-potong dengan bentuk yang tidak karuan.
“Apa ini ???” tersentak aku bertanya.“ Siapa yang menghancurkannya??? ” tanyaku lagi. Dia menggelengkan kepala. “Maksudnya?” tanyaku balik. Tiba-tiba terdengar suara di belakangku “Adikmu ada tugas prakarya membuat karakter dengan sabun,” kata ibuku. “Iya, trus kenapa hancur seperti itu?” tanyaku lagi. Adikku berlari sambil menangis ke kamar tidurnya. Aku semakin tidak mengerti. “Bu, ini maksudnya apa? Atau aku yang dituduh menghancurkannya???” Aku menoleh mencari ibu yang sudah tidak ada di belakangku lagi. Akupun segera mencari ibu di dapur.
“Sudah kau temui adikmu?” ibu malah balik bertanya ketika melihatku menemuinya. “Aku jadi bingung. Tolonglah jelaskan,”kataku lirih. Ibu tersenyum melihat kebingunganku.
“Kamu sudah menindih prakarya adikmu saat tidur siangmu,” jawab ibu mengetahui kebingunganku. Haahhhh… aku tersentak dan sangat terkejut. “Masak sih, Bu. Kok bisa,” kataku dengan keheranan. Tadi aku memang tertidur di sofa, terjatuh, dan akhirnya memutuskan bangun tapi tidak merasa menindih sesuatu. “Kamu tidak menindih tapi bantalmu yang terlepas itu yang menindih prakaryanya,” ibu kembali menjelaskan. Waduhhhh…..Sekali lagi aku terkejut. Adikku satu ini memang aneh. Sudah tahu prakaryanya mau dikumpul tapi diletakkan sembarangan di ruang tamu. Akupun segera menyusulnya ke tempat tidurnya. Ani masih menangis, mendekap bantal peluk kesayangannya. Di tangan kirinya masih memegang sabun yang tak berbentuk itu.
“Dek, maafkan ayuk ya. Tadi prakaryamu hancur ketimpa bantal ayuk, ya?” tanyaku berusaha menenangkannya. Bukannya menghibut, dia malah menangis lebih kencang lagi. Walahhh….. bahaya ini. Ibu akan menyangka aku membuatnya nangis lagi. “Sssttt….Dek, kenapa nangisnya tambah kencang? Nanti ibu memarahi ayuk lagi,” ujarku. “Ngomonglah… maunya bagaimana? Ayuk minta maaf sudah menghancurkan prakaryamu,” ujarku kembali buat menenangkannya.
“Besok.. mesti kumpul,” katanya terbata di sela tangisannya. Aku mulai menangkap penyebab kesedihannya. Welll… apa yang akan kulakukan sebagai penghapus kesalahanku????
“Ok, mau ayuk buatkan prakaryanya, gak??? Tanyaku sambil menjahili melihat wajahnya yang disembunyikannya. Dia masih tidak bergeming, malah wajahnya disembunyikan ke arah lain, tidak mau kulihat.
“Emang mau buat apa, Dek? Superman, Cat woman, atau Spiderman,” kataku sambil mencari tahu benda sabun yang berbentuk tidak beraturan di genggaman kirinya.
“Ayo, ayuk buatkan. Ayuk ada simpanan sabun yang belum terpakai. Pokoknya besok pasti bisa dikumpulkan,” kataku sambil keluar kamar mengambil cutter dan sabun yang kusimpan di lemari. Dalam waktu 15 menit sabun itu sudah berbentuk kasar seorang hero. Ibu datang menghampiri sambil membawa sepiring pempek dan cuka. Aroma pempek goreng yang mengunggah selera membuatku menghentikan pekerjaanku.
“Eitt… teruskan. Sudah hampir itu. Nanti pempeknya ada banyak. Jangan takut habis. Selesaikanlah tugasmu,” kata ibu sambil telunjukkan mengarah ke sabun di tanganku. Aku sedikit protes karena mau menyantap makanan favoritku itu hangat-hangat. “Satu dulu, Bu. Ini perut sudah berbunyi. Nanti pasti kuselesaikan,” rengekku sambil cepat-cepat mengambil garpu, menancapkannya, dan memasukkan ke pempek yang hangat, gurih, dan lezat itu kedalam mulutku. Hahhhh…. puanass…. tapi enak… kukasih jempol buat ibu. Pempeknya memang enak. Akupun melanjutkan menyelesaikan prakarya tersebut. Lanjut menyantap pempek dan menghirup cukanya. Tiba-tiba pintu kamar berderit. Ani dengan wajah mengantuk keluar memegang bantal gulingnya. Ternyata dia sempat tertidur, dan terbangun karena mencium aroma pempek yang sedap. Aku dan ibu tertawa terkekeh melihatnya. Tidak terbayangkan menangis dan tertidur, dan…. ngompol lagi. Ibu segera membawanya ke kamar mandi membersihkan badannya yang pesing. “Coba lihat prakaryamu sudah dikerjakan ayukmu. Bagus sekali. Lihatlah,” ujar ibu membujuknya. Aku segera membawakan hasil karyaku kehadapannya. Nahhhh…. wajahnya berubah, dan iapun mengambilnya dari tanganku dengan kekaguman.
“Adikmu sudah membuatnya dari kemarin tapi tidak sebagus pekerjaanmu. Tadi sebenarnya ia minta kamu perbaiki, diletakkannya di sofa karena kamu tertidur disana,” ibu menjelaskan. Oooohhhh begitu cerita aslinya. “memangnya kamu mau buat apa sebelumnya?”tanyaku. “Dia mau buat superman berdiri, tapi kemudian salah memotong kemudian dibuat duduk tapi jelek, akhirnya jadi tidur…”kata ibu sambil tersenyum. Hah… berarti??? “Berarti aku tidak menghancurkan prakaryanya, Bu karena memang sudah hancur dari tangannya. Dasarrrr….cari kesempatan, ya,” kataku kesal. “Biarlah, bantulah adikmu. Lihatlah dia begitu bahagia,” kata ibu. Ani dengan wajah sumringah memegang prakarya”Ku” berlari, melompat, berputar sangat bahagia. Dasar si kiwil….

 
Bersyukur Bikin Mujur

Oleh: Imank Alisandra



Keinginan terbesar saya adalah bebas hutang di tahun 2020. Iya, kami (saya dan suami) waktu itu masih punya hutang puluhan juta rupiah di sebuah lembaga keuangan. Sudah sering dapat surat peringatan sih, tapi kami belum tau gimana harus melunasinya. Yang bisa kami lakukan adalah berdoa, hidup prihatin (seadanya), dan memaksimalkan usaha yang kami jalankan.
Waktu itu bulan Juni tahun 2020, kami menerima surat pemberitahuan dari bank, bahwa maksimal tgl 23 Juli, kami harus melunasi hutang beserta bunganya. Kalo sampai tanggal itu gak dilunasi, maka rumah yang kami jadikan jaminan pinjaman, dan sekaligus yang kami tempati, harus dilelang. Agak kaget sih menerima kabar itu, tapi itu tidak membuat kami panik. Kami berpikir, mungkin ini salah satu cara Allah mempercepat doa kami untuk lunas hutang di tahun 2020. Dan dalam hati bilang, “sebelum tanggal 20 Juli pasti sudah lunas”. Seteleh kami mantap, kami minta ijin ke orang tua kami untuk menjual toko kami. Untungnya orang tua kami adalah orang tua yang sangat bijaksana. Segala keputusan diserahkan pada kami, asalkan itu adalah yang tebaik buat kami. .
Sebenarnya tidak mudah memutuskan hal tersebut. Itu bukan keputusan kecil. Menjual tempat yang udah 12 tahun kami tempati, dan saksi kami memulai usaha. Banyak kisah, banyak cerita di tempat itu. Berbagai perjuangan untuk mempertahankan toko kami juga sudah kami lakukan. Ternyata Allah berkehendak lain. Mungkin bagi kami, itu adalah tempat strategis dan terbaik buat kami. Tapi tidak bagi Allah. Akhirnya Allah “paksa” kami untuk melepas toko itu. Kami posting lagi di grup jual beli, gak ada yang tanya satupun. Akhirnya kami kepikiran untuk menghubungi salah satu temen suami yang juga seorang ustad. Dan melalui perantara beliau, langsung ada calon pembeli datang, pembeli yang serius. Sekali survey, si calon pembeli langsung minat tanpa basa basi. MasyaAllah, seperti mimpi. Antara sedih dan bahagia. Sedih karena harus melepas toko, bahagia karena segera bebas hutang.
Sungguh bukan suatu keputusan yang mudah bagi saya. Ini adalah keputusan terberat sepanjang hidup saya selama 38 tahun ini. Saya menganggap toko kami adalah bukti perjuangan kami selama kami buka usaha pada tahun 2006. Saya sudah dianggap sukses bagi saudara dan beberapa orang di sekitar kami. Apa kata mereka seandainya saya menjual toko ini? Itu pikiran-pikiran yang terus menghantui saya, sampe saya sering sakit. Rasanya belum siap menerima kenyataan harus kehilangan toko. Rasanya saya belum siap menerima anggapan tetangga, saudara, dan temen-temen saya. Bismillahirrohmanirrohim, dengan niat beribadah kepada Allah, membebaskan diri dari hutang dan riba, kami ikhlas melepas toko kami.
Alhamdulillah ada suami yang selalu menguatkan saya. Sampe akhirnya pada tanggal 13 Juli 2020, kami datang ke bank dan melunasi hutang kami.
MasyaAllah, apa yang saya batin ternyata kejadian beneran. Sebelum tanggal 20 Juli hutang sudah lunas. Transaksi jual beli toko berjalan lancar, tidak ada kendala apapun. Alhamdulillah di masa pandemi seperti sekarang, kami dipertemukan dengan pembeli yang amanah dan sayang pada kami. Bahkan mereka memberikan waktu tenggang untuk kami beres-beres dan dapat tempat baru.
Beberapa hari setelah melunasi hutang di bank, berbekal sisa uang, kami dapat membeli rumah baru. Rumah yang saya idamkan selama ini. Ternyata ini cara Allah mengabulkan doa-doa saya. Kehilangan toko untuk dapat rumah impian. Ini adalah rumah yang saya inginkan. Di rumah ini kami tetep bisa melanjutkan usaha kami. Kebetulan rumah baru kami sudah ada ruang untuk toko. Dekat dengan masjid, seperti yang saya impikan. MasyaAllah.
Saat sedang kekurangan, bukan alasan untuk tidak bersedekah. Saat kami sedang terpuruk, kami rutin memberikan sarapan gratis tiap hari untuk orang-orang di sekitar kami. Kami gak berpikir nanti kekurangan. Kami hanya ingin berbagi dan membantu sesama. Nanti Allah yang bantu masalah kita cepat selesai.
Bersyukur ketika mendapat suatu ujian memudahkan kita mendapatkan solusi. Respon kita terhadap masalah yang sedang kita hadapi sangat berpengaruh terhadap masa depan. Ketika bersyukur, segala kebaikan dan kemudahan datang. Entah gimana caranya, Allah mudahkan. Bahkan di luar logika manusia. Tetap berprasangka baik sama Allah apapun yang terjadi. Baik menurut kita, belum tentu menurut Allah. Tidak baik bagi kita, belum tentu bagi Allah. Yang saya yakini bahwa semua yang terjadi adalah atas campur tangan Allah, dan pasti itu adalah yang terbaik. Yang perlu kita lakukan hanya bersyukur dan terus bersyukur. Karena bersyukur bikin mujur. InsyaAllah.

 
Hikmah Covid-19

Oleh: Endang Sundari


Covid 19 ( corona virus diseas 2019 ) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus corona, yang menyebabkan infeksi saluran pernafasan ringan hingga sedang seperti penyakit flu, namun bisa menjadi pneumonia berat hingga menyebabkan kematian. WHO (World Health Organization) Badan Kesehatan Dunia secara resmi mendeklarasikan virus corona sebagai pandemi pada tanggal 9 maret 2020. Artinya, virus corona telah menyebar secara luas di dunia.
Dampak akibat covid19 ini sangat terasa di seluruh bagian dunia, pemerintah terpaksa menutup berbagai tempat tempat umum, kehidupan bermasyarakat seolah lumpuh, kegiatan di sekolah dan sebagian instansi pemerintah dihentikan sementara. Bahkan pedagang kecil di pinggiran jalan pun diminta tutup untuk waktu yang belum bisa di tentukan. Satu bulan, dua bulan berlalu. Sisi baik dari pandemi ini buat keluarga kecilku adalah berkumpul dirumah, kami jadi punya banyak waktu bersama sama menjalani hari . Sisulung santai selepas wisuda S1 Telekomunikasi di november 2019 kemarin, sementara yang bungsu ada di rumah karena memang seluruh santri di pondok pesantren Almuhajirin dipulangkan. Ada bahagia, ada kecewa, karena pandemi membuat perjalanan haji tahun 2020 ini dibatalkan. Sesekali hanya kupandang perlengkapan haji yang sudah kuterima tapi tak dipakai tahun ini. Manasik haji dan persiapan lain yang telah kujalani seolah tak berarti, membuat hati kecilku bertanya tanya ,, Yaa Rabb, apakah dosaku terlalu banyak, sehingga menjadi penghalang dan membuatku tak bisa menjadi tamu dirumah suci MU tahun ini ? Astagfirullohaladzim …
Disaat yang lain libur karena pandemi, aku tetap berangkat kerja, karena profesiku sebagai tenaga kesehatan, yang saat ini menjadi ujung tombak program penanggulangan pandemi corona. Perjalanan dari rumah ke tempatku bekerja, kini terasa sangat berbeda, sepi dimana mana, seperti sepinya libur panjang saat hari raya tiba. Pelayanan kesehatan yang kami jalani pun, pun kini harus ekstra hati hati. Berbagai pelengkapan tambahan harus kami pakai untuk perlindungan diri. Alat pelindungan diri yang biasanya hanya dipakai oleh mereka yang bertugas di ruang oprasi khusus, kini harus kami pakai juga dalam pelayanan sehari hari. Sungguh terasa begitu melelahkan. Sudah hampir setahun, tapi pandemi ini seolah masih saja tak mau pergi. Laporan dari satuan petugas covid tentang jumlah penderita yang positip terpapar ataupun yang meninggal dunia, setiap hari malah menunjukan penambahan jumlah yang semakin meroket. Kami tenaga kesehatan pun sudah banyak yang terpapar. Teman teman yang bekerja tak kenal lelah, tak sedikit yang kelelahan dan terpapar hingga akhirnya berguguran, meninggal dunia. Subhanalloh, Yaa Rabb.. kami hanyalah sebagai hamba-Mu yang tak tahu apa apa, yang tak mengerti sesuatu pun dibalik musibah yang sedang menimpa kami saat ini. Yang pasti, kini segalanya serba dibatasi, bepergian kemanapun selalu di iringi rasa was was. Bertemu degngan teman tak lagi berpeluk kangen, apalagi dengan orang lain yg kita cuma kenal selintas.
Satu hal yang membuatku lebih tenang menghadapi ini semua adalah karena ku yakin, Alloh sedang mempersiapkan sesuatu yang paling baik untukku dan keluargaku. Yang harus kulakukan sekarang hanyalah bersabar, atas segala yang kecewa dan rasa tak adil yang kuterima.
Bersabar karena selepas wisuda, anak sulung ku tak bisa bebas mencari pekerjaan yang sesuai dengan ijazah S1nya, hingga pada akhirnya mencoba berjualan online, yang Alhamdulillah kini maju pesat dan buka toko offline nya di rumah. Kini, dengan bangga nya anakku mempromosikan toko miliknya di setiap ada kesempatan.
Bersabar atas persiapan ujian akhir putra bungsu ku,, yang seharusnya sedang mengikuti berbagai les privat untuk menghadapi ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi, kini harus full berada dirumah dan belajar sendiri lewat online. Ternyata dampaknya adalah kami mempunyai waktu berkumpul yang lebih berkwalitas, anak bungsu ku lebih banyak belajar tentang keseharian, seperti berkebun dan memperbaiki peralatan rumah yang sederhana.
Bersabar atas penundaan ibadah haji hingga waktu yang belum bisa dipastikan, karena menunggu situasi aman untuk bisa menunaikan ibadah ini. Aku yakin, saat ini adalah kesempatan yang Alloh beri, agar aku bisa menyelesaikan semua urusan dan kepentinganku sebelum berangkat haji, agar aku bisa tenang meninggalkan semua, agar aku sungguh2 mempersiapkan dan betul betul menyelesaikan masalahku, agar aku pergi tanpa membawa beban mental dan fikiran, agar aku siap jika pergi hajiku adalah juga kepergianku untuk selamanya.
Allohu.. hingga hampir setahun aku berbenah, ternyata belum semua masalah bisa kuatasi, belum semua persiapan bisa ku penuhi . Aku semakin merasa begitu kecil dan semakin sadar, bahwa aku hanyalah hamba yang tak berdaya. Hanya dengan kasih sayang dan kebesaran MU , aku menjalani kehidupanku hingga hari ini.
Covid 19 ini seolah adalah teguran , untukku dan untuk semua mahluk di dunia ini, bahwa Alloh dengan begitu mudahnya membuat sesuatu diluar nalar dan pemikiran manusia. Membuat semua yang terasa oleh kita, sebagai sesuatu yang canggih dan hebat, ternyata dalam sekejap saja dibuat kacau dan porak poranda.
Kita seolah dibangunkan dari tidur panjang dengan mimpi yang begitu indah, bahwa kita tak boleh terlena oleh segala kemajuan tekhnologi, karena sehebat apapun pencapaian oleh manusia, hanyalah sebutir debu dilautan kekuasaan NYA. Dan tak ada sesuatupun dari yang telah kita lakukan adalah sesuatu yang hebat , karena pencapaian itu bukan murni kemampuan diri, juga belum tentu mendapat ikhlas dan ridho dari lingkungan sekeliling kita, bahkan belum tentu juga bisa menjadi tabungan amal soleh untuk bekal kehidupan akhirat kita.
Semoga kita semua bisa istiqomah memperbaiki diri, dan selalu menjaga apapun yang kita perbuat, untuk selalu di jalan kebenaran yang mendapat ridho NYA. Aamiiin…

 
Ketenangan Kunci Keberhasilan

Oleh : Gojali

“Seorang mahasiswa muda yang sempat bimbang dan galau, karena dalam hatinya selesai kuliah nanti tidak ingin bekerja, inginnya lebih kepada menjadi pebisnis, pengusaha, dan professional.”
Ali sudah semester akhir menyelesaikan serangkaian kuliah dan mendapat gelar, S.TP (Sarjana Teknologi Pertanian). di waktu luang menunggu yudisium dan wisuda dari bulan September sampai Desember ia menjajaki kepribadian melakukan apapun yang diinginkan, mulai dari diet, rajin olahraga, renang, membaca buku, aktif berdonor darah, dan mempersiapkan segala sesuatu setelah di wisuda nanti.
Di kosan, Ali setiap hari menonton youtube berupa, video motivasi, inspirasi, kehidupan, mindset dan video mencapai kesuksesan. Ali selalu fokus pada yang diinginkan, dicita-citakan. Terus belajar, membaca, memutuskan sesuatu hal, mencoba hal baru dan aktifitas lainnya. Yang ia percaya dan yakini, sebagai sebuah keajaiban untuk masa depan.
Dengan modal impian, membuat dream book, meyakini apa yang sudah dituliskan, “Bismillah, saya sukses dan berhasil.” Setelah itu, jalan menuju apa yang diinginkan satu persatu terbuka lebar. Saya memutuskan mengikuti training online CF.NLP (Certified Fundamental Neuro Linguistic Programming) selama satu bulan. Kemudian, ikut Training Offline di Surabaya berangkat dari Purwokerto. Trainingnya di Sidoarjo. Saya ditemukan dengan seorang Coach yang menurut saya pertama kali bertemu sebagai sosok peluang yang menghantarkan pada impian saya, beliau adalah Coach Syahidin Founder Edu Learning Academy. saya mengikuti Training Harmony Life Coach selama dua hari. Begitu antusias dan semangat membara menerima materi dari beliau, karena saya minat menjadi seorang Coach. Dimana menjadi seorang Coach membantu banyak orang melalui skill Coaching yang ia dapatkan di Training. Bisa sampai di Surabaya dan Sidoarjo tidaklah mudah, apalagi saya yang masih berstatus mahasiswa, minim budget. Untuk itu, saya numpang tidur di masjid. Perjuangan ini membuat saya lebih berani, percaya diri, dan tekad baja muncul seketika.
Dua hari di Sidoarjo saya dinyatakan lulus dan dapat sertifikat bergelar C.HLC (Certified Harmony Life Coach). Perjalanan dan pengalaman yang saya dapatkan membawa benih-benih keajaiban untuk saya menarik dan membuka peluang. Naik level, apalagi ketika Coach Syahidin mengatakan kepada saya, You are the rising start (anda adalah awal yang naik daun). Saya mengartikan sebagai bintang dalam dunia pelatihan pengembangan diri. Mungkin itu kata-kata biasa bagi sebagian orang tetapi, bagi saya itu adalah sebuah doa yang menghantarkan saya pada sebuah pencapaian yang bergelut di bidang pengembangan diri, Training dan Coaching. Karena sejak kecil saya senang memotivasi orang lain, mengajarkan ilmu, sharing, menanamkan sebuah kebaikan pada seseorang. Tidak berhenti disitu, saya pun meyakini bahwa saya layak dan pantas menjadi orang yang berhasil dalam dunia Coaching.
Kembali lagi di Purwokerto, saya langsung menyiapkan untuk keperluan Coaching, yaitu membeli kwitansi, pulpen, note book dan sticky note. Berkat kesiapan dan penuh percaya diri, Alhamdulillah saya mendapatkan klien untuk saya Coaching. Saya juga membranding diri sebagai seorang Coach, seperti membikin quote, aktif mengisi seminar, membuat channel di Telegram, grup Whatsapp. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk mengisi di grup alumni Harmony Life Coach, “Kiat-kiat sukses mendapat klien.”
Sejak saat itu, saya optimis menjadi seorang Coach yang sukses. Bukan saja sebagai bisnis coaching tetapi lebih kepada menanamkan dan menumbuhkan mental sukses pada klien. 10 Desember 2019. Saya di wisuda haru dan bahagia tetapi saya sedih karena ibu telah tiada yang seharusnya melihat anaknya memakai toga. tetapi Tuhan berkehendak lain. 12 September 2019, tepatnya dua hari setelah saya mengadakan seminar hasil penelitian.
Ali mengikhlaskan kepergiannya, walau sangat terpukul karena orang yang telah melahirkannya sudah tiada di dunia. Ali mencoba bangkit dan memenuhi harapan dan impian seorang ibu menjadikan anaknya seorang Sarjana (S1). Alhamdulillah, begitu nikmat perjuangan dan pengorbanan menyelesaikan dari awal hingga akhir di wisuda. Satu minggu setelah di wisuda, Ali pulang ke kampung halamannya. Kota mangga yang ia di lahirkan. berada di kampung halaman, Ali belum juga tenang karena masih memikirkan mau melamar kerja atau melanjutkan bisnis. Tetapi ayahnya mengambil alih apa yang diinginkan Ali menjadi pebisnis, profesional. Yaitu memutuskan secara sepihak, mungkin niatnya baik, tetapi tidak tepat dengan anaknya yaitu diminta untuk bekerja di korea. Karena ali belum berpenghasilan, akhirnya Ali menuruti kemauan dan keputusan ayahnya mendaftar di lembaga bahasa korea. kesal, tidak maksimal belajar bahasa korea. karena yang diinginkan Ali financial freedom. Tiga bulan ia menjalani aktifitas sebagai murid bahasa korea, di waktu itu, Ali pergi ke Purwokerto, dengan niat sebagai solusi karena tidak mau melanjutkan sekolah bahasa korea. yang menjadikan ia datang dan menemui kedua orang tua wanita yang ia cinta. Ali mengutarakan maksud dan tujuannya dengan berani dan percaya diri ingin menikahi anaknya. Baru kali ini Ali begitu berani dan percaya diri, semangat untuk silaturahmi ke orang tua wanita. Namun, wanita yang ia cinta menolaknya karena Ali belum bekerja. Ali tidak pantang menyerah, tetap optimis dan yakin bahwa atas izin-Nya kelak nanti menikahinya.
Bersyukur, bulan maret 2020 di dunia sedang di uji oleh Allah. berupa pandemi covid-19, yang mengakibatkan tenaga kerja Indonesia tidak diperbolehkan berangkat ke luar negeri termasuk korea. Alhamdulillah, saya tenang, terus belajar dan yakin bahwa pandemi ini membawa hikmah kepada saya. Keyakinan itu terwujud atas izin-Nya. Berikut beberapa hikmah covid-19 yang saya dapat :
1. Berbakti kepada orang tua
Sejak adanya pandemi covid-19, saya stay dirumah karena tidak boleh adanya perkumpulan. Sekolah pun diliburkan sampai waktu yang belum ditentukan. Saya dirumah belajar memasak, mulai dari sayuran, goreng ikan, telor dan lain-lain untuk makan ayah, adik dan saya sendiri. Merawat rumah, menyapu, mengepel lantai.
2. Ditawari bekerja dan langsung diangkat sebagai Head of Marketing Public Relations di Edu Learning Academy.
Sejak saya dirumahkan, saya banyak tiduran, dan belum banyak penghasilan. Sehingga, ayah menyuruh saya untuk bekerja. tetapi karena saya tidak mau bekerja atau melamar kerja saya tetap di rumah saja. Sampai 3 hari setelah idul fitri, saya di telepon oleh Coach Syahidin, beliau memberikan kesempatan untuk saya berkarya di dunia pengembangan diri. Dengan semangat dan antusias saya bersedia menerima kesempatan yang diberikan. Alhamdulillah, Sekarang saya kerja di perusahaannya sebagai kepala marketing. Membangun tim penjualan, membina hubungan internal dan eksternal. Wasilah Edu Learning Academy Alhamdulillah atas izin Allah, saya melamar seorang wanita orang Teluk, Purwokerto.
3. Melamar wanita yang disuka
Keyakinan dan kepercayaan optimis Ali sangat kuat, membuktikan mampu bekerja dan mendapat penghasilan. Modal untuk melamar, tukar cincin, yang kedua orang tuanya menyetujui Ali. Dan perempuannya menerima maksud dan kedatangannya dengan mantap, yakin atas izin-Nya. Sekarang sudah lamaran dengan tanda tukar cincin di jari manisnya.
4. Kembali on the track pada impiannya.
Pada saat sekolah bahasa korea, impian Ali sempat tertunda menjadi seorang trainer, coach karena tidak bisa focus dan Alhamdulillah covid-19 menjadi wasilah kembali pada jalan menuju impiannya.
“Ketenangan hati, jiwa dan pikiran itu sangat penting karena dengan kita tenang, alam semesta ikut serta membantu mewujudkan impian”.
“Pikiran yang jernih karena ketenangan dapat melihat dan terbuka pintu peluang untuk meraih keberhasilan.” Kesuksesan di masa yang akan datang.
Salam bertumbuh,
Coach Gojali
Tangerang, 13 Desember 2020
\
 
Good Thinks in Every Condition

Oleh: Heru Oktavianto


“ Happiness is not the absence of problems, but the ability to deal with with them ” – Robert H. Schuller
Sebagian besar orang sering berkata bagaimana revolusi industri 4.0 bahkan ada yang menyatakan akan bergeser ke 5.0 saat ini, hal tersebut menjadi sebuah perhatian karena saat semua itu benar benar terjadi akan ada pergeseran kebutuhan, perilaku dan kebiasaan dalam kehidupan. Seringkali kita secara tidak sadar telah mengetahui dan mengikuti perubahan yang mengarah kepada revolusi industri 4.0 atau bahkan 5.0 salah satunya adalah perkembangan kebutuhan akan internet of think (IOT) serta indikator lain yang paling mudah adalah perkembangan gadget saat ini dimana segala informasi dapat kita akses dengan mudah, cepat dan relevan dengan kondisi yang terjadi.
Sampai pada saat kisaran awal tahun 2020 dimana dibeberapa negara sudah mengumumkan ditemukannya pasien yang terjangkit virus covid-19 yang mana respons nya beranekaragam ada yang hanya dianggap seperti sakit biasa walau obat atau vaksinnya belum ditemukan, bahkan ada yang sampai melock down negaranya dari dunia luar agar penyebaran virus tetap bisa terkontrol dan tidak menimbulkan banyak korban. Semua berlomba-lomba bahkan dinegara dimana kita tinggal yakni di Indonesia yang mulai di umumkan di awal bulan maret 2020 oleh pemerintah bahwa didalam sebuah pesta dansa di Jakarta telah ditemukan pasien yang tanda-tanda terinfeksi virus covid-19.
Sebuah perubahan serta pergeseran kebutuhan, perilaku dan kebiasaan baru mulai dirasakan dari mulai terjadi pembatasan-pembatasan di beberapa daerah di Indonesia, termasuk seruan di awal gerakan untuk 3M (mencuci tangan, memakasi masker dan menjaga jarak) untuk meminimalkan kondisi penularan virus covid-19 yang di awal di umumkan sampai dengan sekarang di Indonesia tingkat penemuan kasus baru sampai dengan pasien yang meninggal dunia masih tinggi dan dalam kategori berbahaya. Sampai dengan pemerintah mengeluarkan bahwa semua elemen masyarakat harus mulai hidup berdampingan dengan covid 19 dengan istilah baru new normal yang banyak dimaknai berbeda di beberapa kalangan.
Menurut teori kebutuhan abraham maslow dimana kebutuhan dasar manusia terkait pangan yang banyak dibutuhkan telah bergeser 1 tingkat di atasnya yakni harus dibarengi dengan rasa aman dalam hal packaging, pengiriman yang bersih dan tertutup. Yang selama ini sebagaian besar orang mengesampingkan. akan tetapi, covid 19 membawa dampak kita semua semakin aware dengan kebersihan, packaging serta proses pengiriman yang bersih. Terlebih lagi adalah kebutuhan mengkonsumsi makanan bergizi saat ini menjadi sebuah kebutuhan utama guna menaikkan imunitas tubuh juga diyakini dalam masyarakat dapat menghindarkan diri dari risiko terjangkit penularan covid-19. Ditambah dengan kebiasaan baru untuk secara rutin mengkonsumsi vitamin. Hal ini, tentunya bagus yang selama ini dilupakan. akan tetapi, saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan utama.
Perubahan atas perilaku juga mengalami perubahan yang sebagian dari masyarakat belum faham betul tentang arti menjaga kebersihan diri dengan contoh kecil adalah kebiasaan mencuci tangan yang dulu tidak menjadi sebuah kebiasaan saat ini hal tersebut telah menjadi sebuah keharusan hal ini terbukti di segala kegiatan yang akan kita lakukan kita selalu mencuci tangan terlebih dahulu serta fasilitas untuk cuci tanganpun lebih mudah didapatkan atau di akses termasuk pada fasilitas-fasilitas umum yang ada semua sekarang dengan mudah tersedia untuk tempat mencuci tangan, tidak lah lupa perilaku untuk memakai masker tidak hanya saat berkendara akan tetapi sekarang di setiap aktivitas yang dilakukan sekarang telah menjadi sebuah kebiasaan dan wajib menggunakan masker hal ini tentunya saat baik untuk mencegah penularan virus covid-19 yang metode penularannya melalui droplet di udara. Selain daripada itu perilaku untuk menjaga jarak satu sama lain saat berada di kegiatan yang mengundang banyak orang juga telah mengalami perubahan dimana saat ini jarak aman adalah 1 – 2 meter per orang dan kegiatan dilakukan di ruang terbuka atau dengan akses sirkulasi terbuka hal tersebut dapat pula meminimalkan risiko penularan virus covid-19.
Kebiasaan dalam lingkungan pekerjaan juga terjadi perubahan yang signifikan. dimana sebelumnya, pekerjaan dilakukan secara rutinitas dihari kerja dari jam kantor yang telah ditentukan manajemen atau instansi tempat bekerja. Saat ini, telah terjadi pergeseran dengan istilah work from home hal tersebut di awal – awal memang tidak mudah bagi beberapa kalangan. akan tetapi, perlahan tetapi pasti kebiasaan baru tersebut mau tidak mau suka tidak suka telah menjadi sebuah kebiasaan. Yang mana beberapa kegiataan yang berubah seperti pertemuan, pelatihan, rapat dilakukan secara offline saat ini telah beralih menggunakan online tentunya hal tersebut menjawab yang selama ini kita sampaikan bahwa era industri 4.0 bahkan 5.0 telah sampai di Indonesia dan telah menjadi sebuah keharusan untuk dilakukan. Tentu, dengan kegiatan yang serba online kebutuhan akan akses internet menjadi kebutuhan utama. Pandemi covid-19 telah mengajarkan bahwa fleksibilitas tempat, akses dan biaya dapat dicapai dengan produktifitas yang selayaknya sama dengan sebelum pandemi terjadi, ini lah perubahan yang dipaksa oleh keadaan akan tetapi sangat efektif untuk dapat menjadi sebuah tantangan pola baru kebiasaan dengan tidak menurunkan produktifitas dalam bekerja. Di lingkungan pendidikan juga terjadi perubahan sebuah aktivitas akademik putra-putri kita yang selama ini dilakukan secara tatap muka offline sesaat setelah pandemi ini beralih menjadi online, tidak hanya siswa nya yang dituntut berubah akan tetapi dari sisi pengajarnya juga harus merubah metode pembelajaran termasuk regulasi dalam dunia pendidikan juga seyogyanya menyesuaikan yang mana memberikan tingkat fleksibilitas tinggi untuk para siswa termasuk suasana pembelajaran yang menyenangkan via online harus diciptakan agar siswa didik tidak timbul rasa kebosanan dan tidak ada rasa jenuh dalam hal mengikuti pembelajaran yang dilakukan secara online. Tidak mudah akan tetapi hal tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan, tentu harus dibarengi dengan program konseling ketat dari tenaga pendidikan kepada para siswa maupun kepada orang tua siswa yang memegang peranan penting membimbing siswa saat di rumah.
Pandemi covid-19 telah mengajarkan bahwasanya perubahan itu bisa terjadi dengan 2 kondisi yakni 1. Sesuai keinginan pribadi masing-masing, dan yang ke- 2. Perubahan karena kondisi yang terjadi dan pandemi covid-19 ini salah satunya yang memaksa sebagain besar dari diri pribadi kita berubah dari kondisi normal menuju kondisi new normal dan mulai hidup berdampingan dengan pandemi ini. Tidak mudah kita akui akan tetapi disaat semua orang berubah alangkah kita patut merasa bahagia mengikuti perubahan tersebut karena tidak kita lakukan sendiri akan tetapi dengan banyak orang di sekitar kita. Kita semua harus bangkit dalam kondisi pandemi covid-19 ini tidak hanya bergantung kepada ketersediaan vaksin saja akan tetapi kebiasaan baru yang sudah kita mulai seyogyanya bisa kita lakukan sampai kapanpun sampai kepada anak cuci kita kelak tau bahwa pandemi covid-19 ini telah mengajarkan banyak hal-hal baik yang bisa dilakukan. Saat menulis ini penulis sedang divonis covid-19 dan sedang berjuang untuk sembuh di dalam ruang isolasi salah satu rumah sakit yang berada di surabaya hal ini menjadi sebuah semangat dan pesan bahwa virus covid-19 ini ada nyata bukan khayalan atau propaganda politik semata. SALAM SEHAT KAWAN .

 
Nafas Kehidupan

Oleh: Suhandi


Pagi yang indah ketika ingin memulai aktifitas, di saat itu dikagetkan dengan adanya penyebaran Virus Corona yang berganti nama menjadi Covid-19. yang dikira saat itu hanya melanda di Negara Panda. Saat itu, masih banyak yang beraktifitas seperti biasa dan berpergian keluar negeri hingga akhirnya menyebar ke berbagai Negara termasuk Indonesia dengan sangat cepat.
Bagaimana tidak mengkhawatirkan dan setiap orang menjadi ketakutan dengan adanya COVID-19, apalagi setiap harinya disajikan dengan berita penyebaran COVID-19 baik media massa, televisi, intenet bahkan melalui social media dan pesan elektronik hingga diumumkannya social distancing oleh pemerintah. Ketika itu, mulai masyarakat berlomba-lomba mencari Hand Sanitizer, Masker dan membeli kebutuhan pokok seperti beras, minyak, gula, hingga seiring pertumbuhan demand maka barang-barang menjadi langka.
Tingkat kematian pun setiap harinya meningkat, terlebih jika menyerang kepada yang memiliki riwayat penyakit kronis maka tingkat kesembuhan menjadi lebih kecil. Hal itu membuat kita harus menyadari pentingnya nafas kehidupan bagi diri kita.
Setiap pagi, siang, dan malam hari penting bagi kita untuk selalu bersyukur dengan nafas kehidupan kita. Banyak orang tidak menyadari selama kita memiliki nafas kehidupan, selama itulah kita mampu untuk memperjuangkan kehidupan dan impian kita. Biasakanlah diri kitauntuk menghargai nafas kehidupan kita setiap pagi, siang, dan malam hari.
Setiap pagi setelah kita bangun tidur sejenak pejamkan mata, tarik nafas, hembuskan dan tersenyumlah sebagai rasa syukur dan awal kita untuk memulai kegiatan. Sejenak siang hari di sela aktifitas kita, pejamkan mata dan tarik nafas, hembuskan dan terseyumlah sebagai rasa syukur dan menguatkan kembali semangat kita.
Sejenak malam hari sebelum tidur, pejamkan mata, tarik nafas, hembuskan dan tersenyumlah sebagai rasa syukur kita telah menjalankan beraktifitas dan akan melepas lelah kita di hari ini. Bahkan ketika sudah membiasakan diri maka akan menjadi bagian dari kehidupan sehari –hari hingga akan meningkatkan kesadaran diri kita akan keindahan nafas kehidupan kita dan kita masih bernafas hingga saat ini. Bagi penulis sendiri COVID19 memberikan perenungan bagii kita semua akan kematian dan kelahiran, membuat kita menjadi berpikir kreatif dan pola hidup sehat dan bersyukur sekali saya di situasi COVID19 penulis juga diberikan Tuhan anak ke 2 yang saya beri nama Vianne Gracelia Grania, nama yang saya pilih dengan arti Alive (kehidupan). Jadi COVID19 banyak memberi arti bagi kita semua yang intinya nafas kehidupan. Sudah beryukurkah anda hari ini?
Bagi yang ingin berbagi apa arti nafas kehidupan bagi pembaca bisa tag melalui instagram saya @suhandies sehingga dapat menginspiratif banyak orang.
“ Selama kita memiliki nafas kehidupan, selama itulah kita mampu untuk memperjuangkan kehidupan dan impian kita”. – Suhandi  

 
Hikmah Covid-19

Oleh: Rosnila Hura


Sejak tanggal 2 Maret penyakit yang diakibatkan virus corona atau yang dikenal dengan istilah covid-19 telah menyebar di Indonesia. Dari sejak munculnya hingga hari ini sudah melewati 10 bulan hidup di masa covid. Suatu waktu yang tidak singkat. Munculnya covid-19 ini telah membuat seluruh lapisan masyarakat tidak berdaya. Covid-19 bukanlah penyakit yang biasa, tetapi penyakit yang mematikan yang bisa menyerang siapa saja. Covid-19 tidak membedakan miskin atau kaya, muda atau tua, orang beragama atau tidak beragama, maupun rakyat biasa atau orang yang memiliki kedudukan atau jabatan tertinggi di negri ini. Intinya bahwa covid ini akan menyerang siapa saja yang dia mau.
Ribuan juta orang telah menjadi korban meninggal dari covid-19, dan dimakamkan tanpa kehadiran dari orang-orang terdekat mereka. Memang sungguh sangat menyedihkan, siapapun tidak ada orang menginginkan hal ini tertjadi, tetapi juga tidak ada satupun yang bisa membendungnya. Virus ini bisa menular dari satu orang ke orang lain melalui batuk, bersin dan kontak fisik dengan orang lain seperti berjabatan tangan. Pemerintah pusat pun berupaya untuk menekan laju perkembangan jenis penyakit ini. mulai dari pemerintah meminta agar masyarakat tidak melakukan kontak fisik dengan orang lain termasuk dalam hal berjabat tangan, menghindari pertemuan dengan banyak orang dan menunda acara yang mengundang banyak orang, tetap di rumah atau tidak berpergian kecuali karena alasan yang sangat penting.
Akibat dari covid-19 ini, memberi dampak dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, antara lain:
1. Kehidupan sosial masyarakat mengalami perubahan. Sebelum ada Covid melanda seluruh wilayah, maka kehidupan masyarakat sangat hangat, kehidupan kekeluargaan diantara sesama masi terasa kental sekalipun tidak ada hubungan keluarga. Tetapi ketika covid ada merubah kehidupan sosial dimana orang takut mendekat dengan keluarga orang yang sudah terkonfirmasi positif, bahkan sempat terjadi penolakan kepada beberapa orang yang tinggal di kos, penutupam jalan dan lain-lain, bahkan sering diperdengarkan dalam berita bahwa tenaga medis yang tinggal di kos diusir ketika pulang ke kosnya. Sungguh ironis bahwa makhluk yang sangat kecil dan tak terlihat dengan kasat mata manusia, mampu menghancurkan kehidupan sosial banyak orang.
2. Terjadi PHK kepada para pekerja. Hal ini diakibatkan menurunnya pemasukan dari perusahaan sehingga membuat perusahaan tidak mampu membayar para pegawainya, sehingga pilihannya adalah memberhentikan beberapa karyawan dalam perusahaan. Pemberhentian para karyawan ini mengakibatkan bertambahnya jumlah penggangguran, dengan bertambahnya jumlah penggangguran maka semakin meningkat pula tingkat kemiskinan di seluruuh wilayah Indonesia. Namun dibalik dampak yang buruk itu, tentu ada dampak positif, atau ada hikmah dibalik menyebarnya wabah covid-19. Hikmah yang dimaksudkan atara lain:
1. Sebagian besar masyarakat mulai terbiasa dalam mendisiplinkan diri untuk menjaga kesehatan dengan mengikuti protokol dan aturan-aturan yang berlaku untuk menekan laju penyebaran covid ini. Aturan-aturan yang dimaksudkan adalah, menggunakan masker, mencuci tangan, dan jaga jarak. Sebelum muncul covid-19, sedikit sekali masyarakat yang peduli dalam menggunakan masker dan cuci tangan. Tetapi setelah ada covid-19 maka walaupun tidak 100 persen penduduk Indonesia menggunakan masker dan cuci tangan, namun tetap dapat dipastikan pengguna masker dan yang mencuci tangan mengalami peningkatan.
2. Ada kesempatan bagi orang tua untuk mendampingi putra-putrinya dalam belajar. Hal ini disebabkan dimasa covid ini anak-anak sekolah tidak belajar di sekolah seperti biasanya, melainkan belajar di rumah. Tentu saja ketika belajar di rumah, maka mau tidak mau orang tua menggantikan peran guru untuk mengajarkan, menuntun maupu mendampingi anak-anaknya dalam belajar. Dengan orang tua mendampingi anak-anaknya maka, orang tua dapat mengetahui secara langsung perkembangan belajar anaknya. Mungkin juga ada orang tua yang kesulitan dalam mendampingi anak karena faktor pengetahuan orang tua, tetapi yang terpenting di sini adalah waktu yang diberikan orang tua dalam melihat, menemani anak jauh lebih banyak dari pada ketika anak datang kesekolah dan belajar. Tetapi bagaimanapun kuatnya dan hebatnya virus covid-19 ini namun ada pribadi yang lebih berkuasa darinya, karena semua yang terjadi diyakini Allah mengetahui. Dalam peritiwa ini memperlihatkan kepada kita akan ketidak berdayaan manusia dan sekaligus memperlihatkan kemahakuasaan Allah. Kita diajar untuk bergantung kepada Allah, dan pada kehendak-Nya. Tidak selamanya hidup ini suram ada saatnya kesuraman akan berakhir dengan kebahagiaan.

 
Cintaku Yang Kembali

Oleh: Anisa Rahmadina


Awal virus Covid-19, Posisi aku itu bekerja sebagai kasir di Alfamidi. Saat itu keluarga khawatir bahkan sangat cemas karena pekerjaan aku yang melibatkan ketemu banyak orang. Dimasa semua orang dirumahkan, aku tetap bekerja. Segala keperluan untuk melindungi diri disediakan dari tempat kerjaku. Aku bersyukur karena pada saat pandemi banyak yang di PHK aku tetap bekerja. Aku percaya virus itu ada, tapi keyakinanku adalah ketika imun tubuh kita kuat maka virus akan mati dengan sendirinya.
Di awal virus ada aku masih terus dapat penghasilan perbulan, aku bisa mencukupi kebutuhan keluarga aku yang diwaktu pandemi dagangan bapak saya sepi. Selalu bersyukur dalam setiap kejadian karena semua itu sudah menjadi kehendak sang Kuasa.
Dipandemi ini aku mendapatkan hikmah yang selama ini aku selalu perjuangkan lewat doa. Ditinggalkan oleh orang yang sangat aku cintai. Dia sangat berarti untuk kehidupanku, ditulisan ini aku mau bilang kesemua pembaca kalau dia adalah cintaku yang saat sempurna. Membuat hari-hari aku selalu bahagia dengan kesederhanaan, membuat aku menjadi wanita yang sangat bahagia karena merasa dicintai dengan tulus. Setelah berbulan-bulan dia menghindari aku, menjauhi aku, bahkan seolah tidak ingin mengenalku lagi. Dia pergi dengan alasan sudah tidak ada rasa secara tiba-tiba, bisa bayangkan bukan? bagaimana hancurnya hati aku saat itu. Yaa perginya dia memang menyiksa tapi membuat aku banyak belajar untuk memperbaiki diri, berat pasti tapi aku banyak bersyukur dari hal itu. Tapi diwaktu itu aku dipertemukan kembali dengannya, sengaja atau tidak aku percaya itu kehendak Allah. Tidak banyak bicara, hanya menatap dan mulai mendekat. Bahagiaku bertambah dimasa pandemi ini, tapi sepertinya dia masih ingin bermain denganku. Pernah memintanya untuk bertemu lagi tapi Allah berkehendak lain, dia sudah pulang ke kampung halamannya di Sumatera.
Kedekatanku dengannya masih berlanjut, tapi ternyata dia trus membohongiku. Aku sudah mulai memaafkan dan mengikhlaskan dan berusaha menjalani kembali dengannya. Ternyata dia masih dengan wanitanya yang menemaninya sebagai penggantiku. Dihancurkan kembali hati dan hidupku karena sikapnya. Aku memutuskan untuk lebih mengikhlaskan lagi, aku hanya mampu mendoakan dan doakan selalu disetiap solat, yang menjadi senjataku adalah doaku disepertiga malamku. Bapakku bilang disaat aku selalu menceritakan kesedihanku, “Ikhlaskan apapun hal yang menyedihkan, ikhlaskan siapapun yang menyakitimu, maafkan dengan rasa tulus maka kebahagiaan yang kamu dapatkan.” Ya aku menerapkannya.
Ntah takdir atau bagaimana, disaat aku mulai mengikhlaskan, dia datang kembali padaku. Awalnya aku berusaha cuek tapi perasaan tidak bisa dibohongi, aku masih sangat mencintai dia meskipun sudah setahun kami pisah. Dia balik lagi ke pulau Jawa, aku bahagia sangat bahagia, dipertemukan bahkan didekatkan. Hatiku yakin ini jawaban doaku disetiap solat malamku. Tidak pernah putus doaku untuknya, doaku untuk disatukan oleh orang yang aku cintai.
Aku punya keyakinan kalau dia sangat mencintaiku, walaupun aku tau dia pernah bersama wanita lain dan pernah bilang sudah tidak ada perasaan apapun kepadaku. Allah maha besar, beginilah caramu mengembalikannya. Alhamdulilah aku sangat bersyukur dipandemi ini Allah mengembalikan cintaku. Banyak pelajaran diperpisahan kita, dan akan kita perbaiki dihubungan kita yang sekarang. Covid-19 buat aku itu indah karna membawa cintaku pulang.
Aku sangat mencintainya tapi tidak akan melebihi cintaku untuk yang menciptakannya. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk hubungan ini, dan diberikan kelancaran untuk niat baik kita ibadah dengan menikah, aamiin. Ya Allah kejadian menurutku yang kebetulan aku yakin semua sudah menjadi rencana-Mu yang kau kehendaki.
Kami sedang dipisahkan kembali perihal jarak, ya tapi tak masalah karena hati kita selalu dekat. Untuk kamu, jaga dirimu dipandemi seperti ini, aku akan menunggumu sampai kamu kembali dan meminta ke orang tuaku untuk menikahiku. Aku yakin kekuatan cinta itu nyata.
Sudah yaa sekian aja, pesan Nisa jangan pernah takut mencintai seseorang, sekalipun menyakitkan untukmu percayalah jika cinta itu ditakdirkan menyatu maka sesakit apapun akan bersatu. Cintailah orang dengan tulus, karena akan ada vibrasi untuk rasa tulus.

 
Berdamai Dengan Covid 19

Oleh: Immanuel Yosua T


Bagaikan hantu di siang bolong, perlahan namun pasti, Coronavirus Disease 2019 (Covid 19) tiba-tiba menyeruak menjadi sosok yang menakutkan. Dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, sejak ditemukan pertama kali di Wuhan 2019 lalu, virus ini telah merengut jutaan nyawa. Di Indonesia, data per 30 Desember 2020 korban meninggal telah mencapai 21.944 jiwa dari 725.124 orang yang terkonfirmasi positif Covid 19. Jika dihitung sejak akhir Februari, di mana 2 orang warga negara Indonesia ditemukan positif menderita Covid 19 dan pemerintah mengumumkan secara resmi Covid 19 telah masuk ke Indonesia, angka kematian rata-rata akibat Covid 19 mencapai sekitar 2.194 jiwa perbulan.
Tingginya angka kematian ini, sedikit banyak membawa kekuatiran dan ketakutan tersendiri untuk melakukan interaksi dan aktivitas rutin yang melibatkan orang lain. Terlebih, bagi kita yang harus menerima fakta kehilangan karena meninggalnya teman, saudara bahkan suami/istri/anak/orang tua karena Covid 19. Sebagai akibat dari hal tersebut, berbagai pembatasan interaksi dilakukan baik secara pribadi maupun secara resmi oleh pemerintah. Tak ayal, hal ini memunculkan permasalahan baru di berbagai aspek kehidupan. Terhambatnya roda ekonomi yang menyebabkan berkurangnya bahkan hilangnya penghasilan sebagian orang, kesulitan orang tua dan anak karena proses belajar mengajar dilakukan dari rumah, pembatasan ibadah di tempat ibadah serta beberapa hal lainnya menjadi permasalahan yang mengikuti perkembangan Covid 19. Sedih, kecewa, jengkel dan berbagai perasaan negatif lainnya menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, sejak pandemi covid 19 ini melanda. Berbagai bentuk ekspresi mulai dari umpatan, ungkapan kejengkelan dalam bentuk curhat hingga tetesan air mata tanpa ucap kata karena ditinggal kerabat atau orang terdekat yang terenggut nyawanya menjadi hal yang lazim terjadi. Perkembangan tehnologi informasi dan komunikasi membuat segala bentuk ekspresi tersebut dapat kita akses tiap hari baik melalui media daring, televisi, radio maupun media massa lainnya.
“Sedih rasanya, baru minggu lalu kita bersenda gurau, tiba-tiba hari ini anak saya telah pergi meninggalkan saya untuk selama-salamanya. Covid 19 memang mengerikan,” ungkap salah satu ibu yang baru saja kehilangan anaknya karena terinveksi Covid 19. Ungkapan ini mewakili ungkapan ribuan orang yang harus kehilangan anggota keluarga dan kerabat dekat mereka karena infeksi virus ini. Ungkapan ini akan terus berpadu dengan ungkapan negatif lain sebagai akibat dari dampak yang ditimbulkan oleh varian dari flu burung ini. Tak dapat dipungkiri, berbagai bentuk pembatasan, perpisahan, penderitaan dan permasalahan lain yang diakibatkannya, akan membuat orang jengkel, kecewa, marah dan beragam perasaan lainnya terhadap Covid 19. Ini memang reaksi yang wajar. Namun, fakta lain yang tak dapat dipungkiri pula, virus ini memang ada dan akan terus menyebarkan infeksi yang memakan korban jiwa sebagaimana naturnya.
Bertolak dari kondisi tersebut, sepertinya, sikap dan reaksi negatif yang ada tidak akan menyelesaikan masalah. Perlu adanya sikap atau pola lain yang dipakai dalam mensikapi keberadaan Covid 19 agar lebih produktif dan solutif. Salah satu reaksi atau pola yang tepat terkait dengan ini adalah “Berdamai dengan Covid 19”. Memahami Makna Perdamaian
Berdamai dengan Covid 19, sebuah pernyataan yang mungkin agak asing di telinga kita, sebab istilah damai atau perdamaian biasanya diperuntukkan untuk pihak-pihak yang sedang terlibat pertengkaran, perkelahian dan yang sejenisnya. Ya, sekilas memang terlihat aneh dan tidak tepat, namun ketika dilakukan penelusuran mendalam, karena akibat yang dimunculkannya, dari kematian hingga kesulitan kehidupan sosial ekonomi, secara eksplisit maupun implisit Covid 19 telah dianggap sebagai musuh bersama yang harus diperangi dan dibasmi agar dampak negatif yang ditimbulkannya dapat berhenti.
Berdamai dengan Covid 19 mengandung makna perubahan sikap negatif yang selama ini muncul menjadi sikap yang proporsional dan melihat kehadiran Covid 19 sebagai bagian dari dinamika kehidupan yang lazim terjadi. Sebgaimana penyakit dan juga virus yang hadir dalam sejarah kehidupan manusia, Covid 19 hadir dalam satu periode kehidupan manusia sebagai bentuk dari keseimbangan alam yang harus terjadi.
Sikap wajar terhadap kehadiran Covid 19 tercermin dari sikap proporsional terhadapnya. Yang dimaksud dengan sikap proporsional adalah sikap yang berimbang dan tepat. Sikap ini diimplementasikan dengan melihat bahwa setiap kejadian yang tidak diinginkan seperti kematian, kesulitan ekonomi dan kesulitan belajar, semata-mata bukan diakibatkan oleh Covid 19 namun disebabkan oleh faktor atau keadaan lain di balik sebuah peristiwa. Sebagai contoh misalnya, kematian yang terjadi terhadap seseorang, dalam kerangka religius (agama dan keyakinan) harus dilihat sebagai takdir atau kehendak dari Tuhan Yang Maha Esa. Apapun penyeba dan bagaimanapun proses kematian yang terjadi, jika Tuhan telah menetapkan waktu hidup seseorang, maka penetapan tersebut pasti terjadi. Kehadiran Covid 19 hanyalah bagian dari cara kematian seseorang. Bagi penderita sakit dan gangguan fungsi tubuh tertentu, seperti hipertensi, asam lambung, jantung coroner, kehadiran Covid 19 di satu sisi memang akan mempertinggi resiko dan dapat menyebabkan risiko kematian dari penyakit yang dideritanya makin tinggi. Namun kembali, terkait dengan kematian kehendak Tuhan terkait dengan usia seseorang menjadi faktor dari kematian.
Dalam kehidupan sosial, kehadiran Covid 19 sebagai faktor yang menyebabkan perubahan model interaksi sosial dari tatap muka penuh kehangatan menjadi komunikasi yang berjarak, karena menggunakan sarana komunikasi, haruslah dilihat bukan sebagai hal negatif yang merusak komunikasi sosial. Perubahan yang terjadi harus dilihat sebagai dinamika kehidupan sosial yang mengarah pada perubahan pola komunikasi. Dalam sejarah perkembangan komunikasi antar manusia, perubahan model komunikasi merupakan hal yang wajar dan pada titik tertentu akan memunculkan pola komunikasi yang lebih efektif maupun efisien. Perubahan yang terjadi bukan karena kehadiran Covid 19 semata.
Demikian pula dengan dunia pendidikan, sikap negatif terhadap Covid 19 yang diimplementasikan dengan menuding Covid 19 sebagai penyebab kesulitan yang dihadapi oleh orang tua, anak dan guru dalam proses pembelajaran harus diurai kembali menjadi sikap proporsional. Berpandangan bahwa perubahan yang terjadi semata bukan karena Covid 19 namun karena faktor lain, misalnya perkembangan tehnologi informasi dan komunikasi juga faktor lain adalah bentuk sikap proporsional yang dapat diambil. Selain itu melihat sisi positif dalam perubahan proses pembelajaran dari kehadiran Covid 19 merupakan bagian dari sikap positif yang dimaksud.
Dalam kehidupan peribadatan atau keagamaan dan juga sektor lain, sebagaimana bidang lain, berdamai dengan Covid 19 mengandung makna perubahan sikap dari hanya menyalahkan Covid 19 menjadi sikap proporsional yang memberi ruang kepada dampak positif dan juga faktor lain yang menyebabkan terjadinya perubahan pola interaksi dalam pola ibadah dan sendi kehidupan lainnya.
Singkat kata perdamaian dengan Covid 19 bermuara pada perubahan paradigma negatif terhadap Covid 19 menjadi paradigma proporsional (bermuara pada keberimbangan) yang memandang ada sisi positif dari kehadiran Covid 19 dan adanya faktor lain di luar Covid 19 sebagai penyebab permasalahan dalam kehidupan kurun waktu ini.
Mewujudkan “Damai Dengan Covid 19”
Secara perlahan namun pasti, Covid 19 telah menjadi bagian integral dari kehidupan manusia. Pola kehidupan secara perlahan namun pasti telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan. New Normal (Kondisi Normal Baru) atau juga AKB (Adaptasi kebiasan baru) menjadi parameter adanya integrasi antara kehidupan sehari-hari dengan kehadiran Covid 19 di dalamnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa “berdamai dengan Covid 19” bukan hanya menjadi angan atau gagasan semata, namun telah menjadi rumusan pola hidup baru yang dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.
AKB (Adaptasi kebiasan baru) sebagai bagian dari perdamaian dengan Covid 19 dalam tatanan rumusan pola hidup baru dapat dirumuskan menjadi beberapa sikap dan langkah praktis agar dapat mengambil nilai positif dari perubahan yang terjadi. Adapun 5 langkah praktis yang dimaksud, diantaranya adalah :
1. Memandang Covid 19 sebagai anugerah Ilahi : Secara religius atau spiritual, kehadiran Covid 19 harus dipandang sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa kepada umat manusia khususnya manusia Indonesia. Melalui kehadirannya, manusia kembali diingatkan beberapa hal yaitu : pertama, hidup mati manusia semata hanya karena takdir atau kehendak Tuhan, sehingga ketika ajal sudah menjemput tidak ada yang dapat menolaknya; kedua, Setiap detik kehidupan adalah waktu yang harus dipertanggung jawabkan dengan baik, sehingga menjaga kesehatan merupakan salah satu tanggung jawab pribadi kepada Tuhan; Ketiga, Kasih dan kepedulian terhadap sesama manusia tanpa memandang latar belakang, merupakan bagian dari tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada manusia ketika ia hidup. Kehadiran Covid 19 membutuhkan adanya sikap ini.
2. Melihat sisi positif dari kehadiran Covid 19 : Selain melihat kehadiran Covid 19 sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa dalam konteks religius, melihat sisi positif dari kehadiran virus ini juga dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan di era AKB. Yang dimaksud dengan mengambil sisi positif tersebut adalah dengan melihat hal positif dari pembatasan interaksi langsung maupun hal lain yang selama ini dianggap negatif. Sebagai contoh dari hal tersebut, dalam kehidupan interaksi keluarga, kebijakan work from home (WFH) membawa peningkatan intensitas pertemuan dan interaksi antar anggota keluarga yang selama ini terhambat karena kesibukan orang tua yang bekerja. Kebijakan Study From Home (SFH, walau dipandang menyulitkan orang tua, dapat membawa kedekatan antara orang tua dan anak serta membawa orang tua pada kesadaran bahwa tugas mendidik anak bukanlah hal yang mudah. Sedikit banyak hal ini akan berdampak pada sikap positif orang tua terhadap guru dan perkembangan pembelajaran putra putri mereka.
3. Menerapkan protokol kesehatan dalam rangka peningkatan kualitas kesehatan : Dalam perkembangan upaya menahan laju pertumbuhan covid 19, protokol kesehatan merupakan salah satu hal yang terus dikampanyekan. Penerapan protokol kesehatan dengan bermuara pada gerakan 3 M (menggunakan masker, mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak) menjadi inti kampanye. Dalam kehidupan normal baru (New Normal) hal ini harus dilakukan bukan saja mencegah penularan Covid 19 namun juga mengarah pada peningkatan kualitas kesehatan kita. Peningkatan kualitas kesehatan menjadi hal yang harus dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas hidup yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas dan produktifitas kerja kita.
4. Meningkatkan kreatifitas interaksi dalam rangka pengembangan usaha : Perubahan pola hidup karena pembatasan interaksi menjadi faktor pendorong yang cukup kuat bagi peningkatan kreatifitas terutama dalam sektor perdagangan dan penggunaan tehnologi informasi dan komunikasi. Walaupun pada awalnya terasa berat, pembatasan yang dilakukan menyebabkan munculnya kreatifitas baru terutama dalam dunia kerja. Dinding dan sekat pembatas interaksi yang selama ini muncul dalam interaksi langsung, secara perlahan namun pasti seiring dengan pergeseran paradigma interaksi, dari paradigma tatap muka langsung menjadi paradigma interaksi berbasis media membuat kreatifitas baru yang luar biasa. Sebagai bukti dari hal ini, kemunculan start up baru dalam usaha berbasis aplikasi digital daring mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
5. Mengoptimalkan sarana digital dan daring bagi peningkatan kualitas hidup : Optimalisasi penggunaan sarana digital yang berbasis daring (dalam jaringan/online) menjadi salah satu hal yang mengalam peningkatan yang cukup pesat di tengah pandemi Covid 19. Pembatasan interaksi langsung yang terjadi membuat kita berusaha mengoptimalkan sarana internet atau sarana daring untuk melakukan interaksi dalam berbagai bentuk kepentingan, baik perdagangan pendidikan, kesehatan, ibadah maupun bidang lainnya. Secara perlahan namun pasti pola ini membentuk kebiasaan baru yang lebih produktif dan fungsional dalam beberapa sisi dibandingkan interaksi dan tatap muka langsung.
Ayo Berdamai Dengan Covid 19
Diujung pembahasan sederhana yang cukup singkat ini, ijinkan saya mengajak pembaca untuk berdamai dengan Covid 19 sebagaimana beberapa coretan di atas … Ayo berdamai dengan Covid 19 dan kita jalani kehidupan normal baru (New Normal) dengan semangat AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru).
*Immanuel Yosua, T merupakan pembelajar kehidupan yang berusaha menemukan makna dari kehadiran Covid 19. Berbagai hal yang terjadi karena Covid 19, dari kehilangan teman yang terengut nyawanya karena Covid 19 hingga berbagai manfaat dari peningkatan kualitas interaksi secara daring menjadi dasar dari penulisan coretan sederhana ini.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *