Story of Life Achievement

Penulis:
Anthony Leo SE. CH.CHt., CT.NNLP., Punguwanto Sipangkar, S.Pd., Silvia Intan Wardani, Sarah Asina Maria Sitompul, Antonius Harmanta, drg. Silviani Kesuma, S.KG,M.P.H., Ir. Jenny Ana Nihe. S.Psi., M.Pd, Pitriana, Endang Pudjiati, Y.M. Nyanasila Thera, Irra Lesmana, Imam Priagung, Sri Hariyani S.Pd., Indah Cornelia Sari, Titik Karyati, Ika Fitria, Setiawan Shaputra, Warlinah, dr. Lestari, Evanirosa, Dr. Juwita, SH.,MH., Leni Marlina, Irdaningsih, S.ST.
Kejatuhanku = (adalah) Kesuksesanku

Oleh: Anthony Leo SE. CH.CHt., CT.NNLP

“Bermimpilah Setinggi Langit “
prinsip ini selalu saya tanamkan di dalam diri saya, hingga akhirnya terwujud melalui proses yang lumayan panjang. Inilah ceritaku. 
Saya hidup dari keluarga menengah ke atas, ditahun 1998 saat krisis moneter terjadi di Indonesia. Keluarga saya jatuh BANGKRUT tanpa tersisa apapun. Disaat itu, saya mulai bekerja sambil sekolah. Saya mencoba datang ke setiap restoran untuk bekerja sebagai apapun (cuci piring, membersihkan dapur atau apapun) dengan modal nekat. Posisi saya saat itu masih SMA (Sekolah Menegah Atas), sepulang sekolah jam 4 sore, saya pergi mencari kerja part time. Kadang dapat kadang tidak.
Keluarga hidup melalui hutang kartu kredit, saya kuliah dengan keadaan ekonomi yang sangat terbatas sekali. Pindah pindah kontrakan rumah, semua karena belas kasih Anugerah Tuhan. Selama kuliah, saya kuliah setelah itu saya pergi mengajar les di lembaga pendidikan Bimbingan Belajar (BIMBEL) dekat kampus. Semua hanya untuk biaya sehari-hari saya selama kuliah. Saya melakukan hal tersebut selama kuliah hingga lulus kuliah.

Setelah lulus kuliah, karena diotak hanya berpikir bagaimana membantu orang tua dalam hal ekonomi. Saya nekat membuka les private di Apartemen ternama di Jakarta Barat dan komplek perumahan elite di Jakarta Utara. Dan menjadi Guru Sambilan di sekolah di Jakarta Utara. Saya melakukan itu selama lebih dari 6 tahun. Disini saya merasa sudah mencapai keberhasilan, di mana dari sisi Penghasilan. Saya mempunyai penghasilan yang besar 2-3x lipat dibandingkan teman seangkatan saya yang bekerja. Disini saya membelikan asuransi untuk ibu saya karena pengalaman claims dari keluarga teman.
Suatu saat, saya ditawarkan pekerjaan di Pertambangan. Dimana dijanjikan penghasilan yang sangat wow. Saya pun nekat mengambil pekerjaan tersebut. Sesampainya disana ternyata semua berbeda dengan bayangan yang ada . Tempat tinggal yang sangat jauh dari harapan, penghasilan yang jauh dari harapan. Tapi saya berusaha mengambil hal positif dari pengalaman tersebut. Singkat cerita, saya keluar dari perusahaan Tambang tersebut dan kembali ke Jakarta. Disini saya merasa sangat kecewa sekali, apa yang dahulu sudah di bangun HANCUR dalam sebuah keputusan yang menggiurkan yaitu bekerja di Pertambangan. Yang ternyata adalah pekerjaan omong kosong (mungkin karena saya bergabung dengan perusahaan yang tidak jelas kali ya..   ).
Selama di Jakarta, saya bingung harus kerja apa. Dengan uang simpanan kerja selama di Pertambangan, saya menjalankan hidup dengan seadanya saja. Suatu saat berjumpa dengan kenalan yang sudah lama tidak berjumpa tinggal dekat rumah. Saya pun mengenal suami nya dengan baik, suaminya pun kadang meminta tolong saya membantu istri nya yang sedang hamil (seperti belanja urusan dapur, dan beliin makanan saat istrinya ingin). Karena saya tidak ada kerjaan, ya saya bantu saja tanpa ada pikiran apapun. Beberapa bulan setelah saya membantu teman saya, mendadak suaminya datang kerumah saya. Maki-maki saya dan menuduh saya yang tidak benar (melakukan selingkuh terhadap istrinya). Setiap malam, suaminya datang kerumah mengancam saya dan tetangga pun banyak melihat. Saya setiap hari menjelaskan bahwa saya tidak melakukan apapun.
Saya pun akhirnya pergi dari rumah, karena hal ini menganggu kehidupan saya sekali (dituduh melakukan hal yang tidak pernah saya lakukan). Saya mencari kost dan hidup serba irit, karena hampir 6 bulan tidak bekerja sama sekali. Uang tabungan pun sudah menipis, dan hanya bisa pasrah terhadap hidup dan hampir ingin bunuh diri. Disinilah titik awal kebangkitan saya , TUHAN itu tidak pernah tidur melihat anak-anak-Nya.
Saya bertemu dengan seseorang wanita dari media sosial, beliau mengajak saya bertemu. Karena saya stres dan sedang panik karena kasus ancaman dari teman lama saya. Saya akhirnya pergi menemui beliau. Dan disana beliau menawarkan pekerjaan sebagai AGENT ASURANSI dimana system komisi, karena keadaan kepepet, saya berpikir lakukan saja karena butuh uang.
Bukan hanya hal tersebut, ternyata kasus ancaman saya pun berhasil tuntas. Teman saya (perempuan) datang dengan seluruh keluarganya meminta maaf kepada orang tua saya di rumah, karena suaminya mengancam saya melakukan hal buruk terhadap keluarga mereka. MASALAH SELESAI    , dan saya pun pulang kembali kerumah kontrakan.
Dengan pekerjaan yang baru dijalankan, karir pun meningkat. Dalam 1 tahun saya bekerja seperti orang tidak kenal lelah. Saya menawarkan ASURANSI kepada siapapun yang saya temui dimedia sosial dan lingkungan sekitar dan keluarga. Pekerjaan saya ditentang oleh orangtua dan keluarga saya sendiri, perkataan keluarga (senior tertua) “orang tua susah-susah kerja cari uang sekolahin kamu hingga kuliah, kamu jadi AGENT ASURANSI. Lebih baik gak usah sekolah aja daripada buang-buang uang” dan orang tua saya pun tidak mendukung serta mereka malu dilingkungan berkata “Pekerjaan itu banyak, kenapa harus jadi AGENT ASURANSI yang tidak ada masa depannya.”
Saya sangat sangat KECEWA, saya bekerja keras untuk menghidupi keluarga saya selama ini. Tapi saya direndahkan sebegitunya hanya karena bekerja sebagai AGENT ASURANSI..!
Saya pun tetap GIGIH dan YAKIN atas keputusan saya menjadi AGENT ASURANSI, saya bekerja semakin keras. Door to door setiap lingkungan rumah komplek per komplek. Berbicara dan mengajak, janji temu dengan teman di media sosial. PENOLAKAN sangat banyak, tapi saya yakin sekali ini adalah MASA DEPAN saya.
Singkat cerita, saya berhasil dalam tahun ke 1, saya mendapatkan PROMOSI ke MANAGER dan jalan jalan ke KOREA 2 tiket, saya berikan kepada orang tua saya jalan. Tahun ke 2, saya mendapatkan jalan jalan ke CINA saya kasih ke orang tua saya. Tahun ke 3, saya mendapatkan PROMOSI ke SENIOR MANAGER serta jalan jalan ke CINA dan diberikan ke orang tua saya.
Tahun ke 4, saya mendapatkan jalan jalan ke MONGOL saya berikan kepada orang tua saya pula dan tahun ke 5 saya mendapatkan jalan jalan ke JEPANG (terkena covid 19, sehingga tidak bisa pergi jalan jalannya).
Selama 5 tahun saya menjalankan ASURANSI, saya menghidupi semua kebutuhan dasar keluarga saya berlimpah. Rumah kontrakan saya bayarin selama itu, makanan pun sudah 4 sehat 5 sempurna, jalan jalan untuk refreshing dan kebutuhan PROTEKSI keluarga saya lengkap dan juga belanja belanja untuk mereka.
Ditahun ke 4, saya, senior yang merekrut saya melakukan hal yang tidak menyenangkan hati saya. Kami bertengkar dan dia melakukan hal-hal yang tidak baik. Bisnis saya pun hancur di asuransi. Sehingga saya harus memulai kembali dari awal bersama orang lain lagi, membangun dari dasar kembali.
Bukan hanya itu, saat keadaan sedang sulit secara ekonomi (karena TEAM saya hancur) dan mental stres butuh uang. Saya pun mengalami kejadiaan yang menghancurkan hati saya, dimana orang-orang yang saya cintai menyerang saya juga. Dimana orang tua saya mengatakan bahwa tidak mau tinggal dirumah saya yang kecil karena kayak KANDANG ANJING diusia senja mereka. Kekasih saya pun meninggalkan saya, kekasih saya mengatakan hal hal buruk tentang saya dan meninggalkan saya dengan kata kata terakhir nya yang sangat menyakitkan “Jika saya menikah dengan kamu, maka saya akan membunuh orangtua nya jika saya ditegur atau dinasehati.”
Di dalam pengalaman saya menghadapi senior saya yang menyebalkan ini dan saya ditinggalkan sendiri oleh orang orang yang saya sayangi. saya belajar banyak hal dengan merubah hidup saya, saya banyak membaca buku, saya belajar dari senior senior yang berpengalaman dan saya bertemu dengan banyak orang yang ternyata memberikan saya banyak sumber income yang luar biasa sekali. Saya bertemu dengan teman yang ternyata beliau adalah TRAINER NLP dan MOTIVATOR. Saya bertemu dengan teman yang mengajarkan saya tentang FOREX dan SAHAM. Saya bertemu juga dengan teman yang mengajak saya menjadi AGENT PROPERTY. Dan dari ke-4 penghasilan saya tersebut. Saya bertemu dengan teman yang mengajarkan saya menjadi YOUTUBER.
Saya merasa YAKIN ini adalah KEHIDUPAN yang saya cari selama ini. Dengan mimpi saya mempunyai penghasilan yang tidak terkekang waktu untuk mengerjakannya. Dan dimana Covid 19 menjadi masalah buat masyarakat kebanyakan. Covid 19 ini menjadi situasi dimana saya mendapatkan banyak ilmu baru untuk bergerak semakin cepat melaju kedepan dan mewujudkan semua impian saya.
Dan saya mendapatkan pelajaran baru didalam diri saya, “Kegagalan adalah cara tuhan membawa kamu maju lebih pesat kedepan.” Hanya bagaimana respon anda terhadap hal tersebut? Tetep KUAT dan tetap belajar UPGRADE DIRI atau anda MENYERAH dengan keadaan “Dengan semua pengalaman saya, ditinggalkan oleh orang yang saya kasihi dan saya sangat sayang. SENIOR dalam pekerjaan. Saya bisa BERTAHAN dan BERKEMBANG. Apalagi teman-teman pembaca, kalian masih mempunyai keluarga yang mencintai kalian. Bahkan, kalian tidak harus menanggung kehidupan orang tua kalian, membayar kontrakan orang tua kalian. Jikalau saya BISA, kamu pun bisa mempelajarinya..
Salam sukses dan bahagia buat para pembaca semua. 

Asah Anak Desa Menuju Kota

Oleh: Punguwanto Sipangkar, S.Pd

sunyi senyap malam ini, sesunyi kalbuku yang tidak berbintang. Hiasan indah cakrawala yang beradu unjuk kemewahan sirna seketika ditelan mega hitam secara berjilid-jilid menutupi kanvas angkasa. Hujan yang turun sejak tadi siang hingga sore mengakibatkan malam cepat beranjak keperaduannya. Orang-orang di Desaku tidak seorangpun yang kelihatan melakukan aktivitas di luar rumah. Semuanya sudah berada di istananya untuk makan malam dan istirahat. Aku dan ayah juga sudah selesai bersantap malam seadanya.
Binatang-binatang malam biasanya sudah unjuk suara mengisi studio bebas memperdengarkan suara merdunya. Malam ini, sepertinya enggan bernyanyi. Para penghuni bebas alam ini juga pasti mengalami kedinginan. Demikianlah alam tidak selamanya cerah dihiasi oleh benda-benda langit di angkasa. Tuhan Yang Maha Kuasa telah mengatur alam ciptaan-Nya sedemikian rupa. Aku berpikir berpositif bahwa mendung itu tidak selamanya kelabu.
Aku menghempaskan badan pada selembar tikar pandan dan sebuah bantal untuk menghilangkan rasa lelah dan penat karena bekerja sejak tadi pagi hingga siang sebelum hujan turun. Aku berusaha memejamkan mata dengan menutupi badan dengan selembar selimut. Aku mencoba bolak-balik menggulingkan badan ke kiri dan ke kanan, tetapi mataku tidak bisa terpejam.
“Mengapa aku tidak bisa tidur malam ini? Apa yang terjadi dengan diriku?” keluh hatiku seraya memandangi langit-langit rumah. Biasanya pukul sebelas malam, mata sudah melek alias lowbat. Mungkin ini terjadi karena malam ini aku terakhir tidur menemani ayah di rumah ini. Aku harus berangkat besok ke kota untuk melanjutkan perjuangan demi mewujudkan sebuah cita-cita.
“Teman-temanku yang satu tamatan dari SMA, mungkin sudah terlebih dahulu berangkat ke kota tujuannya masing-masing untuk melanjutkan kuliah. Mereka pasti lebih siap dari aku.” Begitulah bisik hatiku membandingkan keadaan dengan orang lain dari aspek ekonomi.
Aku masih mengingat sewaktu mengambil ijazah bersama-sama dengan teman-teman sekelas. Beberapa orang diantara mereka akan melanjutkan studinya ke Pulau Jawa dengan kampus yang terkenal dan jurusan yang lumayan diperhitungkan. Sementara aku masih memeta-meta kampus dan fakultas serta jurusan apa yang sesuai dengan kemampuan ekonomi dan kemampuan intelektual. Aku terduduk dan mataku tertuju kepada ayah.
Aku melihat ayah di sudut dapur duduk bersandar ditemani sebuah lampu teplok seraya menyalakan rokok tiktaknya. Aku merasa kasihan terahadap diri dan ayah, sejak ditinggal ibu almarhumah beberapa tahun lalu. Dia akan melakukan sendiri semua pekerjaan sehari-hari, baik di ladang maupun di rumah. Aku tidak dapat membayangkan apa yang terjadi nanti terhadap ayah jika suatu saat mengalami sakit. Siapakah yang akan menolong?
“Ah…! Aku harus membuang jauh-jauh dari pikiran tentang rasa kekhawatiran ini,” gumamku sambil kembali membaringkan badan.
“Tidurlah Nak Wanto. Besok pagi kau harus berangkat ke kota. Jangan sampai ada barang-barangmu yang ketinggalan untuk dibawa besok,” tiba-tiba ayah menyebut namaku seperti memecah keheningan malam.
“Jangan terlalu banyak yang kau pikirkan tentang ayah ketika kau sudah berangkat. Ayah pasti baik-baik saja tinggal di kampung!” sambungnya lagi memberi motivasi kepadaku. “Ayo kita tidur! Ini sudah hampir larut malam. Besok pagi lekas bangun untuk persiapan keberangkatanmu”. Demikianlah ucapan terakhir ayahku malam itu.
Ayahku sangat sadar dengan ucapannya. Sebab saat aku baru tamat SMA beberapa Minggu yang lalu, aku menceritakan bahwa aku ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Ya Ayah, tidak ada lagi yang ketinggalan. Semua sudah beres. Besok tinggal berangkat”. Aku menjawab dengan nada datar.
Barang-barang yang akan kubawa besok, termasuk berkas-berkas penting dan beberapa buku sudah kumasukkan dalam rangsel. Tak lupa botol minum dan cemilan ringan seadanya untuk bekal diperjalanan.
*****@*****
Aku melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul lima pagi. Aku segera bergegas ke dapur untuk mempersiapkan makan pagi. Aku melihat nasi dan beberapa potong ubi masih ada di dalam periuk. Aku memasak air lebih banyak dari biasanya. Sebagian nanti untuk campuran air mandi, karena cuaca pagi dingin. Aku juga menggoreng ikan untuk tambahan sisa ikan yang aku makan dengan ayah tadi malam. Semua sudah beres.
Aku dan ayah duduk bersila untuk makan pagi. Ayahku meminpin doa untuk makan pagi. Dalam doa ayah, aku menangkap sebuah pesan. Semoga Nak Wanto berhasil menempuh cita-cita pendidikannya di kota yang dituju. Amin, amin,amin. Aku berangkat setelah pamitan.
Aku mengabarkan lewat surat kepada ayah di kampung, setelah sampai di kota nomor tiga terbesar di Indonesia setelah kota Jakarta dan Surabaya. Pesan ini kusampaikan kepada ayah di kampung setelah dua hari sampai di kota. Aku mejelaskan bahwa setelah sampai di kota, aku telah menemukan induk semang sebagai tempat tinggal berada di kota.
Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bahwasanya perjalanan dari kampung menuju kota berhasil dengan baik. Aku akan memfokuskan pikiran bagaimana cara mengikuti semua langkah-langkah dan prosedur untuk mendaftarkan diri mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Inilah saatnya aku akan memulai perjuangan menempuh cita-cita masa depan di kota yang kutuju. Semoga Tuhan meridoi langkahku.

Pencapaian Hidup Sukses dengan Cinta Ibu

Oleh: Silvia Intan Wardani

Berbakti kepada orang tua merupakan etika sosial yang selalu ditekankan kepada seorang anak. Berbakti adalah tanggung jawab setiap orang untuk menghormati dan menghargai orang tua. Ibu adalah wanita yang telah melahirkan seseorang. Sebutan ibu sudah tidak asing lagi ditelinga kita, sungguh besar jasa perjuangan seorang ibu sepanjang hidup penulis, sehinga tidak akan pernah sanggup dibayar oleh apapun dan dengan apapun, sehingga wajarlah bahwa surga terletak di bawah telapak kaki kaum ibu. Maka itu mari kita harus selalu menghormati dan selalu menyayangi kedua orang tua, khususnya kepada seorang ibu.
Silvia Intan Wardani adalah seorang anak perempuan dari kelurga yang biasa-biasa saja, berasal dari Bondowoso dan berniat Lulus SMA akan kuliah dengan mengambil jurusan kesehatan demi impian jika lulus dijalur pendidikan kesehatan saya dapat merawat kelurga karena dikelurga saya tidak ada yang memiliki kemampuan dalam bidang kesehatan, cita cita saya ingin kuliah di Kota pendidikan yaitu kota Malang. Keinginannya pun terpenuhi begitu lulus SMA, saya diterima di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan disalah satu fakultas di Malang. Berawal ibu tidak mengijinkan karena saya adalah seorang perempuan yang berawal tidak pernah keluar rumah bisa dikatakan kutu buku. Ibuku merasa khawatir takut terjadi apa-apa pada saya. Ibu tau pergaulan di kota besar sudah pasti berbeda dan di mana selalu apapun kebutuhan saya setiap hari, mulai sarapan, pakaian selalu ibu yang menyiapkan segala sesuatunya. Tetapi saya bertekat untuk mengejar impian saya walapaun jauh dari ibu dan saya belajar mandiri dengan menjadi anak Kos. Yang mana harus saya belajar untuk mengatur keuangan, menyiapkan pakaian sampai kebutuhan tiap harinya dan bangun pagi sampai memasak sebelum berangkat kuliah.
Pada semester akhir segi keuangan kelurgaku mengalami penurunan, di mana Papah mengalami serangan jantung dan harus membutuhkan biaya yang sangat besar dan waktu itu saatnya untuk membayar semesteran dan ujian untuk Persiapan Maju Ujian Tahap Kompetensi karena biaya untuk perawatan papah, jadi saya tidak membayar Kuliah semester, sehingga saya sempat tidak diperbolehkan untuk masuk di kelas karena belum membayar uang kuliah. Saat itu saya menangis di luar kelas karena saya binggng harus bagaimana. Saya bercerita dengan sahabat saya yaitu “Puspita, Rosa dan Kiki” mereka adalah teman seperjuangan aku ditahun 2008 di mana kita selalu duduk bersama dan saling memberi Semangat satu sama lain.
Saat itu saya ingin memutuskan untuk terminal/ atau cuti sementara tidak melanjutkan kuliah di semester akhir dan jika nanti ada biaya akan dilanjutkan untuk kuliah disemester akhir dikarenakan karena saya harus melihat dan merawat papah saya dalam kondisi sakit dan tidak ada biaya untuk membayar kuliah saat itu.
Pada malam hari saya telepon ibu, menayakan kondisi papah saya yang berbaring di rumah sakit untuk melawan penyakitnya. Saya bercerita jika saya ijin untuk tidak melanjutkan kuliah atau cuti, tetapi ibu saya melarang saya untuk mengajukan cuti atau berhenti sementara disemester akhir. Ibu saya berkata “ Apapun yang terjadi ibu akan mengusahakan agar Anakku menjadi orang sukses dan berhasil, Masalah kondisi papah tidak usah khawatir ada ibu yang menjaga dan merawat , anakku harus fokus terhadap kuliah agar segera LULUS dan Mendapat Gelar Amd Keb( Ahli Madya Kebidanan).”

Disaat itulah saya berfikir dan walapun saya sedang kuliah saya harus mencari pekerjaan untuk biaya kos, makan dan kebutuhan saya tiap harinya, tetapi saya tidak menyampaikan kepada ibu jika saya bekerja disalah satu Rumah Sakit di Malang. Alhamdulillah pada saat saya sedang membeli makan, ada salah satu dokter spesialis yang kenal saya karena saya pernah praktek ditempat beliau, membutuhkan bidan untuk membantu di rumah sakit dimana beliau bekerja, disaat itulah saya terbiasa kuliah sambil bekerja dan bisa membayar kuliah semester, membayar kos.
Wahai ibuku adalah sosok manusia yang sangat kuat, bahkan kadang melebihi kuatnya seorang ayah. Itu yang aku rasakan pada ibuku. Beban seberat apapun, kondisi apapun di dalam kehidupan kita, engkau ibuku yang selalu membuat kondisi kehidupan selalu tersenyum, walaupun semenjak kepergian Almarhum Papah beberapa tahun lalu.ibu
Aku selalu teringat bagaimana perjuangan ibu yang mengandung selama 9 bulan lamanya. Lelahmu dan menahan beban selama 9 bulan tidak kau hiraukan. Pagi, Siang, Sore, Malam selalu tersirat semangat untuk membantu menyelesaikan pekerjaan di rumah demi kelurga tercinta. Dengan wajah tersenyum ibu selalu merawat dan sayang tulus dari hatimu untuk merawat aku.
Ibu, Sekarang aku sudah beranjak dewasa, waktu sudah sangatlah berjalan cepat. Usia ibu juga sudah semakin bertambah, kulit yang berawal halus, wajah yang cantik tak mampu melawan kerutan waktu. Rambut hitam ibu mulai berpudar terkena jalannya waktu. Pandangan ibu sudah mulai kabur karena sapuan debu oleh waktu. Ibu,
Engkau adalah malaikat bagiku, ibu selalu bisa menjadi pelindung dan memberikan solusi atas semua masalah yang kami hadapi. Ibu engkaulah tempat aku mengadu, menjadi tempat melampiaskan kesedihanku, keamarahanku. Tetapi, engkau selalu tersenyum di depan anakmu ini agar hatiku merasa tenang dan belajar bersyukur dalam melalui perjalanan hidup ini.
Ibu adalah seorang malaikat bagi aku, bukan hanya memenuhi kebutuhan aku, tapi juga mendidik dan memberikan teladan. Ibu dengan sabar, selalu tersenyum memberikan nasihat terhadap anakmu ini agar tidak cengeng atau selalu mengandalkan kemampuan orang lain. Tetapi berusaha lah berdiri dan berjalan dengan kuatnya kakimu sendiri.
Ibu, Waktu berlalu, gelar dan ijazah yang aku dapat sudah S2, dan kini sedang menempuh pendidikan untuk mendapat gelar Doktor atau S3. aku ingin segera menikah agar tidak jadi beban pikiran ibu lagi. Tapi ibu tidak memaksaku untuk segera menikah.
Ia sadar benar usianya sudah tidak lama, “Biarlah Anakku, tidak usah dipaksakan untuk menikah jika kamu belum menemukan seseorang yang dapat memberi sayang kepada Mu, kalau kamu sudah mendapatkan jodoh yang kamu mau, benar benar sayang kepada Mu dan tanggung jawab kepada Mu, ibu merasa sangat ikhlas dan tenang, tetapi sekarang kamu tidak pernah menjadi beban ibu.”
Ibu, Ijinkan anak mu untuk berbakti, menghormati, merawat, dan menyayangi engkau ibu.
Walapun ibu tidak pernah mengatakan dan meminta apapun terhadap anak mu ini, tetapi saatnya lah anak mu untuk berbakti kepada ibu.
Ibu adalah ibuku yang sangat sangat dan sangat terbaik. Dialah ibuKu! Aku Sayang Ibu!
Ibu, Ijinkan anak Mu ini, untuk memotong kuku tangan dan kaki ibu walapun ibu masih bisa melakukannya sendri.
Ibu, Ijinkan anak Mu ini, untuk selalu dapat mencukupi kebutuhan hidup ibu biarkan lah anak mu ini yang menanggung kebutuhan ibu sehari hari dan ijinkan anakmu ini untuk memboyong ibu ikut dengan saya dikota Malang dan kita tinggal bersama agar anakmu ini bisa memantau dan selalu menjaga dan merawat ibu. tetapi biarkan lah anakmu ini untuk bekerja kerja keras sehingga ibu bisa menikmati hasil jerih payah gaji aku bekerja. Walapun perjuangan aku tidak sebanding dengan apa yang ibu lakukan sampai hingga saya bisa menjadi seperti ini.
Ibu, Ciuman yang yang selalu ibu berikan dikening Ku selalu membuat hati Ku merasa tenang dan selalu memberi Semangat dalam bekerja. “AKU SAYANG IBU MELEBIHI APAPUN YANG SAYA MILIKI”. Jasa pengorban ibu kepada anaknya tidak akan bisa digantikan dengan apapun yang kamu miliki saat ini, maka tulah marilah kita sebagai anak harus berbakti, menghormati dan menyayangi dengan sepenuh hati Mu kepada orang tua. Ingatlah tanpa jasa mereka kamu buka siapa siapa.

Cerpen Aku Sayang Ibu Melebihi Apapun Yang Saya Miliki merupakan cerita pendek karangan Silvia Intan Wardani, kamu dapat mengunjungi halaman link khusus penulisnya dan dapat membeli di toko buku dan perpustakaan nasional ditempat anda. Terus ikutin karangan cerpen dan buku selanjutnya.

Pencapaian Diri Oleh: Sarah Asina Maria Sitompul
Tidak ada sesuatu yang didapat itu instan dan segala sesuatunya perlu perjuangan. Sehingga, diperlukan kesabaran, ketekunan, perjuangan dan selalu ingin belajar disepanjang hidup kita. Belajar dan membaca, dapat menjaga otak agar bisa tetap aktif sehingga dapat melakukan fungsinya secara baik dan benar. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa dengan membaca buku dapat merangsang mental, bahkan dapat mencegah penyakit Alzheimer dan demensia. Dengan belajar dan membaca, kita dapat mentransfer knowledge kepada orang lain sehingga hidup kita bisa bermanfaat bagi sesama, sesuai dengan motto hidup saya.
Memperoleh pekerjaan adalah impian setiap orang setelah mereka mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan tertentu. hal ini, tentu bukanlah hal yang keliru karena mindset masyarakat saat ini ketika menyekolahkan anak-anaknya adalah untuk dapat bekerja. Demikian halnya dengan saya. Saya memulai bekerja di saat usia yang masih belia, yaitu sesudah lulus SMA. Saya berusaha melamar pekerjaan yang kebetulan sedang dibuka lowongan untuk penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Dimana saya juga tetap melanjutkan kuliah. Saya bekerja dipagi hari sebagai PNS dan saya berkuliah disore hari. Perjuangan hidup yang sudah dipupuk mulai dari sekolah berlanjut di masa perguruan tinggi yang harus berbagi waktu dengan kerja. Apalagi kampus saya cukup jauh jaraknya dari tempat kerja. Sehingga, ini membentuk kepribadian motivasi berprestasi yang lebih kuat.
Ada 4 (empat) elemen dasar yang kita kenal untuk meningkatkan motivasi berprestasi menurut McClelland (1965): increasing the motive syndrom, increasing goal setting, increasing the cognitive support and increasing the emotional support. Terkait dengan upaya untuk meningkatkan motivasi berprestasi pada orang dewasa, diperlukan suatu metode pembelajaran yang mampu mengakomodasi karakteristik pembelajaran orang dewasa antara lain yaitu: a) perubahan konsep diri; b) pengalaman; c) kesiapan untuk belajar; d) orientasi terhadap pembelajaran, e) motivasi; dan f) kebutuhan untuk tahu (need to know).
Berdasarkan perspektif manusia yang dikemukakan oleh Freire, bahwa manusia memiliki potensi yang menunjukkan kesempurnaannya, manusia memiliki naluri, kesadaran, kepribadian dan eksistensi. Untuk dapat mengatasi tantangan kehidupan yang disebabkan oleh realitas sosial, maka manusia harus mampu memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya secara optimal.
Kecakapan hidup menurut Kent Davis (2000:1) dalam (Fahrudin, 2009) menyebutkan bahwa kecakapan hidup merupakan sebuah “manual pribadi” bagi seseorang yang dapat membantu orang tersebut belajar bagaimana memelihara tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya, bekerjasama secara baik dengan orang lain, membuat keputusan yang logis, melindungi dirinya sendiri dan mencapai tujuan di dalam kehidupannya.
Saya sudah bekerja selama 38 tahun lebih sebagai PNS/ASN. Sejak Maret 1982. Selama bekerja, saya telah mendapat penghargaan dari 3 periode Presiden yaitu presiden Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jokowi, yang merupakan suatu kebanggaan bagi saya. Awalnya saya bekerja di Departemen Koperasi dan Perdagangan RI di Jakarta tahun 1982. Tahun 1991 pindah ke Bandung, dulunya masih bernama Kantor Wilayah Departemen Koperasi dan Pengusaha Kecil RI dan sekarang Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat. Sehingga, kecintaaan saya untuk memotivasi dan membangun koperasi dan sumber daya manusia (SDM) sudah mendarah daging dalam hidup saya, sesuai motto saya, karena memang saya sejak remaja suka membuat kata-kata motivasi yang saya tempel di buku bahkan di kamar saya.
Sejak tahun 2006, saya menjadi Widyaiswara, dimana saya dapat mentransfer knowledge, memotivasi dan mendorong jiwa berwirausaha dan berkoperasi kepada berbagai koperasi/usaha mikro kecil menengah (umkm)/wirausaha, bahkan masyarakat dari Kabupaten/Kota se Jawa Barat maupun kepada koperasi/umkm/wirausaha Provinsi lain, juga turut membantu Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) dalam pendididikan dan pelatihan bagi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Antara lain, materi Etika Publik, Pelayanan Prima, Komunikasi Efektif, Manajemen Perkantoran dan Manajemen Kepegawaian bagi CPNS. Tahun 2004 saya mendapat kesempatan dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI untuk mengikuti Small Business Development Program di Melbourne, Australia.
Semua ini tidak didapat dengan mudah tetapi melalui perjuangan, kesabaran, ketekunan, kegigihan serta integritas yang kuat. Itu semua dilakukan dengan sepenuh hati untuk mengembangkan Koperasi dan UMKM di Jawa Barat dan mengembangkan SDM Provinsi Jawa Barat. Terlebih di saat pandemi ini, bahkan saya harus mengajar atau menjadi narasumber dengan bertatap muka kepada para peserta dengan menjaga protokol kesehatan. Saya teringat dengan Firman-Nya yaitu “hanya dekat Allah saja aku tenang dan Ia lah sumber kekuatanku dan Penolongku”. Itulah yang memberi kekuatan kepada saya dalam membagi waktu, kerja dan berbuat kepada sesama.

Antara Aku, Cita dan Chalista

Oleh: Antonius Harmanta

Sepedaku itulah salah satu saksi hidup dalam perjalaan hidupku karena memiliki kenangan yang sangat bekesan selama Anton sekolah. Dilahirkan di sebuah desa kecil di sebelah selatan lereng Gunung Merapi. Bagian utara kota Yogyakarta, yang sejuk dan nyaman dengan pemandangan alam yang penuh hamparan sawah dan lahan pertanian lainnya. Kehidupan sederhana yang dihadapi oleh keluarga Anton membuatnya hidup dengan penuh kerja keras karena ayahnya seorang petani yang penghasilan setiap bulannya tidak menentu apalagi sering menunggu hasil panen dari sawah dan ladangnya.
Pada usia genap 7 tahun Anton dimasukkan sekolah oleh Ayahnya kurang lebih 2 kilometer jarak tempuh Sekolah Dasar Negeri Inpres tempat dia sekolah dan karena keadaan Anton setiap harinya berjalan kaki menuju sekolahnya kadang kadang untuk mempersingkat waktu dan jarak tempuh dari sekolah menuju rumahnya terbiasa melewati pematang sawah pinggir kampung dan hal itu menjadi pengalaman yang menyenangkan bersama dengan teman temannya. Apalagi, jika sedang musim hujan Anton terbiasa memakai payung dari setangkai daun pisang sambil bercanda.
“Anton….. jika kamu sudah besar pengin jadi apa?” begitu Ayahnya bertanya.
“Aku… aku pengin jadi guru ayah.” jawab Anton dengan senyum.
“Mengapa ingin jadi guru Anton?” tanya Ayahnya.
“Karena aku melihat jadi guru itu enak pak, aku kan sering lihat pak Widodo pada saat mengajar di kelasku,” kata Anton.
“Apa yang menarik dari gurumu itu?”tanya Ayah.
Anton mulai menceritakan tentang Pak widodo yang sangat dikagumi oleh anak anak karena cara mengajarnya mudah dipahami dan sangat sabar.
“Oh… begitu Anton, pantas kamu tertarik untuk menjadi guru.” kata Ayah.
Setelah genap berumur 12 tahun dan tamat dari Sekolah Dasar Negeri Inpres tersebut Anton melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 yang jauh dengan tempat tinggalnya tetapi Anton sangat bersyukur karena sekolah tersebut adalah sekolah yang bagus baik bidang akademik maupun non akademiknya khususnya prestasi olahraganya. Dengan mengayuh sepeda kunonya, Anton setiap hari berangkat dan pulang sekolah.
Selama belajar di sekolah tersebut. Anton mengalami kemajuan yang sangat membanggakan pada diri Anton yaitu, mata pelajaran Bahasa Inggris. dan hal ini di dasarkan pada hasil setiap ulangan ataupun ulangan akhir semester yang diperoleh pada buku laporan hasil belajar. Setiap semesternya atau yang dikenal dengan istilah Rapor. Anton selalu mendapatkan nilai minimal delapan atau sembilan. Walaupun, belum pernah mendapatkan nilai sepuluh karena sangat sulit mencapai nilai tersebut. Selain itu, faktor guru mata pelajaran tersebut yang membuat Anton bersemangat dalam belajar Bahasa Inggris.
Ibu Anisa itulah nama panggilan ibu guru yang mengajar bahasa Inggris tersebut. Selain cerdas dan cantik ibu Anisa Widiastuti memiliki kecakapan dalam memotivasi belajar anak anak di kelas dimana Anton belajar. Setiap pelajaran, Anton selalu duduk didepan agar mudah mengerti dan mendengar suara bu Anisa. maklum Anton anak yang paling kecil di kelasnya. Jika duduknya dibelakang tidak bisa melihat papan tulis yang terpasang di depan kelas.
Untuk memacu prestasi Bahasa Inggrisnya, Anton setiap harinya menghafal 30 kosa kata baru dalam bahasa Inggris dengan cara membuat kartu gambar yang terbuat dari kertas berbentuk segi empat. seperti kartu mainan anak-anak yang selalu Anton simpan dalam saku bajunya dan sering di buka pada saat waktu luang. waktu sambil menyapu halaman rumahnya atau waktu lainnya. Sehingga, dalam waktu sebulan Anton mampu menghafal 900 kosa kata baru.
“Luar biasa kamu Anton.” begitu kata bu Anisa pada saat pelajaran ke 4 di hari senin waktu itu di kelasnya.
“Biasa aja bu, saya hanya sering banyak membaca dan menghafal bu,” kata Anton.
“ Mudah-mudahan kamu sukses dalam berbahasa Inggris nantinya,”kata bu Anisa
“ Aamiin bu.” kata Anton.
“Begini bu, saya ingin pergi jalan jalan ke luar negeri bu,” kata Anton.
“ Iya mudah-mudahan tercapai ya Anton.” tegas bu Anisa
Namun, 2 tahun kemudian Anton merasa sedih karena Ibu Anisa harus pindah tugas ke sekolah. Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 di pusat kota. banyak hal, yang sangat berkesan dari ibu Anisa selama mengajar Anton kurang lebih 2 tahun. Apalagi, jika dengar suara sepatu ibu Anisa menuju kelas Anton,”Tok…tok…tok” perasaan Anton sangat senang.
Pada tahun ketiga di SMP tersebut Anton merasakan kegelauan tentang cita-citanya karena selama belajar mata pelajaran matematika merasakan rasa takut jika akan belajar pelajaran tersebut. Bagaimana tidak? Anton menghadapi seorang guru yang killer yang tidak segan-segan memarahi anak-anak yang lupa mengerjakan pekerjaan rumah atau sulit menerima pelajaran di kelasnya. Ada kenangan yang sampai saat ini masih membekas, yaitu kening Anton bekas lemparan penghapus kayu jati yang di layangkan oleh pak Sujarwo waktu itu.
“Tokkkkk.” begitu bunyi penghapus terbang ke kening Anton.
“Jangan berisik…. ini sedang belajar, kalian semua harus sungguh-sungguh dalam belajar!” kata pak Sujarwo. Anton merasa bingung karena dari awal mulai pelajaran diam saja bahkan merasa takut dan berharap jangan di suruh maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal di papan tulis. Semua anak anak yang belajar di kelas terdiam seribu bahasa dan pak Sujarwo dengan tiba-tiba keras memanggil nama Kusnadi.
“ Kusnadi….. mengapa kamu berisik saja ?” tanya pak Sujarwo.
“ini pak si Zahra tanya PR bahasa inggris pak.” jawab Kusnadi.
“Bukankah sekarang sedang belajar Matematika ….kalian harus mengerti itu!” kata pak guru.
“Iya pak…. maafkan saya dan Zahra pak.” kata Kusnadi.
“Rupanya pak Sujarwo salah melempar penghapus kayu tadi….” Begitu guman Anton dalam hati dengan menahan perih luka dikeningnya.
Semenjak kejadian itu Anton mulai merasa tidak nyaman dalam hati dan merubah cita cita awal Anton yang semula menjadi seorang guru mulai berubah arah dan motivasi belajar Matematika kurang terlebih diliputi rasa takut setiap ketemu jam pelajarannya sehingga nilai di rapornya pun tidak lebih dan tidak kurang dari angka 6.
Setelah tiga tahun berlalu dan lulus dari Sekolah Menengah Pettama tersebut. Anton masuk ke sekolah jenjang berikutnya yaitu sekolah yang menjadi keinginan orang tuanya yaitu SPG di Kota Yogykarta, tetapi sayang Sekolah Pendidikan Guru Negeri tersebut akhirnya tidak dibuka lagi dan saya lihat gedungnya sudah berubah menjadi SMA Negeri dan akhirnya orang tuanya mendaftarkan Anton ke SMA.
“Anton…. sebaiknya kamu daftar ke salah satu Sekolah Menengah Atas yang kamu tuju ya ?” kata ayah.
“ Kenapa ayah ?” tanya Anton.
“ Awalnya kamu ingin jadi guru tetapi SPG dimana sekolah yang kamu tuju sudah berubah jadi SMA.” kata Ayah.
“ Iya Ayah…tetapi sekarang cita cita saya telah berubah ingin menjadi Tentara.” kata Anton.
“Haaaaaa…jadi tentara ?” tanya Ayah kaget.
“Iya Ayah, ada rasa khawatr jika menjadi guru karena menjadi guru harus pintar, sabar dan sebagainya.” kata Anton.
“ Kan bisa belajar nak,”kata Ayah.
“ Jika jadi guru mungkin saya tidak sabar dan pintar mengajar….tetapi kalau jadi tentara aku nampak gagah Ayah .”kata Anton.
“ Iya ,,terserah kamu aja nak .” kata Ayah.
Akhirnya Anton melanjutkan ke salah satu SMA dan karena nilai yang diperolehnya di Kelas I cukup bagus maka sekolah menetapkan Anton masuk jurusan IPA dan tentu saja pada jurusan ini banyak jam pelajaran Ekstranya tetapi mampu dilaluinya dengan baik bahkan nilai ujian akhirnya Anton menempati peringkat 1 di jurusannya. Banyak hal yang dikenang indah saat Anton duduk di SMA misalnya Anton sangat aktif sekali pada kegiatan OSIS dan kegiatan ekstrakurikuler yang sangat menambah wawasan pengalaman dalam hidupnya bahkan menemukan cinta pertamanya dengan salah satu pengurus OSIS waktu itu Anastasia Widiastuti namanya, seorang siswi yang cerdas, sopan, ramah dengan mata sipitnya menjadi warna bagi kehidupan Anton sepanjang hayat.
Jurusan Bahasa Inggris pada salah satu Universitas terkenal di Yogykarta menjadi tujuan kuliahnya karena sudah tiga kali mengikuti ujian Calon Bintara TNI Angkatan Darat gagal dalam seleksi akhir, begitu juga ketika hasil tes masuk pada perguruan tinggi tersebut akhirnya Anton mengambil jurusan Ekonomi pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi atau STIE di kota pelajar Yogyakarta. Namun karena latar belakang SMA yang tidak mendukung akhirnya pindah ke sebuah Akademi Bahasa Asing jurusan Bahasa Inggris hingga lulus program Diploma.
“Anton….bagaiman langkah selanjutnya setelah lulus kuliahmu ini?” tanya Ayah.
“Aku ingin kerja pak di kota sesuai pendidikan yang telah saya raih pak.” kata Anton.
Seiring dengan waktu akhirnya Anton diterima menjadi pemandu wisata disebuah biro perjalanan wisata khusus wisatawan manca negara selain itu pada malam harinya sebagai pelayan restoran dengan status karyawan lepas. Memang hasilnya lumayan untuk pegawai pemula.
Lama kelamaan Anton merasa nyaman , namun seiring berkembangnya waktu dan lesunya wisata di daerah Anton tinggal terpaksa dia berhenti dari pekerjaannya karena adanya pengurangan karyawan. Anton berpikir bagaimana untuk masa depannya. Alhamdulillah dia bertemu dengan orang yang sedang berwisata di Yogyakarta dan menawarinya pekerjaan di Jakarta yang akhirnya Anton memutuskan untuk merantau ke Jakarta.
Sesampainya di Jakarta, Anton menumpang di rumah temannya yang setiap harinya bekerja di perusahaan. Memang berat perjalanan Anton pada awal merantau. Bahkan, pekerjaan yang dijanjikan oleh orang yang dia kenal waktu di daerah wisata ternyata nihil karena telah di isi oleh orang lain. Akhirnya, Anton mengikuti temannya sebagai Satuan Keamanan di sebuah perusahaan di Ibukota.
Waktu berjalan Anton dalam melaksanakan tugasnya sebagai satuan pengaman memiliki prestasi yang baik dengan potongan rambutnya seperti TNI dan juga memiliki disipilin yang tinggi mendapatkan penilaian positif dari manager pada perusahaan tersebut sehingga naik pangkat menjadi Kepala Satuan Pengaman.
Nasib baik rupanya telah berpihak pada diri Anton. setelah dia bertemu dengan seorang tamu perusahaan yang bernama Chalista, dia adalah seorang mahasiswi yang sedang mengadakan penelitian untuk penyusunan Tesis program S2nya. Dia selalu berkomunikasi dengan Anton agar kembali kepada cita-cita awal Anton sebagai guru dan berusaha membujuk Anton untuk melanjutkan kuliahnya dengan mencarikan beasiswa dari perusahaan.
“Pak Anton, mau kan melanjutkan kuliah kependidikannya? Nanti saya akan carikan perusahaan yang bersedia memberikan beasiswa ?” tanya Chalista dengan penuh harap.
“ Alhamdulillah Chalista, aku bersedia ,” kata Anton.
“Tapi pergi kuliahnya jangan naik sepeda lagi ya, karena ini Jakarta pak !” kata Chalista
“ Iyalah….he he he ?” Kata Anton.
“Sepedamu itu sebagai kenangan saja tetapi penuh makna dalam kehidupanmu kan ? tanya Chalista.
“ Iya…. Jika aku nanti lulus kuliah dan bisa menjadi guru mungkin aku akan buat cerita ke anak cucu tentang sepeda pak guru, Chalista.” kata Anton.
“ Yah…sepeda yang kuno itu jadi saksi dan menemani aku meraih cita cita,berapa kilometer telah mengantarku pergi dan pulang sekolah dari SD,SMP,SMA bahkan sampai aku kuliah di Jogja.” Lanjut Anton dengan sedikit berkaca kaca.
“ Luar biasa ya ?” kata Chalista.
“Selain itu berkat Tuhan dan doa Orang tuaku hingga sampai saat ini.” kata Anton dengan menatap pandangan yang jauh.
Akhirnya Anton melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan Pendidikan Ekonomi pada salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta hingga akhirnya Anton memperoleh gelar Sarjana Pendidikan atau SPd. Anton meninggalkan pekerjaannya sebagai Satuan Pengaman dan beralih profesi sebagai guru honorer pada sekolah negeri di Jakarta yang akhirnya beberapa tahun kemudian diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil serta berkeluarga dengan Chalista yang pernah dia kenal pada saat penelitian di perusahaan. Mereka merasakan lika-liku kehidupan yang diawali dengan berbagai tantangan dan rintangan dan akhirnya menemukan sebuah anugerah yang luar biasa dan membahagiakan.
I Am Widyaiswara, Story Of Life Achievement

Oleh: drg. Silviani Kesuma, S.KG, M.P.H

Dalam buku pertama saya yang berjudul Diagnostic Reading for Change yang diterbitkan oleh Deepublish menuliskan profesi ganda sebagai widyaiswara dan dokter. Maka kali ini kembali saya akan berkisah tentang widyaiswara yaitu profesi utama saya sebagai Aparatur Sipil Negara.
Widyaiswara adalah salah satu jabatan fungsional dalam rumpun jabatan pemerintahan, sebuah profesi yang ekslusif dan terdiri dari orang-orang berbagai latar belakang pendidikan. Pengangkatan pertama widyaiswara haruslah pendidikan strata 2 dan umur saat diangkat adalah 45 Tahun bagi yang beralih dari jabatan struktural atau fungsional lainnya. Sistem rekrutmen widyaiswara juga bisa melalui impassing atau melalui jalur Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).
Para widyaiswara terhimpun dalam sebuah organisasi Assosiasi Profesi Widyaiswara Indonesia (APWI) dengan cabang-cabang yang ada diseluruh daerah. Widyaiswara mempunyai fungsi dan tugas dalam pendidikan dan pelatihan, evaluasi dan pengembangan Diklat serta pengembangan profesi widyaiswara.
Peran Widyaiswara dalam pelatihan dan pengembangan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) sehingga juga merupakan penggerak pembangunan. Widyaiswara tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, dan pelatih namun lebih sebagai fasilitator, moderator, coach, consultant, motivator maupun researcher (peneliti). Kualitas pembelajaran pada suatu pelatihan sangat ditentukan oleh kompetensi yang dimiliki oleh widyaiswara.
Cerita yang ingin saya bagikan kali ini adalah bagaimana perjalanan karier seorang ASN (Aparatur Sipil Negara) yang diangkat pertama kali oleh negara dalam jabatan fungsional dokter gigi. Pada Tahun 2013 Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Lembaga Administrasi Negara menyelenggarakan pelatihan calon widyaiswara. Dimana pesertanya direkrut dari para tenaga medis dan tenaga kesehatan lainnya.
Alhamdulillah saya mendapat kesempatan sebagai peserta pelatihan calon widyaiswara (cawid) Indonesia. Kami dilatih agar memiliki kompetensi dalam pengelolaan pembelajaran serta pembelajaran orang dewasa dan lain sebagainya sebagai kurikulum diklat calon widyaiswara. Banyak hal-hal baru yang saya dapatkan dalam pelatihan cawid, termasuk membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI), pembelajaran ini terus saya kembangkan dan berlatih untuk bisa menhasilkan angka kredit yang fantastis (misalnya menulis buku perolehan Angka Kredit (AK) nya adalah 25). Sedangkan, melaksanakan tatap muka atau mengajar hanya memperoleh AK 0,02 untuk tingkat pertama, 0,04 untuk tingkat muda, 0,06 untuk tingkat madya dan 0,08 untuk tingkat utama. Jadi menulis buku merupakan hal fantastis bukan?
Setelah melalui sebuah rangkaian proses penempaan sebagai calon widyaiswara, kami dikembalikan ke daerah asal masing-masing dengan selembar surat rekomendasi untuk dingkat oleh daerah masing-masing sebagai pejabat fungsional widyaiswara. Saat itu profesi widyaiswara tidaklah sepopuler profesi saya yang satunya yaitu profesi dokter.
Sebagai dokter yang mempunyai tugas dan kewenangan untuk memberikan pelayanan medis kemasyarakat serta pengalaman ditempatkan di Pusat Kesehatan Masyarakat (puskesmas) menumbuhkan semangat pengabdian kepada negara dan masyarakat. Kemudian pada Tahun 2007 mendapat kepercayaan dari pemerintah kabupaten Parigi Moutong untuk menduduki jabatan struktural sebagai kepala bidang pelayanan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anuntaloko Parigi. Pengalaman selama 7 (tujuh) Tahun membuat leadership saya terlatih. Demikian pula, dalam manajemen pengelolaan rumah sakit dan segala sumber daya misalnya anggaran kebijakan dan termasuk sumber daya manusia.
Walaupun tugas saya adalah tugas-tugas manajerial namun seperti dokter pada umumnya, maka sayapun melakukan kerja praktek pada sore hingga malam hari di apotik swasta yang menyiapkan tempat praktek. Dalam masa itu, saya juga pernah memimpin sebuah kegiatan nasional dengan mendatangkan dokter-dokter ahli bedah mulut dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung yang bekerjasama dengan Yayasan Celah Bibir dan Langit-langit (YCBLL) untuk melaksanakan kegiatan bakti sosial bagi masyarakat penderita celah bibir dan langit-langit atau disebut sebagai operasi bibir sumbing. Hal ini adalah dukungan besar dari pemerintah daerah kabupaten Parigi Moutong.
Lho awalnya kan cerita tentang widyaiswara yach? kok malah lanjut cerita sebagai dokter? jangan salah yah sahabat pembaca. Faktanya, sampai saat ini saya tetap menjalankan kedua profesi tersebut yaitu sebagai widyaiswara (tugas pokok ASN) dan sebagai dokter gigi dipraktek sore hari. kok bisa? Iya bisa dong, tak lain dikarenakan saya mempunyai kompetensi pada kedua profesi tersebut.
Saat ini profesi widyaiswara telah mendominasi aktivitas kedinasan saya sebagai pelayan masyarakat, pelaksana kebijakan dan sebagai pemersatu dan perekat bangsa. Instansi Pembina kami adalah Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. Tuntutan sebagai widyaiswara membuat saya harus meningkatkan terus kompetensi tidak hanya dalam pengelolaan pembelajaran, namun juga kompetensi manajerial, kompetensi tekhnis, kompetensi sosial budaya dan kompetensi pemerintahan.
Pengen tahu ‘suka’nya sejak diangkat jadi widyaiswara? wouww banyak banget. Gimana dengan ‘duka lara’nya? hampir nggak ada tuch, muaaasaaak sich? benar dech karena setiap kejadian yang tidak mengenakkan saya berusaha untuk mengambil hikmahnya, petik pembelajaran yang ada dibalik kejadian tersebut. Enjoy banget yah? setujuuu…!
Bahagia sekali menjalani profesi widyaiswara, saya yakin Allah telah menuntun. Sehingga, karier dan perjalanan atau proses sebagai widyaiswara. Tangan-tangan Allah lah yang menggerakkan, menunjukkan dan menghiburku untuk selalu semangat dalam tugas negara, sebagai guru bangsa, guru yang turut mencerdaskan kehidupan bangsa, memotivasi orang orang agar berupaya terus meningkatkan kompetensinya, baik secara formal maupun non formal.
Tidak ada hasil yang mengkhianati proses, membuat mindset saya terbentuk untuk menjadi manusia pembelajar, dan tanpa sengaja jejaring kerja pun meluas di berbagai daerah di tanah air, kami sesama ASN saling berbagi ilmu dan keterampilan dalam pertemuan-pertemuan ilmiah, diklat diklat kewidyaiswaraan yang diselenggarakan oleh LAN maupun kementerian.
Era New Normal para widyaiswara tetap terhubung dan berupaya membesarkan dan membangun citra sebagai guru bangsa. Pembelajaran e-learning (dalam jaringan=daring) adalah meeting-meeting ilmiah kami dalam corpu university maupun dalam Community of Practice (CoP).
Pencapaian terindah saat mendapatkan penganugerahan atau perolehan penghargaan dari Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. saya ingin berbagi kebahagiaan dengan sahabat pemirsa baca yah? Inilah cuplikan keputusan Kepala LAN pada Tahun 2018. Walaupun bukan yang terbaik. Namun, saya sangat mensyukuri sebagai pengalaman terbaik dalam menjalankan profesi widyaiswara. Semoga Allah meridhoi segala niat dan upaya-upaya ini, amin ya rabbal alamin, ….
# Salam Sehat Sahabat Pemirsa Baca
# Bagimu Negeri
# Terimalah Baktiku
# Terimalah Pengabdianku
Pencapaian dalam Hidup

Oleh: Ir. Jenny Ana Nihe, S.Psi., M.Pd

Keberhasilan hidup yang dijalani seseorang menunjukkan seberapa besar kesuksesan yang telah diperolehnya. Kesuksesan ini terpenuhi berkat usaha yang telah dilakukannya sesuai kemampuan yang dimilikinya. Kemampuan setiap orang berbeda-beda sehingga kesuksesan juga tidak sama pada setiap orang. Ada yang mendapatkan kesuksesan dalam dunia pendidikan, ada juga yang sukses dalam karier dan usaha bisnis, bahkan ada yang sebagai ibu rumah tangga sukses dengan apa yang yang diusahakannya. Usaha yang dilakukan dapat memperlihatkan hasil yang telah dicapai.
Berhasilnya seseorang dalam memperoleh apa yang diinginkannya dalam hidup ini disebabkan oleh usaha yang dijalaninya sesuai dengan keinginannya dan berkat pertolongan Allah SWT. Berbagai cara akan ditempuh dalam memenuhinya. Cara yang ditempuh membutuhkan kemampuan diri seseorang dan bantuan Allah SWT dalam mewujudkannya.
Terwujudnya sebuah keinginan merupakan hal yang terpenting yang harus dipenuhi. Keinginan bersumber dari sebuah niat yang hadir dari dalam hati seseorang. Menginginkan hidup yang memiliki arti sebagai seorang manusia yang berharga dan dihargai. Merupakan nikmat Allah SWT yang seharusnya disyukuri. Jika manusia sudah berkeinginan menjadi seorang yang baik tentunya akan selalu berupaya untuk memperbaiki dirinya secara berkelanjutan.
Hidup berkelanjutan yang dijalani seseorang perlu pendukung sebagai penguat dalam mewujudkan sebuah keinginan. Kekuatan itu terbangun dari beberapa upaya, yaitu :
• Do’a, permohonan kepada Allah SWT untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Meminta agar dalam mendapatkan keinginannya Allah selalu mnyertai dengan keridhoan-Nya. Kekuatan dari do’a akan selalu memberikan keseimbangan kepada manusia. Jika dalam berusaha terkadang mengalami hambatan yang menghalangi jalan seseorang. Bermohon kepada Allah untuk diberikan petunjuk dan bimbingan sehingga memberikan ketenangan. Hati dan pikiran yang tenang mudah untuk mendapatkan sebuah solusi atau jalan keluar. Allah SWt berfirman dalam surah Al Mu’min ayat 60, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu”
• Ikhtiar, suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang dalam memenuhi sesuatu yang ingin dicapainya. Allah SWT tidak akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya apabila tidak berupaya untuk menolong dirinya sendiri. Allah SWT berfirman dalam surah Ar-Ra’d ayat 11 yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri”. Menemukan berbagai upaya yang diusahakan untuk mendapatkan kebaikan hidup. Hidup ini adalah pilihan. Setiap pilihan memiliki konsekwensi. Berbagai pilihan dalam hidup telah terbentang. Manusia hanya tinggal memilih sesuai dengan kemampuan dan keinginan untuk menjalaninya.
• Tawakkal, memasrahkan segala upaya yang ditempuh untuk mendapatkan sebuah hasil sepenuhnya kepada Allah. Segala usaha yang telah ditempuh dengan berbagai situasi. Apapun hasil yang akan didapatkan, segalanya diserahkan kepada Allah. Allah SWT berfirman dalam surah an-Nahl ayat 42, “Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Allah saja mereka bertawakkal”. Allah berkuasa atas segala kehendak-Nya. Karena apa yang dikehendaki Allah itulah yang terbaik bagi pilihan hidup yang dipilih Allah. Apa yang Allah tentukan bagi hamba-Nya itulah yang terbaik.
• Istiqomah, berpendirian yang teguh terhadap usaha yang sedang dijalani agar dapat memperoleh hasil yang dicapai. Konsisten dalam mengupayakan sesuatu dibutuhkan untuk mendapatkan hasil. Allah SWT berfirman dalam surah Yunus ayat 89 “Maka istiqomahlah kamu (Muhammad) di jalan yang benar, sebagimana telah diperintahkan kepadamu dan juga kepada orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. Mengatur kondisi seseorang untuk tetap stabil, kestabilan hati dan pikiran agar selalu seimbang. Tidak mudah terpengaruh pada hal-hal yang dapat membuat seseorang goyah pada prinsip dan aturan yang dipegangnya. Pengaruh yang akan membuat seseorang teralihkan dari niat dan tujuan semula dalam mencapai hasil.
Seseorang dikatakan sukses apabila ia telah mendapatkan hasil dari apa yang telah dicapainya Pencapaian dalam hidup bukan pada harta, kedudukan atau status sosial. Kebahagiaan hidup juga merupakan sebuah kesuksesan. Seorang ibu rumah tangga memiliki pencapaian dalam hidupnya ketika dia telah berhasil mewujudkan impiannya memiliki rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah.
Berhasil mendampingi suaminya menjadi seseorang yang luar biasa sebagai kepala rumah tangga dan hebat dalam kariernya. Seorang laki-laki yang berhasil ditentukan oleh kekuatan dari wanita yang mendampinginya. Apakah wanita itu adalah istrinya, ibunya, adik perempuannya, anak perempuannya bahkan cucu perempuannya.
Seorang ibu rumah tangga juga memiliki kemampuan untuk mengantar anak-anaknya menjadi anak-anak yang menjadi penyejuk mata bagi kedua orangtuanya. Membahagiakan dan membanggakan melihat anak-anak yang berhasil menjadi anak-anak yang berprestasi dalam kehidupannya.
Pertanyaan yang biasanya diajukan untuk menanyakan sebuah profesi, maka jawaban yang dipilih adalah ibu ruzmah tangga terkadang membuat seorang perempuan agak segan dan sungkan dalam menjawabnya. Namun, apabila dipahami lebih jauh profesi ibu rumah tangga adalah profesi yang mulia. Meskipun setinggi ilmu yang dimiliki dan jabatan yang dipunyai tetaplah peran ibu rumah tangga tetap melekat pada diri seorang perempuan. Secara fisik dan mental seorang perempuan yang berperan ibu rumah tangga memiliki kemampuan untuk mengurus keluarga dan rumahnya dengan fulltime setiap hari.
Usaha perempuan membutuhkan kecerdasan dalam menjalani peran hidupnya sebagai madrasatul ula/mendidik anak-anaknya di rumah, manager rumah tangga dalam mengelola keuangan dan pekerjaan rumah tangganya serta solver dalam menghadapi berbagai masalah di dalam keluarganya. Semua yang dijalankannya akan mudah dan kuat dengan senantiasa berdo’a, melakukan ikhtiar, tawakkal kepada Allah dan terus istiqomah untuk meraih pencapaian dalam hidupnya.
Harapan dalam pencapaian hidup seorang perempuan berperan ibu rumah tangga bahagia di dunia dan akhirat. Dapat berkumpul dengan keluarganya di surga-Nya Allah SWT kelak di akhirat nanti. Allah SWT berfirman dalam surah At-Tur ayat 21, “Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka.”
Do’a Restu Mama

Oleh: Pitriana

Pagi itu aku berangkat dengan restu mama, menuju ibu kota Kabupaten Gowa. Kota Sungguminasa. untuk mempersiapkan diri mendaftar sebagai calon Pegawai Negeri Sipil. Dari jauh terlihat sudah banyak orang berkerumun di belakang salah satu ruangan di Sekolah Menengah Kejuruan di samping Kantor Daerah. Saya yakin mereka yang berkerumun itu juga sama sepertiku, ingin mengadu nasib menjadi “PNS”. Dengan wajah yang merona karena tak terbiasa dengan cuaca panas, saya mendekati kerumunan itu dengan map ditanganku.
Rasa-rasanya aku tak sanggup bila harus menembus kerumunan itu dengan tubuh mungilku ini. Akhirnya, aku memilih duduk di bawah pohon yang daunnya tidak terlalu rindang, bermaksud menunggu orang-orang yang berkerumun itu berkurang dan aku bisa leluasa untuk maju menyodorkan mapku. Aku mengamati sekelilingku, siapa tahu saja ada teman kuliah yang juga mendaftar di Gowa. Tapi beberapa menit mataku berkeliling, tak satupun orang yang ku kenal berada di sekitarku.
“Beginikah rasanya berjuang untuk mencari kerja?”, batinku.
Tanganku tak henti begerak ke kiri dan ke kanan mengibas-ngibaskan selembar kertas untuk mengurangi rasa panas yang dari tadi menggerogoti seluruh tubuhku. Sampai akhirnya kudengar seseorang memanggilku.
“Ana…!”
Aku menengok ke arah suara itu.
“Ilman? Daftar di Gowa juga?” tanyaku.
“Ya, formulirmu sudah disetor? Tanya Ilman. “Belum!”, jawabku. Aku tak mampu menerobos kerumunan orang-orang di depan sana.
Ilman teman kuliahku. Walau kami tak sekelas dan tak begitu akrab semasa kuliah, tapi aku bersyukur bisa bertemu dia di sini.
“Sini aku yang kumpulkan formulirmu! Kamu tunggu saja di sini, jangan ke mana-mana”, Ilman langsung meraih map di tanganku dan dengan semangat menerobos orang-orang yang berdesakan. Tak begitu lama, ia pun kembali lagi ke tempatku duduk.
“Makasih yaa”, ucapku senang.
Ilman hanya tersenyum melihat pipiku yang sudah merona sejak tadi. “Dasar orang gunung, baru sebentar di kota, pipi sudah merah begitu,” ejek Ilman.
“Iya nih, rasanya panas sekali, tambah lagi di sini banyak orang, makin panas deh.” Jawabku.
Kami sempat mengobrol beberapa waktu, sampai akhirnya aku putuskan untuk pulang ke rumah om untuk bersiap-siap kembali ke Malino. Oh ya, aku sudah janjian dengan Ilman untuk bertemu di sini saat pengambilan kartu ujian.
Beberapa hari setelah pengumpulan formulir pendaftaran, akhirnya aku harus ke kota lagi untuk mengambil kartu ujian sekaligus melihat lokasi tempat ujianku. Alhamdulillah tempat ujiannya mudah dijangkau. Semalam sebelum ujian, beberapa orang termasuk aku sudah berkumpul di rumah salah satu om, sepupu dari tetta untuk mendapat arahan-arahan bagaimana agar kami mudah menjawab soal ujian besok. Hari itu aku bangun pagi sekali, menyiapkan diri untuk mengikuti ujian tes CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil). Doa aku setelah sholat subuh, semoga Allah swt memudahkan apa yang akan aku kerjakan hari ini. Sebelum berangkat, aku menelepon mama yang berada di Malino untuk meminta doa dan restunya.
“Ma, doakan aku.” Pintaku.
“Iya Nak, mama selalu doakan kamu!” jawab mama.
Aku merasa percaya diri melangkahkan kaki pagi itu, karena tentu saja sudah berminggu-minggu belajar mempersiapkan diri untuk tes CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) ini.
08.15 WITA, ujian dimulai, aku mulai mengerjakan soal ujian yang berjumlah 100 nomor itu. Di tengah-tengah saat mengerjakan soal, aku merasa ingin buang air kecil, karena sudah tak tahan, akhirnya aku ijin keluar kepada pengawas ruangan. Karena baru pertama kali ke lokasi itu, aku jadi bingung di mana letak toiletnya. Sibuk mencari toilet sampai aku tak sadar kalau sudah terlalu lama di luar. Akhirnya setelah buang air kecil, aku kembali ke ruangan ujian. Pengawas mengingatkan kalau waktu hanya tinggal beberapa menit saja.
“Ya Allah, masih banyak yang belum kuselesaikan.” batinku. Aku mulai gusar, berusaha mengerjakan dengan waktu yang tersisa. Sampai akhirnya pengawas meminta kami untuk meninggalkan ruangan, “aagghhhhh,,, masih ada sekitar 20 nomor yang belum sempat kujawab”. Sejak saat itu perasaanku tak tenang. Aku mulai pesimis akan bisa menjadi salah satu yang lulus tes CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) kali ini.
Akhir Desember 2008, adalah saat pengumuman CPNS ( Calon Pegawai Negeri Sipil). Aku merasa tidak bersemangat karena masih mengingat kalau aku tak sempat menyelesaikan tesku. “Ah, sudahlah, pasti aku tidak lulus.” Batinku. Sampai pada suatu pagi, subuh tepatnya, aku dan semua orang di rumah masih tidur, handphone ku berbunyi, kulihat nama Ilman di situ, segera kuangkat. Belum sempat berbicara, Ilman sudah teriak di ujung sana, “Ana, kamu lulus, namamu di urutan 29!”. Sesaat rumah jadi gempar karena aku refleks teriak, “mama….. aku lulus…..!!!” ,
“Makasih Ilman!”, setelah menutup telepon, aku langsung sujud syukur. Alhamdulillah Ya Allah.
Terimakasih mama, berkat doa restumu, aku bisa menjadi Seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil)
Pencapaian dalam Hidup

Oleh: Endang Pudjiati

Masa kanak-kanak adalah masa yang paling indah. Apalagi sebagai anak kolong (istilah untuk anak tentara) aku memiliki banyak teman bermain, karena tinggal di asrama tentara. Hari-hari berlalu, bulan berganti bulan, bahkan tahun demi tahun pun kulalui.
Tibalah saatnya, aku sudah lulus SMA. Tanpa keraguan sedikit pun aku kuliah di Fakultas Keguruan jurusan Matematika, karena menjadi guru adalah cita cita yang aku impikan. Tidak diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Sedikitpun, tidak membuatku patah semangat. Kulalui suka duka sebagai mahasiswa dengan dukungan dari kedua orang tua. Setelah menyelesaikan kuliah, aku menikah dan mengikuti suami ke luar kota. Alhamdulilah, tidak lama kemudian suami berhasil mengurus kepindahannya ke kota asalku. Setelah kembali ke kota asal, aku mulai mengirimkan surat lamaran ke beberapa sekolah. Meskipun sudah lebih dari 5 tahun, belum satupun lamaranku diterima, aku tetap menjalani hidup dengan optimis.
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya aku mendapatkan surat panggilan kerja di SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas). Meskipun saat itu SPMA sudah hampir tenggelam karena sedikitnya peminat, setidaknya aku mendapatkan tempat untuk mengabdikan ilmu yang sudah kudapat di bangku kuliah.
Setelah menjalani profesi sebagai guru matematika, baru saya menyadari, ternyata tidaklah mudah untuk meraih apa yang kita inginkan. Perlu kesabaran, keuletan dan doa yang tulus serta amanah. Mengajar di sekolah swasta yang sebagian besar gurunya mengundurkan diri, membuatku mengajar beberapa mata pelajaran, di samping mata pelajaran yang kumampu. Hal itu justru membuatku semangat menggali ilmu baru, supaya saya bisa menghadapi anak didik dengan percaya diri.
Setelah mengajar sekitar dua tahun, saya mendapatkan kesempatan mengikuti Diklat di PMPSDMP, sekarang PPMKP (Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan), Ciawi, Bogor selama 2 minggu. Di sana saya bertemu dengan guru SPP (Sumbang Pembinaan Pendidikan) se-Indonesia dan tentu saja kesempatan terbaik itu saya gunakan untuk bertukar informasi tentang Sekolah Pertanian Pembangunan dan SDM (Sumber Daya Manusia), visi misi, dan masa depan SPP (Sumbang Pembinaan Pendidikan) yang tampaknya semakin tergilas oleh perkembangan jaman.
Tidak lama kemudian ada secercah harapan tentang nasib guru-guru SPP (Sumbang Pembinaan Pendidikan). Dengan adanya penegerian SPP dan berubah nama menjadi SPP Negeri Tulungagung, menjadi awal perbaikan nasib kami, seluruh guru dan karyawan yang sudah lama menantikan perbaikan nasib diri dan lembaga yang kami cintai. Bagaikan sebuah alur cerita, penegerian sekolahku membawa dampak yang signifikan untuk nasib kami, seluruh guru dan karyawan dengan masuknya kami pada Data Base pengangkatan honorer pada tahun 2005. Puji Syukur kepada Allah S.W.T. yang telah memberikan begitu besar anugerah-Nya, sehingga pada tahun 2007 aku termasuk salah satu yang beruntung diangkat sebagai CPNS di usiaku yang ke-36.
Bagaikan dilahirkan kembali, aku memulai hidup dengan semangat baru. Kini, aku menjalani hari-hariku dengan mengabdikan ilmu yang kumiliki masih tetap di sekolah yang kucintai dan kubanggakan. Aku berharap, sekolah yang semakin eksis ini akan bertahan dan tak lekang dimakan oleh kemajuan jaman. Semoga Allah memberikan aku kesehatan dan kesabaran dalam mengabdikan diri sebagai pengajar. Mungkin apa yang kulakukan, apa yang kupersembahkan untuk Ibu Pertiwi ini belum apa-apa, tapi aku akan berusaha untuk menjadi guru yang terbaik untuk diriku, terus menambah ilmu meskipun usia tak lagi muda, tetap sabar menghadapi berbagai cobaan.
Terima kasih kuucapkan kepada semua muridku, semoga kalian sukses menggapai cita cita. Maafkanlah apabila Ibumu ini tidak sempurna. D’oa terbaik untuk kedua orang tua dan suamiku yang sudah tiada, semoga Allah memberikan tempat terbaik disisi-Nya. Tak lupa pula kuucapkan terima kasih kepada suami yang selalu mendukung dan membimbingku, Semoga Allah selalu memberikan keberkahan pada keluarga kecil kita.
Antara Surga dan Orang Tua

Oleh: Y.M. Nyanasila, Thera

Masa kecilku sudah erat dengan kehidupan spiritual. Aku dengan tiga saudara lainnya tinggal di sebuah desa dengan suasana yang masih sangat asri, memiliki kedua orang tua yang senantiasa menuntun dalam kebaikan dan sahabat kecilku yang selalu mendorong untuk belajar agama. Kami bertiga, aku, kakak, dan sahabat kecilku, panggil saja ia Sutris, kami selalu pergi mengaji bersama setiap malam tanpa henti meski hujan. Walau kedua orang tuaku bukan seorang muslim, ia seorang buddhis. Namun, beliau sangat mendukung kami belajar mengaji. Sebenarnya aku tidak tahu, apa itu ngaji dan terlebih mengenai agama. Aku hanya mengikuti ajakan sahabat kecilku.
Disiang hari sepulang sekolah, sahabat kecilku berlari mendekat. “Hai Budi, ayo ikut ngaji, seru lo, kita belajar sholat dan turutan agar nanti bisa baca Alquran kalau mati bisa masuk surga”. Aku dengan riang menerima ajakannya, lalu aku izin dengan orang tua serta mengajak Kakaku, ia pun mau. Di hari pertama, kami hanya bermodalkan sarung, belum punya peci dan kami berdua di kasih pinjam peci oleh guru ngaji, dalam batinku “baik sekali beliau”. Malam kedua aku baru punya kelengkapan untuk mengaji, setelah kedua orang tuaku membelikannya dan ini adalah awal aku mulai belajar agama.
Malam kedua aku ngaji, sebenarnya aku belum paham bahkan wudhu pun aku belum bisa, jika ingat ini sampai sekarang aku malu sekali. Tapi guru ngaji dan sahabatku tidak lelah mengajariku. Hingga suatu saat guru ngajiku bertanya: “Budi, kamu sudah bisa wudhu belum?” “Belum”. Jawabku. Nah, beliau dengan sabar mengajariku mulai cara wudhu hingga baca turutan.
Setiap sore pukul 17:30 kami datang dan pulang malam pukul 20:00, tanpa ada libur. Jika sehari tidak ngaji rasanya ada yang kurang. Apa lagi saaat bulan Ramadan, waktu yang kami nanti menikmati keseruan puasa menuju Idul Fitri, meski pun puasanya masih puasa tengah hari karena ketika itu aku baru berusia lima tahun, sehingga guru ngajiku dengan bijak mengajariku untuk puasa tengah hari saja.
Hari-hari Aku lalui dengan bahagia bersama kegiatanku dalam mengaji sampai usia sepuluh tahun, hingga suatu ketika aku mulai bertanya dalam diriku. Aku dan kakakku sekian lama mengaji belajar membaca buku turutan, tetapi kenapa belum diajarkan Alquran. Sedangkan teman-temanku yang lain, termasuk sahabat kecilku sudah belajar membaca Al-quran bahkan angkatan di bawahku sudah diajarkan Al-quran.

Sejak saat itu aku mulia gelisah dan malas jika mengaji karena keinginanku belajar Al-quran belum tercapai. Suatu ketika aku mendiskusikan hal ini dengan kakak dan sahabatku, bahkan karena aku tidak berani menanyakan langsung kepada guru ngaji, sahabatku mencoba membantu menanyakan. Jawaban guru ngajiku “belum waktunya, teruslah belajar”. Aku sangat senang dan kembali semangat untuk belajar mengaji.
Malam hari ketika aku melihat teman-temanku di ruang sebelah belajar membaca Alquran, seketika itu aku merasa sangat sedih dan kembali aku bertanya-tanya, mengapa aku belum diizinkan belajar Alquran. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Pak, bisa minta waktu untuk bicara?”. Tanyaku dengan hormat.
“Ia boleh, silakan ke ruang sebelah”. Jawab beliau.
Dengan batin yang riang, berharap mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keingianan, aku mengajak kakakku menuju ruang sebelah dan beliau sudah menunggu kami berdua di ruang itu serta mempersilakan kami duduk. Beliau menatap kami berdua kemudian dengan lembut bertanya:
“Ada apa ya?”.
“Begini Pak, saya mau bertanya. Mengapa kami berdua kok belum diajarkan membaca Alquran?”. Tanya saya dengan sopan.
Beliau dengan lembut menjawab “Begini, memang kalian sudah lama belajar mengaji dan bahkan sudah bisa. Tetapi belum saya izinkan untuk belajar Alquran, jadi kalian terus belajar ya!”.
“Lo kenapa Pak?” Selahku di tengah jedah beliau berbicara.
“Jadi begini, jika seseorang beragama Islam dan belajar mengaji Alquran, nanti jika mati akan masuk surga. Nah, Ayah dan Ibumu itu beragama Buddha, kalau mati nanti masuk neraka. Supaya kalian bisa sama-sama masuk surga, sebaiknya ajak orantuamu masuk Islam”. Jawab beliau membuat kami tertegun diam. Kami pamit mengundurkan diri karena kebetulan sudah pukul 20:00 waktunya pulang ke rumah.
Inilah sebuah titik awal bagi Budi kecil untuk menentukan tutunan hidup. Aku sedih, kecewa dan bingung memilih antara surga, neraka, atau orang tua. Sejak pertemuan itu hingga perjalanan kerumah, aku sedih dan bingung. Sampai di rumah tiba-tiba muncul dalam batinku, “guru ngajiku baik, tapi tidak bijak”. Kalimat ini terus terngiang-ngiang dalam batinku.
Esok harinya aku dan kakaku tidak pergi mengaji dan malam itu menjadi hari di mana aku harus membuat sebuah keputusan besar dalam hidup. Akhirnya, kuberanikan diri menyampaikan keputusanku kepada orang tua, bahwa mulai besok aku akan ke wihara. Mereka bertanya:
“Lho kenapa, kok tidak mengaji malah mau ke wihara, terus itu peci, Alquran, dan sajadah yang sudah di beli bagaimana?” Rupanya orang tuaku sudah menyiapkan semua itu sebagai hadiah jika kami belajar Alquran.
Aku menjawab “Ia, kalau mati nanti aku tidak mau pisah, peci, Al-quran, dan sajadah disumbangkan saja ke Masjid”. Jawabku singkat.
Sekarang jika mengingat hal itu, Aku sangat bersyukur diusia kecil Aku harus mengambil keputuan yang besar, hingga Aku sekarang menjadi seorang biku dan memahami bahwa “Surga dan neraka bukan soal predikat agama, tetapi kemurnian moralitas semata dihadapan Yang Maha Kuasa”. Terima kasih mendalam untuk semua pelajaran dari beliau guru ngaji yang menginspirasi.
Hati yang Selalu Bisa Memaafkan dan Ikhlas Akan Membawamu ke dalam Kesuksesan

Oleh: Irra Lesmana

Manusia tak pernah luput dari persoalan dan masalah hidupnya. Tetapi ketika kita bijak menyikapinya, Ikhlas menghadapi semua masalah yang hadir dalam kehidupan. Maka kita akan selalu menjadi manusia yang bersyukur. Maka bangkit dan teruslah melangkah untuk memperbaiki diri. Jangan membenci, hiduplah dengan rendah hati. Berpikirlah positif, jaga silaturahmi. Serta jangan berhenti berdoa. Yakinlah Tuhan akan selalu menyayangi dirimu. Sehingga masalah yang datang akan dapat menemukan jalan penyelesainnya.
Dengan demikian kita akan selalu semangat, dapat bertindak cepat untuk dapat bangkit dan berjalan kearah yang lebih baik. Ketika kita berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang kita buat maka itu akan menjadi pembelajaran untuk kita. Sehingga berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang kedua kalinya. Saat seorang mampu menyelesaikan masalahnya maka pencapaian keberhasilannya akan menjadi baik. Keikhlasan pun menjadi salah satu untuk faktor seseorang menjadi lebih kuat, dapat mendekatkan kita kepada Tuhan. Semua aspek kehidupan lainya hanya berharap semuanya akan memberikan kebahagian dan kesuksesan. Jika kita memiliki sebuah cita-cita, keinginan atau hasrat pribadi, maka kita harus memulai semuanya dengan berusaha, bekerja keras dan mewujudkannya. Jangan pernah masalah menjadi hambatan kita untuk meraih semua itu. Fitri adalah seorang wanita yang terlihat hebat dengan pekerjaanya sebagai guru, pekerja sosial dan mahasiswa di salah satu Universitas di Jakarta. Semua orang yang baru mengenalnya akan menggaguminya sebagai seorang wanita yang mandiri dan hebat. Fitri hanya tersenyum saat orang selalu mengangapnya sudah sangat sukses.
Namun mereka tidak mengetahui 4 tahun yang lalu saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, pekerjaannya hanya mengurus rumah , anak-anak dan suami. Namun karena suatu permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga, Tepat tahun 2017 setelah 13 tahun lamanya membina rumah tangga. Akhirnya perceraian terjadi dalam hidup saya, karena suaminya mempunyai Wanita Idaman Lain (WIL). Dengan kesadaran itu saya pun mencoba memaafkan mantan suami, mencoba ikhlas dengan takdir yang sudah Allah rencanakan untuk saya.
Pada awal tahun 2018 saya mencoba bangkit untuk meneruskan hidup. Saya mencari pekerjaan dengan menanyakan loker kepada teman-teman saya. Namun usia saya yang saat itu 36 tahun sudah sulit mendapatkan pekerjaan. Keluarga dan teman-teman saya selalu memberikan support dan dukungan. Mereka adalah orang-orang yang berjasa dalam hidup saya.
Pada awal 2019 saya pun mendapatkan semua yang saya inginkan pekerjaan dan juga menjadi seorang mahasiswa. Karena saya ingin kuliah, cita-cita saat saya masih muda yang belum tercapai. Keinginan itu agar ilmu yang saya dapatkan kelak bisa bermanfaat untuk diri saya, anak-anak saya dan juga orang-orang yang ada disekeliling saya. Kegagalan itu membuat saya semakin bersemangat untuk mengikuti tes kembali, mengubah rasa kecewa itu menjadi motivasi agar saya kelak dapat lulus tes.
“ ….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari Rahmat Allah, melainkan kafir.” (Q,S Yusuf : 87).
Ayat ini membuat saya yakin bahwa selama saya masih bisa bernafas, berarti disitu akan selalu ada harapan. Jika kita merasa sangat sulit menghadapi tantangan dalam hidup, maka harapan itu akan datang kepada mereka yang percaya. Tetap berusaha yang terbaik disertai doa, itulah cara terbaik dalam menghadapi masalah.
Kini saya telah menemukan kebahagiaan, dengan bekerja disebuah Yayasan sosial. Yang saya harapkan hidup saya setiap harinya penuh dengan kesibukan yang bermanfaat dan memperoleh kebaikan baik dunia maupun di akhirat. “ Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”, “ tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)” (Q.S Ar-rahman :59-60).
Pendidikan yang yang bagus dan baik agar kelak mereka bisa menjadi manusia yang berilmu, berahlak baik dan rendah hati. Tetaplah semangat menjalankan kehidupan ini. Ketika kita memaafkan bukan untuk orang lain. Tapi untuk diri kita sendiri agar kita bisa memaafkan diri sendiri. Dengan sabar dan ikhlas maka menjadi obat penawar untuk menyembuhkan batin kita. Jangan berhenti jadi baik. “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat za’arah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah:7).
Lelaki Itu Bernama Marta Tulan

Oleh: Imam Priagung Wicaksono

Hidup seakan berjalan begitu cepat menorehkan tapak-tapak jejak yang penuh makna. Sesekali manusia membutuhkan jeda waktu dalam hidup untuk senantiasa menganalisa dan mengevaluasi apa-apa yang telah dilaluinya. Agar manusia sadar akan hakikat kehidupan dan pernak-pernik di dalamnya.
Hal ini berlaku juga pada diri lelaki itu. Diusianya yang menginjak 40 tahun lebih pikirannya mulai sering dihantui oleh dosa masa lalu. Meskipun begitu, disisa-sisa umurnya lelaki itu harus memacu asa demi masa depan diri dan keluarganya agar tidak tergilas oleh nafsu yang sering kali mengalahkan akal sehatnya dalam menjalani hidup. Sebagai orang jawa dia beranggapan bahwa kesempurnaan hidup seseorang akan tercapai setidak-tidaknya jika dia mendapatkan Wanito (pendamping hidup), memiliki keris/pusaka (ilmu) dan turonggo (kendaraan/Fasilitas hidup).
Lelaki itu bernama Marta Tulan. Dia bersyukur saat ini dia telah memiliki istri /wanito yang setia menemaninya. Diapun kini telah menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) plus tunjangan sertifikasi atas hasil dia menempuh pusaka/curigo lewat doa dan ikhtiarnya. Turonggo ataupun fasilitas hidup yang ia peroleh dari Tuhan saat ini sudah terasa berarti. Dulu sempat ia was-was dalam hidup. Menjadi buruh amplas dengan gaji harian pernah ia lakukan, buruh pabrik dengan gaji UMR (Upah Minimun Regional) yang cukup hanya untuk dirinya saja pernah ia rasakan, bahkan hingga ketika menikah sampai dikaruniai anak satupun hidupnya masih belum berada di titik nyaman.
Marta Tulan pernah memberanikan diri bertanya kepada Tuhan. “Tuhan, mengapa mereka yang jarang menyebut nama-Mu engkau berikan nikmat yang lebih dariku? Tuhan, mengapa ketika aku semakin dekat kepada-Mu engkau semakin memberikan ujian dan cobaan”?. Marta Tulan tersenyum jika teringat masa masa itu.
Sekarang dia merasa bahagia karena telah mendapatkan wanito, keris/pusaka, dan turonggo yang ia impikan dalam hidupnya..Hingga suatu waktu terjadilah episode pahit itu. Senyum Marta Tulan terselip rasa masygul. Ada hela nafas yang panjang, hatinya perih, raut mukanya berubah saat teringat akan peristiwa itu …
Semua mata memandang Marta Tulan dan perempuan itu dengan sinis, mulut demi mulut bergantian melontarkan sumpah serapah. Marta Tulan hanya diam dan menangis menyesali perbuatannya. Marta Tulan tertegun, diapun tak percaya atas apa yang telah dilakukannya. Ya Allah…inikah yang dinamakan istidraj? apakah aku terkutuk seperti Ken Arok yang dikutuk Empu Gandring lantaran tidak sabar ingin mendapatkan keris sakti, Ataukah hidupku diliputi kesombongan seperti halnya Kebo Ijo yang dengan pongah memamerkan keris titipan Ken Arok yang menyebabkan ia terbunuh.
Kejadian ini bermula ketika Marta Tulan mengunduh aplikasi Whatsapp pada Handphone barunya. Dirinya mulai sering bermain main dengan hati yang lain tanpa hati-hati dengan ber-chating ria. Padahal awalnya hanya sebatas just say hello dan joke-joke ringan saja. Hingga akhirnya nafsu telah membelit mereka, terlena dalam “hubungan terlarang”, dan… perselingkuhan pun terciduk.
Kini Marta Tulan harus menanggung malu sebab peristiwa itu, Bukan hanya malu kepada orang lain, Marta Tulan juga malu kepada dirinya sendiri. Marta Tulan memaki dirinya sendiri.”Hei Marta Tulan kau adalah Guru digugu dan ditiru”, “Kau juga seorang Khatib yang tiap jumat berdiri di atas mimbar, “Kau juga seorang guru ngaji”.Marta Tulan tak kuasa memikirkan apa yang telah terjadi. Kemudian entah mengapa samar terlihat wajah teduh istrinya dari balik jemari yang menutupi wajah Marta Tulan, istrinya tersenyum, mengelus rambutnya dengan penuh cinta. “Mas, ayo bangun sudah subuh!, itu mas Adi muadzin kampung sudah adzan”. “Sholat Jamaah itu banyak fadilahnya lho”!; “Diberkahi rejekinya,” “Menerima catatan amal dengan tangan kanan,” “Bebas dari siksa kubur,” ”Menyebrangi jembatan shirothol Mustaqim secepat kilat,” “Dan masuk surga tanpa dihisab.” Ucap istriku. “Ya Allah.. syukurlah ternyata ini hanya mimpi”. Batinku.
Lelaki itu bernama Marta Tulan.Orang tuanya memberi nama itu karena lahir Maret 1979. Usianya kini telah hampir menginjak 42 tahun. Langkahnya kini mulai hati-hati agar bidak yang ia jalankan tidak larut dalam permainan dunia. Uban pada rambutnya seakan berkata ”Marta Tulan, akhirat sudah ada didepan mata.” “Apa yang engkau bangga banggakan di dunia ini akan sirna.” “Wanita, harta, tahta, tak pantas engkau puja.” “apa yang telah engkau peroleh dalam hidup adalah atas kehendak-Nya” “Sombong hanya pantas untukNya”.
Marta Tulan hanya bisa diam, ia tak mampu mendongakkan wajahnya ke atas langit.Marta Tulan hanya bisa pasrah dan berdoa, “Ya Allah ampunilah aku meskipun itu hanyalah sebuah mimpi,” Aamiin.
Di Bawah Pancaran Sinar Matahari Pagi

Oleh: Sri Hariyani Affandi, S.Pd.

Hari itu Senin tanggal 17 Agustus 2020. Saya merasakan hari Senin yang berbeda dari biasanya. Udara sejuk masih terasa di kulit saya. Saya lihat di bawah pancaran sinar matahari pagi sang merah putih berkibar. Dengan menatapnya terbersit semangat baru pada diri saya untuk bergegas berjalan memasuki gerbang madrasah. Madrasah sepi, saya tak mendengar suara ramai siswa menata barisan hendak mengikuti upacara bendera seperti biasanya. Padahal hari ini adalah hari istimewa, yaitu hari kemerdekaan RI.
Maka, saya datang pada hari ini hanya untuk satu tujuan, yaitu upacara bendera untuk peringatan hari kemerdekaan. Saya langkahkan kaki ke arah sebuah ruangan di MTs 6 Tulungagung untuk mengikuti upacara secara virtual bersama semua guru dalam seragam atasan korpri dan rok biru. Dengan perasaan campur aduk saya mengikuti upacara bendera peringatan hari kemerdekaan RI secara virtual dengan tertib hingga selesai.
Baru kali ini saya merasakan hal aneh dalam benak saya pada upacara peringatan kemerdekaan RI ke-75. Namun, saya mencoba menemukan hikmah dalam upacara berbentuk virtual pertama kali untuk saya pribadi agar saya tak merasa kurang menjalani kewajiban selaku guru di MTs negeri 6 Tulungagung. Satu tekat bulat bahwa saya harus sehat dan tertib hidup dalam model tak terduga dalam masa new normal pandemi Covid 19 tahun 2020 agar tenang, damai dan berhasil menjalani tugas saya sebagai guru bahasa Indonesia. Karena saya pun tak ingin segala rasa was-was terhadap model penyakit baru kali ini merasuki jiwa raga saya. Saya sangat ingin hidup nyaman dalam bekerja dalam rentetan waktu kegiatan belajar mengajar bersama bagi siswa MTSN 6 Tulungagung. Oleh karena itu, saya berusaha makan teratur, belajar senam pagi, menjaga kebersihan badan dan khususnya tangan. Berpergian memakai masker hanya untuk keperluan penting, menjaga jarak kontak dengan sesama, serta tak lupa minum jamu tradisional Jawa 1 kali perminggu. Semacam itulah cara hidup yang saya jalani untuk menjaga kesehatan dalam rentetan hari demi hari yang berjalan dari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu. Demikian seterusnya berputar dalam segenap doa dhuha dan kontak online serta hasil tugas siswa tertulis pada selembar dari tangan wali kelas.
Ya Allah ya Tuhan ampuni saya. Dalam kondisi tak nyaman ini. Buah rambutan bukan buah duku, Tuhanku jangan biarkan pandemi covid-19 rasuki daku dan muridku.
Kini waktu telah berjalan memasuki bulan Januari tahun baru tahun 2021. Bulan Januari mengingatkan saya sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kemenag RI Tulungagung pada acara peringatan Hap Kemenag RI ke-75. Pembelajaran satu semester ganjil tahun ajaran 2020/2021 telah usai. Pada pertengahan bulan Desember dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim saya serahkan data nilai hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas 7E, 7F, 7G, 8F dan 8K kepada wali kelas mereka. Selaku guru bahasa Indonesia saya ingin hidup berlaku benar dalam bekerja pada garis yang bernilai ibadah iklas beramal. Dengan pengabdian hidup pada dasar bekerja ikhlas beramallah insyaallah akan membimbing saya senantiasa ingat akan tujuan hidup saya untuk mencapai hasil nyata bahagia di dunia dan di akhirat di bawah naungan Kemenag RI di kabupaten Tulungagung. Sesudah acara peringatan Hap Kemenag RI ke-75 berlalu, para siswa MTs Negeri 6 Tulungagung menerima rapot semester ganjil tahun 2020/2021.

Dalam kaitan kegiatan belajar mengajar di madrasah tersebut, saya selaku seorang guru bahasa Indonesia senantiasa ingin agar para siswa saya tak hanya pandai memahami pengetahuan tata bahasa Indonesia resmi semata. Karena, didalamnya inklusif muatan pelajaran sastra Indonesia. Selaku guru bahasa Indonesia saya ingin membimbingnya agar mahir berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Maka, saya menggunakan pendekatan ilmiah dan komunikatif.
Dengan pendekatan ilmiah, saya ingin pacu para siswa dengan memberikan pengetahuan tentang aneka teori pengetahuan bahasa Indonesia agar mereka paham segala seluk beluk cara berbahasa yang baik dan benar menurut tata bahasa Indonesia untuk bekal menuntut ilmu sampai jenjang pendidikan tinggi. Adapun materi yang perlu bagi mereka dalah identifikasi teks, struktur dan aspek kebahasaan teks serta informasi teks dan langkah-langkah penggunaan bahasa dalam praktik penyusunan teks. Saya pun ingin mereka menyukai hobi membaca. Dengan tujuan agar keterampilan bahasa mereka berkembang aktif secara bertahap. Tujuan juga untuk mengasah berpikir dan dapat bicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Untuk pendekatan ilmiah dan komunikatif tersebut saya gunakan model pembelajaran kooperatif dengan metode penugasan, demonstrasi, tanya jawab, ceramah, artikulasi dan lain-lain. Aamiin Ya Roball Alamin. Disisi lain, saya ingin pula menjadikan para siswa yang suka mengenali dan menikmati karya sastra Indonsia seperti cerita fantasi, cerpen, dongeng, pantun, syair, puisi, drama. Dengan demikian, mereka bisa mengenali karakter sastrawan Indonesia dan meneladaninya dalam proses kreatif pada masa mereka balajar dan/atau di hari kelak ketika mereka dewasa. Aamiin.
Tulungagung, 13 Januari 2021, Oleh Sri Hariyani Affandi, S.Pd.
Hutang Sepuluh Juta Lunas Kurang dari Satu Tahun

Oleh: Indah Cornelia Sari

Pada tahun 2015 lalu, saya dan pasangan mendirikan sebuah online shop yang diberi nama CKShop. CKShop merupakan singkatan dari Cici Koko Shop. Cici dan koko adalah nama panggilan untuk saya dan pasangan, Angga Wiji Widodo.
Awal berdirinya CKShop tidaklah mudah. Banyak sekali rintangan yang harus kami hadapi, mulai dari keterbatasan pengetahuan dan informasi tentang cara berbisnis secara online, keterbatasan modal, dan juga keterbatasan transportasi untuk COD (Cash On Delivery). Meskipun demikian, hal tersebut tidak membuat kami menyerah begitu saja. Kami saling bergandeng tangan dan menguatkan satu sama lain.
Tiga tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2018, CKShop mencapai puncak kejayaannya. Jumlah pesanan pun semakin banyak. Dari yang awalnya puluhan pesanan, kini menjadi beratus-ratus pesanan. Semakin banyak pesanan yang kami dapat, tentunya modal yang kami butuhkan juga semakin besar. Oleh sebab itu, pada tahun 2018 lalu, kami membuka investasi bagi para investor yang ingin berinvestasi di CKShop. Akhirnya, kami mendapat 6 investor yang berkenan untuk menginvestasikan uangnya kepada kami. Uang investasi tersebut dikelola oleh saya karena pada tahun 2019 yang lalu, pasangan saya harus ke Jepang sampai tahun 2020.
Pada awal tahun 2019 lalu, bisnis kami semakin berkembang, tidak hanya di bidang fashion saja tetapi juga merambah ke bisnis agen pulsa yang kami beri nama CK Cell. Pada saat itu kami memiliki sekitar 10 agen yang terdapat di wilayah Banjarnegara dan Purwokerto. Awalnya semua berjalan dengan lancar, sampai akhirnya ada salah satu agen pulsa saya yang menggunakan uang setoran pulsa untuk memenuhi kebutuhannya tanpa sepengetahuan dari saya. Tidak hanya itu, saya juga ditipu sekian juta oleh salah satu konsumen saya dengan mengirim bukti transfer palsu. Itu adalah salah satu kelalaian saya karena tidak menggunakan m-banking. Total kerugian yang saya alami pada saat itu mencapai sepuluh juta rupiah. Mau tidak mau saya harus mengganti uang tersebut karena itu adalah uang investor.
Alih-alih lari dari tanggungjawab, saya memilih untuk mengatakan yang sejujurnya kepada para investor dan meminta kelonggaran untuk melunasinya. Beruntungnya, para investor saya sangat baik dan percaya kepada saya bahwa saya pasti akan melunasi hutang tersebut. Saya bertekad untuk melunasi semua hutang saya dalam waktu satu tahun. Mungkin untuk sebagian orang ini adalah hal yang mustahil, apalagi status saya masih mahasiswa dan belum mempunyai pekerjaan tetap. Tetapi saya yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika saya mau berusaha dengan maksimal. Saya yakin bahwa Tuhan akan memudahkan rejeki saya ketika saya sudah berniat untuk segera melunasi hutang saya.
Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengambil sebagian tabungan yang saya punya untuk melunasi hutang saya kepada para investor dan sebagian yang lain saya gunakan untuk modal usaha
Kedua, saya menjual semua asset yang saya punya, salah satunya adalah emas. Pada saat itu, total hutang yang bisa saya lunasi dari mengambil uang tabungan dan menjual emas yang saya punya sekitar Rp. 5.000.000,00.

Ketiga, saya menghitung perkiraan penghasilan yang harus saya dapatkan setiap bulan supaya hutang saya bisa lunas dalam waktu 1 tahun.
Keempat, saya mencari peluang usaha untuk mahasiswa. Akhirnya, saya memutuskan untuk melanjutkan bisnis online shop saya, membuka kursus Bahasa Inggris, membuka jasa translate dokumen (Indonesia-Inggris dan Inggris-Indonesia), dan membuka jasa pembuatan CV.
Kelima, setiap saya punya rejeki lebih, saya akan langsung mencicil hutang saya tanpa menunda-nunda, berapapun nominalnya, bahkan saya pernah mencicil hutang walaupun itu hanya Rp. 5.000. Ketika saya benar-benar tidak ada uang untuk mencicil, saya akan langsung menghubungi para investor saya walaupun mereka tidak menagihnya.
Alhamdulillah, atas izin-Nya hutang saya yang sepuluh juta tersebut bisa lunas dalam waktu kurang dari 1 tahun. Pada akhirnya, tidak ada hutang yang tidak bisa dilunasi selagi kita mau berusaha dengan maksimal. Tidak perlu takut miskin untuk membayar hutang. Justru rejekimu akan semakin dilancarkan jika kamu punya niat yang baik untuk membayar hutang. Mari kita introspeksi diri kita masing-masing, siapa tahu selama ini rejeki kita terasa sempit lantaran masih ada hutang yang kita tunda-tunda untuk dilunasi.
Akhir kata, saya ucapkan terimakasih untuk keluarga saya dan juga Mas Angga yang selalu mendukung saya disaat saya terpuruk. Terimakasih juga kepada para investor CKShop yang sudah memberikan kepercayaan kepada kami untuk mengelola uangnya. Salam sukses untuk kita semua.
Tentangmu Berawal dari Dirimu

Oleh: Titik Karyati

“Pencarian karir itu sepanjang hidup!” kalimat itu saya dapatkan ketika menghadiri pertemuan orang tua murid sekolah anak saya. Mungkin kalau saya mendengarnya dulu, kalimat itu akan terdengar biasa saja, menjadi berbeda ketika saya memaknainya sekarang ini. Dulu, karir adalah tentang rutinitas jam kerja, tentang jenjang karir, sekarang? karir adalah tentang bagaimana kita menghasilkan uang.
Memulai pilihan jurusan Fisika ketika SMA dengan tujuan menjadi analis kimia, mantap! Lalu apa yang dijalani ketika kuliah? Saya masuk jurusan Akuntansi hehehe. Merasa bersalah? hmmm…Saya selalu ingat pesan guru saya waktu SMA, beliau selalu bilang, ilmu itu bukan hanya tentang mengaplikasikan pada ilmu itu sendiri, tapi tentang bagaimana kita mengaplikasikannya dalam kehidupan, tentang essensi dalam ilmu itu sendiri. Jadi? saya berdamai dengan pilihan saya.
Selanjutnya? saya “happy” menjalaninya. 16 tahun berada di dalamnya menjadi salah satu indikatornya, eh tapi saya tidak tahu apa ini indikator happy atau indikator kebutuhan hahahaha apapun itu saya amat amat sangat bersyukur dengan perolehan di dalamnya.
Jadi bukan karena tidak bersyukur ketika akhirnya saya mengakhiri “dunia karir” ini dan menemukan dunia karir yang baru. Dunia baru yang tanpa sengaja mengajarkan kepada saya tentang bagaimana teori “jangan takut kehilangan rezeki, percaya kepada Allah” bekerja. Tahu apa yang berat dari kalimat ini?? yup…! Meyakininya….!
Dunia saya menjadi berubah, anak kampung yang paling jauh pelesir ke kota mulai jauh dan sering bepergian ke Negara tetangga. Anak introvert ini mulai menjadi terbuka bercerita sambil menangis kepada Allah di masjid Nabawi, melepaskan rindu di Raudhah, kangen-kangenan di masjidil haram…ya Allah dasyatnya hasil perjalanan sebuah bisnis.
Dunia karir (bisnis) yang belum pernah saya jalani, dan akhirnya berani saya tapaki, menjadi penghantar perubahan “dunia” saya, kemudahan hidup mulai mengikuti alurnya, dan tiba tiba semua optimisme tentang hidup menjadi tergambar jelas di depan mata.
Pernah memimpikan sesuatu tapi rasanya jauh untuk dijangkau? pernah membayangkan sesuatu tapi kemudian meyakininya memang hanya sebagai bayangan? pernah bahkan untuk memimpikan dan membayangkannya saja membuat takut? Di sinilah pelajaran hebat tentang “Percaya kepada Allah” tejadi, versi saya tentunya, tentang berani bermimpi dan meyakini mimpi kita terjadi karena kuasa Allah. Lalu di mana letak “Pencapaian Hidup saya”? apakah berporos pada rasa keberpihakan dunia kepada saya saat ini? tentu saya tidak memungkirinya, segala puji bagi Allah akan hal itu. Tapi tahukah apa yang jauh lebih dasyat dari hal itu? SAYA YANG BARU! itu adalah pencapaian hidup saya yang sebenarnya. Dan sekarang saya bangga ketika dulu saya berani memutuskan untuk masuk ke dunia baru tersebut.
Saya yang ikhlas melepaskan apa yang pernah menjadi kesalahan. Saya yang memaafkan segala ketidaknyamanan yang terjadi dalam hidup saya. Saya yang bersyukur atas hujan badai yang disertai pelangi dalam hidup saya. Saya yang bisa memaknai bahwa air mata itu tidak melulu tentang kesedihan.
Dan…..
Saya yang bersedia menerima semua bentuk kebahagiaan.
Dan semua berawal dari sebuah KEPUTUSAN!
Keputusanmu memang belum tentu mengubah hidupmu, tapi bisa jadi hidupmu tidak akan berubah sama sekali jika kau tidak berani mengambil keputusan…..! klise? memang, tapi tahukah anda kenapa quote yang berulang disebut klise? karena seperti klise foto jaman dahulu, kita bisa mencetaknya berulang-ulang kali, dan sebanyak yang kita cetak, mungkin beberapa bisa kau bagikan untuk menjadi bagian kehidupan orang lain dan bagian yang terbaik? Gunakan untuk kau pandangi dengan bahagia, lalu kau ceritakan pada dunia dengan suka cita bagaimana itu bisa merubah hidupmu……..
Terima kasih wahai diri telah mengizinkan untuk menemukan diri yang baru.
Terima kasih hey kamu …..dunia baru yang telah merubah hidupku.
Tiga kata yang pertama,
I LOVE YOU
Tiga Kata yang berikutnya ,
Millionaire Club Indonesia • Catatan kecil untuk hidupku yang lebih BESAR
Likuika

Oleh: Ika Fitria Ayuningtyas

Kehidupan di dunia tidak ada yang abadi. Setiap siklus kehidupan membutuhkan sebuah proses. Lamanya proses tidak ada yang tahu, tetapi bisa kita estimasi dan targetkan. Dalam sebuah proses perlu kita kenali diri kita sendiri, berusaha dan berdoa agar proses dapat terjalani dengan baik.
Tidak pernah terbersit dalam benak untuk bekerja sebagai dosen meskipun terlahir di keluarga sebagai guru. Kuliah yang saya tempuh membuka jalan sampai pada kehidupan saat ini. Berawal dari memperhatikan penampilan dosen yang selalu tampil rapi lalu mengimajinasikan seandainya saya juga seperti itu, sesederhana itu.
Saat itu diakhir perkuliahan yang saya tempuh, beberapa lamaran pekerjaan di masukkan kebeberapa perguruan tinggi. Tiba hari dimana wawancara kerja sudah terlampaui dan kembali menyibukkan diri ke rutinitas perkuliahan tingkat akhir. Dalam perjalanan kembali ke kota menimba ilmu Allah berkehendak lain. Karena mengantuk akhirnya terjadilah sebuah kecelakaan tunggal yang mengharuskan saya terbaring di Rumah Sakit selama beberapa hari dengan kondisi tangan kiri retak. Sampai dengan tibalah hari wisuda, tangan saya masih digips.
Suatu hari saya dan adik belajar menyetir mobil. Selama 1 bulan adik sudah berani menyetir sendiri tapi nihil saya pun belum bisa untuk menguasai medan, lucu memang…akan tetapi saat itu sepertinya belum butuh. Setelah lulus kuliah sarjana memang saya menerima pekerjaan paruh waktu. Kegiatan sehari-hari membersihkan rumah dan membantu orang tua. Suatu pagi setelah beberes rumah, bapak menyampaikan senang sekali rumah menjadi bersih saat saya di rumah akan tetapi bapak lebih senang jika setelah lulus bisa bekerja sesuai dengan perkuliahan yang dijalani. Cambukan itu menyemangati diri ini untuk mencari lowongan pekerjaan bahkan sampai luar kota yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Berbekal informasi dari teman kuliah saya mencoba melamar pekerjaan di luar kota diantar bapak karena tangan masih belum bisa aktivitas normal setelah kecelakaan.
Pada bulan itu kedua orang tua berangkat haji, menangis… iya, sementara kontrak kerja paruh waktu juga hampir selesai. Saya sebagai anak paling tua merasakan bagaimana menjalani hidup jika tidak berpenghasilan sendiri meskipun orang tua sudah memberikan nafkah selama mereka ibadah haji. Alhamdulillah pagi itu ada berita bahwa saya diterima bekerja di luar kota dengan jarak 45 km dari rumah. Saat orang tua menelpon ke rumah dan mendapat kabar tersebut menangis bahagia, sebahagia itukah mereka hanya mereka yang tahu. Hari-hari selanjutnya dimana saya mulai bekerja akhirnya melaju menggunakan sepeda motor tiap hari pulang pergi dan bertahan selama 3 tahun berangkat pagi pulang malam. Iri memang saat perjalanan hujan turun pakaian basah dan kedinginan, sementara orang lain yang rumahnya dekat dengan tempat kerja sudah bisa santai kumpul bersama keluarga. Dirasa modal cukup saya memutuskan kuliah lagi dan tidak ingin merepotkan orang tua, Alhamdulillah mendapat beasiswa.
Keputusan untuk menikah sudah diucapkan. Pikiran dimana akan tinggal menjadi masalah tersendiri karena saya dan suami bekerja beda kota. Dengan segala pertimbangan akhirnya mengambil rumah di tengah tengah jarak antara tempat kerja saya dengan suami. Modal untuk beli rumah pun belum cukup. Mengadu ke orang tua juga malu karena orang tua sudah banyak membantu. Akhirnya jatuh keputusan untuk berhutang dengan bank untuk pertama kali dalam hidup saya…pengalaman yang luar biasa. 1 tahun kemudian Alhamdulillah diberi amanah untuk melahirkan anak pertama saya. Selesai cuti bekerja, ada ujian lagi dimana akan tinggal karena rumah direnovasi. Akhirnya kami numpang di rumah teman selama 2 bulan….peristiwa yang menyedihkan. Anak diputuskan untuk dititipkan di daycare.
Setiap mudik pinjam mobil ke orang tua. Ada rasa malu karena masih merepotkan orang tua. Bismillah diniatkan bisa mempunyai mobil sendiri. 4 tahun kemudian Alhamdulillah bisa mempunyai mobil sendiri, meskipun sepertiganya dari hutang bank. Lagi lagi berurusan dengan bank, sedih iya. Suatu hari saya tergerak untuk ikut menjadi reseller salah satu produk minuman herbal. Grup tersebut tidak hanya membahas jualan akan tetapi, saling menyemangati untuk menjauhi hutang. Berawal dari situlah saya niatkan ingin melunasi hutang dengan segera. Alhamdulillah tidak sampai jatuh tempo saya bisa melunasinya, hilang 1 beban…leganya.
Setiap kita yang mempunyai kehidupan, kita layak untuk memaknai sebuah pencapaian dengan hal yang paling bijak, sesuatu yang nyaman, sesuatu yang berharga dari sudut pandang yang berbeda, sesuatu yang memberikan kebahagiaan ketika menggenggamnya, ataupun sesuatu yang dengan mudah memberikan senyuman indah di wajah. Namun, arti sebuah pencapaian bagi setiap orang, janganlah disamakan.
Mahasiswa Sukses Meraih Omset Sepuluh Juta dalam Satu Bulan dari Rumah

Oleh : Setiawan Shaputra

Sejak pandemi corona ini berada di negeri kita Indonesia, banyak sekali yang terkena dampaknya dari kondisi ini. Pandemi corona ini berdampak pada berbagai sektor mulai dari perdagangan, pariwisata, pendidikan dan sebagainya. Banyak juga yang karyawan atau pegawai yang gajinya belum turun bahkan dikurangi serta sampai ada yang terkena PHK.
Aku adalah salah satu yang terkena dampak dari kondisi pandemi corona ini. Aku seorang mahasiswa Manajemen Konsentrasi Keuangan di Universitas Teknologi Yogyakarta. Sejak akhir bulan Februari, aku sudah melaksanakan kuliah daring hingga sekarang ini. Sembari melaksanakan kuliah daring, aku selalu berfikir bagaimana cara agar dapat menghasilkan uang tambahan dari diri sendiri.
Aku mulai mencari dan menganalisis situasi di berbagai sosial media untuk dapat menghasilkan sesuatu. Singkat cerita, pada awal bulan Juni 2020, aku berhasil mendapatkan infromasi mengenai bisnis online. Aku mencari informasi lebih detail dan manfaatnya serta bagaimana cara kerjanya. Aku mulai paham dan mengerti tentang bisnis online tersebut. Akhirnya, kuputuskan untuk bergabung menjadi tim Marketing di sebuah lembaga pengembangan diri. Tugasku adalah untuk mempromosikan training yang ada lembaga tersebut. Aku tidak sendirian. Aku diberikan bimbingan bagaimana cara dan strategi promosinya agar mendapatkan penghasilan atau komisi.
Aku menjalankan tugasku dan banyak sekali rintangan dan tantangan yang kuhadapi. Salah satunya yaitu gagal mendapatkan peserta atau calon customer. Tetapi, aku tidak pantang menyerah, aku terus berusaha dan evaluasi setiap harinya. Dengan begitu, aku berhasil mengubah strategi dan berhasil mendapatkan beberapa peserta atau customer yang ingin ikut training tersebut.
Pada bulan pertama aku bergabung sebagai Tim Marketing di lembaga training tersebut, aku langsung mendapatkan sebuah Reward sebagai Tim Marketing terbaik Bulan Agustus 2020. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bisa mendapatkan Reward ini. Hehehe… Aku berhasil mempromosikan dengan baik dan tepat sasaran hingga banyak orang yang mau mengikuti training pengembangan diri tersebut. Aku merasa senang dan bangga bisa mencapai hal tersebut.
Pada bulan ke-2 tepatnya bulan September 2020, ini adalah salah satu momen yang indah dan luar biasa. Dimana, ini merupakan bulan kelahiranku. Semangatku semakin membara untuk bisa mempertahankan Reward tersebut. Alhasil, usaha dan kerja kerasku mempromosikan berbagai training berhasil memberikan banyak peminat yang datang untuk mendaftar dan mengikuti kegiatannya. Singkat cerita, diakhir bulan ada pengumuman Reward Tim Marketing terbaik Bulan September 2020.
Aku sangat yakin bisa mempertahankan dan mendapatkannya. Benar saja, aku menjadi Tim Marketing Terbaik bulan September 2020. Aku berhasil mendapatkan omset lebih dari 10 Juta dan mendapatkan peserta lebih banyak dari Tim yang lain. Aku sangat senang disitu karena ini hadiah spesial di ulang tahunku bisa menyabet Reward tersebut. Aku percaya usaha tidak akan mengkhianati hasil.
Akhir cerita, aku ingin mengajak teman-teman semuanya untuk mari sama-sama kita belajar dan berinovasi serta mencoba hal baru. Beranikan diri untuk memulai dan mencoba hal baru. Gagal 1x coba lagi, Gagal 2x coba lagi, Gagal 3x coba lagi. Bukan seberapa banyak gagalnya tetapi bagaimana kita belajar dari pengalaman kegagalan tersebut untuk mendapatkan keberhasilan. Semoga sedikit cerita singkat dari pengalamanku ini bisa memberikan motivasi dan inspirasi buat teman-teman semuanya.
Terima Kasih
“Jalani Sebaik Kau Bisa”
Hikmah di Balik Pandemi Tahun 2020

Oleh: Warlinah

Begitu banyak hal-hal yang terjadi di tahun 2020. Adanya pandemi yang berkepanjangan ditahun 2020 lalu, yang tidak tau kapan akan berakhir. Pandemi membatasi manusia untuk berinteraksi dengan manusia yang lain, namun banyak hikmah dibalik wabah covid yang melanda dunia, dan Indonesia pada khususnya. Diawal tahun 2020. Karena tuntutan pekerjaan. Alhamdulillah aku telah menyelesaikan studi S1 walaupun tanpa seremonial wisudah sebagai rasa syukur telah menyelesaikan studi, namun hanya menerima ijazah tanpa acara wisuda. Dengan hikmah covid ditahun 2020 ini aku bisa mengikuti berbagai macam e-workshop online dari rumah, dengan biaya yang relatif murah dibanding jika dilaksanakan secara offline yang memakan biaya transportasi, akomodasi, konsumsi yang lumayan menguras kantong. Dengan adanya wabah covid aku bisa mengenal dunia kepenulisan bersama dengan Pak Cahyadi Takariawan dan teman-teman di KMO yang berasal dari seluruh pelosok tanah air yang melahirkan beberapa buku antologi dan 1 buku Solo.
Saat itu saya memilih kelas belajar menulis online hanya 3 bulan, terhitung tanggal 20 Mei 2020 dan berakhir di tanggal 20 bulan Agustus 2020 yang lalu. Dikelas Whatshapp menulis online, basic, kelas Alineaku Non Fiksi Batch 31, khusus untuk penulis pemula, materi yang diajarkan adalah teknik-teknik kepenulisan. Selain KMO alineaku aku juga mengikuti kelas menulis buku ilmia popoler bersama Pak Doktor Irjus Indrawan, yang menghasilkan 2 buku antologi dengan judul “Guru Profesional dan Guru Sebagai Agen Perubahan.” Tidak berhenti sampai disitu, digrup facebook “Sahabat Menulis Alineaku” yang ramaikan oleh alumni dari kelas menulis grup WA. Digrup FB tersebut berbagai informasi disampaikan oleh para sahabat, termasuk kelas WA parenting yang dimentori oleh Bunda Erina Rusdiansari disana aku juga ikut tergabung yang menghasilkan dua buku Antologi “Cinta Seribu Aksara dan Cinta Seribu Kata.”
Masih di kelas Alineaku Non Fiksi Batch 31 aku juga mengikuti kelas cerpen, kelas yang berjalan hanya seminggu dimentori oleh Deudu Desmiati yang juga menghasilkan satu buku antologi dengan judul “Sejuta Rasa Sejuta Makna.” Dari kelas cerpen kemudian ikut kelas BABIBU, “Bareng Bikin Buku” dan terlahir buku. “Best friend in love.” Tepat tanggal 20 Agustus 2020 kelas basic Alineaku pun berakhir, untuk dinyatakan lulus harus dengan tugas membuat 30 judul buku, dari 30 judul buku dibuat 2 artikel sebagai sayarat kelulusan. Sebagian peserta tidak ingin kelas berakhir tanpa kenangan-kenangan, kami pun sepakat membukukan tugas terahir menjadi buku antologi sebagai yang di dalam terdapat tulisan guru kami Bapak Cahyadi Takariawan, buku yang kami beri judul “Jawaban dari Tuhan.”
Selain tugas yang kami bukukan menjadi buku antologi, kami sepakat juga membuat satu lagi buku antologi yang bertemakan kisah inspiratif dari masing-masing peserta yang kami beri judul “Mengedukasi Negeri.” Kelas Alineaku pun berakhir, yang ditandai mendapatkan sertifikat tanda telah selesai menjalani kelas menulis basic. Pada penutupan kelas Alineaku Batch 31 Pak Cahyadi Takariawa menawarkan kelas EPK “Emak Punya Karaya” di kelas ini lah aku bisa membuat buku solo yang aku beri judul “Jejak Petualang tak Pernah Hilang, memetik makna dari setiap peristiwa.”
Buku solo yang kelahirannya penuh perjuangan, menyita banyak waktu tenaga, dan pikiran, buku yang terlahir hanya dalam jangka 1 bulan, 2 Minggu adalah proses pengumpulan Naskah tulis. Dan 2 Minggu berikutnya adalah waktu yang digunakan oleh penerbit untuk mengedit, layout, proofiding dan lain-lain. Hingga buku pun terlahir tepat di tanggal ulang tahunku, rasa lelah terbayar dengan rasa bahagia. Dengan kelahiran buku solo pertama aku mengambil hikma bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia jika kita ingin berusaha dan berjuang untuk mendapatkannya. Benar kata pepatah “Seberapa besar perjuanganmu seperti itupula hasil yang engkau dapatkan” untuk menghasilkan sesuatu yang memuaskan haruslah melalui usaha dan pengorbanan.
Bersyukur atas rahmat Allah, dapat mengambil hikmah pandemi, memanfaatkan waktu libur untuk bisa belajar menulis online yang dilaksanakan di rumah. dan dapat menghasilkan beberapa karya tulis, memiliki teman dari Sabang sampai Merauke walaupun hanya di dunia maya namun keakraban yang terjalin melampaui keakraban dunia nyata.
Tahun 2020 banyak yang memaknai sebagai tahun yang penuh dengan duka, air mata, tahun yang bersejarah bagi seluruh dunia, dimana hampir segala aktivitas manusia di batasi untuk memutus mata rantai penyebaran covid, namun jika kita melihat dari sudut pandang yang berbeda akan ditemui banyak hikmah disana.
Selamat tinggal tahun 2020, selamat datang tahun 2021 semoga ditahun 2021 bisa lebih baik lagi untuk kehidupan masyarakat, dan kondisi kembali normal seperti sedia kalah sebelum pandemi melanda. Harapan ditahun 2021 dapat menjadi bagian dari PPPK yang dicanangkan pemerintah dan di mudahkan menjalani studi S2. Aamiin.
Mimpi yang Tertunda

Oleh: dr. Lestari

Namaku Lestari, seperti nama orang jawa kata sebagian orang. Namun, aslinya aku merupakan campuran dari melayu deli (medan) dan melayu siak-cina. Tapi wajahku sama sekali tidak ada unsur cina-nya. Keluarga kakek setelah mamak dan keluarga kakek setelah bapak merantau ke Indragiri Hilir, dari jaman penjajahan.
Semasa duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, aku sudah senang membaca komik Jepang. Saat itu, harganya masih sekitar Rp.3.500. Berawal dari membaca komik milik abang kandungku dengan judul Kungfu Boy, lalu berlanjut ke Dragon Ball, Kenji dan lain-lain. Semua habis ku baca. Kemudian akupun membeli versi komik yang lainnya. Mulai dari serial cantik, sampai serial misteri. Sampai masa kuliah pun, aku masih mengoleksi buku jepang mulai dari Totto Chan, sampai komik Detektif Conan. Dari sini aku begitu terobsesi pada negara Jepang. Aku begitu terkagum-kagum melihat negara ini begitu mudah memproduksi komik dengan segala macam genre. Pekerjaan yang seolah-olah hiburan menjadi sesuatu yang sangat diminati dan menghasilkan uang. Dan mereka membuat gambar yang sangat rapi dan detil.
Semasa aku kecil, jika ditanya cita-cita, maka aku akan menyebutkan berbagai macam profesi yang silih berganti. Mulai dari dokter, penulis, atlet, guru, pemusik, pelukis, dan lain sebagainya. Setelah kuliah berlanjut ingin menjadi traveler…Ya Allah, bukan kah aku begitu banyak keinginan? Hehehehe. Ternyata dimasa depan, aku salah satu orang yang menuliskan cita-cita dokter dan tercapai di kemudian hari. Alhamdulillah.
Aku adalah tipe orang yang suka belajar, tapi tidak terlalu pintar. Ketika dimasa sekolah di mana orang tidak perlu belajar keras untuk pelajaran matematika dan fisika, maka aku harus jungkir balik bangun jam 3 pagi mengulang belajar sebelum ujian untuk mendapatkan nilai standar. Tetapi nilaiku bagus pada pelajaran bahasa Indonesia dan IPA, termasuklah disitu biologi dan kimia. Pada pelajaran biologi, aku sangat menikmati ketika disuruh menggambar semua hal mulai dari sel sampai organ. Aku pernah mendapatkan juara II untuk lomba menggambar sekecamatan saat ikut pramuka di ekstrakurikuler sekolah dasar. Untuk pelajaran bahasa inggris aku sangat menikmati menterjemahkan sebuah cerita. Walaupun grammer ku sering kacau dan acak-acakan. Kata guru kursus ku “ kamu cukup bagus dalam hal vocabulary, tetapi harus banyak berlatih dalam hal grammer.” Meskipun demikian, dimasa Sekolah Dasar aku selalu masuk dalam 3 besar, saat Sekolah Menengah Pertama aku berada dikelas unggulan, tetapi tidak pernah berada dalam 3 besar, dan pernah keluar dari 10 besar. Saat Sekolah Menengah Atas, aku kembali berada dalam 3 besar.
Tibalah saatnya aku memasuki perkuliahan. Masya Allah… Aku diterima kuliah dikedokteran. Sesuatu yang menurutku sangat membahagiakan, kenapa? Karena saat itu dan mungkin saat ini, profesi dokter masih dimuliakan dimasyarakat, dan saat itu, akulah orang pertama yang mengambil jurusan kedokteran umum di keluargaku. Selama kuliah dikedokteran, banyak hal yang aku alami, dimulai pada semester 2 ketika bapak meninggal dunia, hal ini sangat-sangat membuat kami merasa kehilangan. Saat itu, aku bersyukur karena rezekiku untuk sekolah masih diberi kelancaran oleh Allah SWT melalui ibuku yang berprofesi sebagai seorang bidan, dari gaji pensiunan bapak ku yang sudah meninggal, juga dari abang kandungku yg baru mulai bekerja. Alhamdulillah disaat itu uang semester tidak semahal sekarang, aku adalah angkatan pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Riau. Saat itu masih banyak bantuan dana dari pemerintah. Hanya uang buku yang terasa cukup mahal. Tapi alhamdulillah atas rezeki dari Allah, semua berjalan sesuai harapan.
Sesekali aku ingin berhenti kuliah sambil curhat ke ibuku karena tidak tahan dengan tekanan dimasa kuliah dan kondisi per-koass-an yang cukup menguras fisik dan psikis. Terkadang dimarahi dokter konsulen, terkadang dimarahi pasien, ada kalanya menangis ikut bersedih karena pasien meninggal, pernah mengalami deg-degan karena menyambut bayi baru lahir tapi tidak menangis alias tidak bernafas. Selain itu pernah ketemu “makhluk lelembut” saat keluar jam 2 dini hari karena oncall pasien visum kecelakaan lalu lintas. Kenapa aku katakan “makhluk lelembut,” karena dia tampak seperti anak usia 4 tahun, sedang jongkok di 1/3 lebar jalan, wajah tidak terlalu jelas, berambut poni lurus, dan berbaju singlet. Kulihat pintu rumah disekitar anak tersebut jongkok, tidak ada yang terbuka, tidak ada orang tua yang menemani. Tapi aku buru-buru jadi tidak sempat bertanya, dan sesampainya di rumah sakit, aku bertanya kepada teman dekat 1 angkatan, Eka namanya, “Ka, kamu lihat anak tadi gak? Anak yang di jalan, jongkok dia, pas kena senter lampu motor kita tadi.”
Eka menjawab “gak ada aku liat orang djalan tadi.” Lalu kami bergidik dan cepat-cepat masuk ke dalam ruang visum. Pulangnya kami memutar jalan tidak ingin melewati jalan yang sama. Ketika aku merasa letih dengan semua beban, mamak lah orang yang selalu menguatkan. Saat kuliah, aku juga bersyukur karena saat itu aku mendapat hidayah untuk memakai hijab. Berusaha menjadi seorang muslimah yang lebih baik sesuai ajaran agama islam. Alhamdulillah, semoga selalu istiqomah.
Selama aku kuliah di Pekanbaru, aku selalu menyempatkan ke toko buku, seperti gramedia. Dalam 1 minggu, aku bisa 1-2 kali ke gramedia, mulai dari hanya menyusuri rak demi rak, sampai betulan membeli. Biasanya yang ku beli seputar buku motivasi, novel dan buku travelling. Aku senang sekali mencium bau kertas dari buku tersebut. Ada perasaan menggebu dan bahagia yang tidak bisa diungkapkan saat berada di sana. Sesekali berpikir dan menghayal berada di negeri yang ada dalam buku-buku yang ada di sana. Aku masih mengintip negara Jepang yang bukunya banyak ku koleksi untuk sekedar menyenangkan hati menambah wawasan. Aku memang sangat excited dengan negara itu. Suka dengan budayanya yang teratur, rapi, disiplin, dan detail.
Selama kuliah, aku menyempatkan diri belajar gitar klasik, tentunya setelah tahun-tahun praktikum perkuliahan sudah tidak ada lagi. Sangat menyenangkan belajar musik, melatih kekuatan jari jemari, konsentrasi, keberanian, menambah teman, mengetahui sejarah musik, dan masih banyak lagi. Ini sebagai wujud mencapai cita-cita ku yang dulu pernah ingin jadi pemusik. Cukuplah dijadikan hobi yang menyenangkan. Aku sudah cukup bahagia karena sudah bisa mengiringi nyanyi untuk diri sendiri.
Suatu hari karena hobi gitarku ini, aku bertemu dengan seorang teman yang expert di gitar, fotografi dan seorang dosen bahasa jepang. Beliau biasa dipanggil Ibon Sensei. Kalian tahu betapa senangnya aku memiliki teman yang ngerti soal Jepang? Aku merasa pintu-pintu negara jepang yang dulu pernah ingin ku buka, tiba-tiba seperti disodorkan kunci. Mimpi yang dulu hampir dikubur, tiba-tiba bersemangat kembali aku mewujudkannya. Sering aku bertanya semua soal jepang ke Ibon Sensei ini. Bahasa Jepang yang ingin ku kuasai pun sering ku tanyakan, walau tak juga kunjung bisa karena tidak rutin belajar. Dari studio beliau juga fotografer akhirnya kami sewa untuk wisuda geng angkatan Kedokteran kami.
Atas izin Allah, akupun benar-benar telah menjadi dokter. Mamak senang sekali, tampak dari wajah beliau yang didampingi oleh abang kandungku saat aku wisuda. Mamak menginginkan aku mencari kerja saja di Tembilahan, salah satu kabupaten di Riau. Awalnya sempat aku keberatan, karena aku berpikir kalau mau mewujudkan mimpi keluar negeri, alangkah susahnya tinggal di kampung. Walaupun Tembilahan itu ibukota kabupaten, bukan desa. Tapi karena bapak sudah tidak ada, aku tak mau mengecewakan mamak, aku tahu, apapun hasil yang aku terima, berupa keberhasilan, itu adalah hasil dari doa-doa mamak, dan semua yang aku peroleh adalah hasil jerih payah mamak yang telah menyekolahkanku. Memang doa orang tua itu makbul, akupun diterima sebagai CPNS (Calon Pegawai negeri Sipil) saat ikut tes pertama kali dengan hasil cukup memuaskan. SK pertama tempatku mengabdi ternyata kecamatan Gaung Anak Serka, Teluk Pinang. Tempat dulu ibuku mengabdi 10 tahun sebagai bidan. MasyaAllah, ternyata ini bagian dari rencana Allah. Bekerja di Teluk Pinang, pasien sangat ramai, karena di sini dokter paling banyak 2 orang, lalu ujung-ujungnya tinggal sendiri karena dokter yang satu lagi datang dan pergi, mulai dari sekolah lagi, sampai pindah lagi karena kontraknya habis.
Selama bekerja di Teluk Pinang, aku memiliki keluarga yang sudah seperti keluarga sendiri. Di keluarga ini ada anak gadis yang bernama Heni, dia adalah adik, teman, sekaligus keluarga bagiku. Dia selalu siap menemani mana kala aku butuh teman untuk pergi ke pelosok yang jauh dari Puskesmas induk dengan medan perjalanan yang tak bisa dibilang mulus. Dia sosok orang yang sangat setia kawan, idealis, keras hati namun penyayang. Teluk Pinang adalah kecamatan dengan jalan yang masih rusak di sana sini. Diawal aku bekerja lampu hanya hidup dari pukul 17.00 WIB sampai pukul 07.00 WIB esok harinya. Lama kelamaan listrik makin membaik dan bersahabat alhamdulillah.
Suatu hari dijejaring sosial, aku bertemu dengan suami sepupu dua kali ku. Aku akan mengatakannya sepupu saja supaya lebih mudah. Sepupuku ini bernama Kak Non, Siti Nurainun lebih tepatnya. Beliau ini keluargaku yang belum pernah ku temui dan keluarga sebelah bapak ku yang berada di Setabat, Sumatra utara. Nah, suami kak Non ini yang sangat rajin menjalin silaturahmi dengan seluruh keluarga Tembilahan, termasuklah aku. Nama beliau Bang Fudin. Siapa sangka mereka berdua bekerja di Jepang. Makin semangat lah aku mencari celah untuk bisa sampai di negara matahari terbit itu. Beberapa kali seminggu aku sering bermimpi keluar negeri. Kak Non dan bang Fudin pernah menawarkan berkunjung ke Jepang. Kami akan kirimkan surat undangan katanya, “Kami antar jalan-jalan.” kata mereka. Kedengarannya begitu merdu. Memang di Jepang visa nya sangat ketat. Mereka tidak mengharapkan kita menggembel di sana untuk mencari pekerjaan. Jika sebagai tamu dan turis, tentu mereka tidak keberatan. Aku lalu menabung selama bekerja di Teluk Pinang ini. Karena aku tipe yang jarang belanja, duit hasil praktek digunakan untuk hidup sehari-hari, dan uang gaji dan tunjangan dokter masuk rekening tanpa terpakai. Paling kuberikan pada mamak jika kebetulan pulang ke Tembilahan. Mungkin berkah Allah yang begitu luas itulah yang membuat aku bisa jalan-jalan keluar negeri.
Pada tahun 2013, aku tanpa rencana ditawari jadwal umroh ke Tanah Suci. Benar-benar tidak ada jadwal sama sekali. Karena ilmu agama ku belum seberapa, jadi Tanah Suci belum ada dalam impian masa mudaku. Aku berpikir nanti saja kalau sudah menikah, tapi entah kenapa hati begitu ringan ingin kesana saat ditawarkan. Dan alhamdulillah saat itu uang ku 17 juta cukup untuk mendaftar umroh. Jadilah aku ke sana dengan uang pas pas an dan sama sekali aku tidak takut. Bergetar hati saat melihat Madinah dan Makkah, Masya Allah, hanya air mata yang bisa menetes saking terharunya. Aku anak kemaren sore, yang naik mobil saja masih sering mabuk darat, saat ini berada di negeri para nabi. Alhamdulillah ya Allah atas kesempatan yang tak ternilai ini, izinkan aku pergi untuk berhaji di masa yang akan datang bersama suami (Saat itu aku memang masih lajang).
Diakhir tahun 2013, aku makin sering berkomunikasi dengan keluarga di Jepang, mereka makin sering mengajak ke Jepang, mereka menunjukkan jalan supaya bisa sampai di sana. Sampailah pada memantapkan hati untuk pergi. Lalu aku bertanya kepada Heni , saudari Teluk Pinangku, “Dek, kalau kakak ke Jepang gimana? “
Heni dengan mudahnya punya ide, “gimana kalau ajak Fika kak?” Fika ini teman dekat Heni, dia anak dari keluarga berada dengan kehidupan serba berkecukupan dan kaya raya. Gadis yang cantik, supel, pintar dan menarik. Heni yang di awal perkenalan kami, banyak bercerita tentang Fika padaku. Begitupun Fika, selalu diceritakan oleh Heni tentang aku, dokter kampung yang terdengar spesial karena di Teluk Pinang pernah terjadi kekosongan dokter di instansi kesehatannya. Dan aku salah 1 yg bertahan mengisi kekosongan di sana selama 7 tahun. Awalnya aku sedikit ragu, aku katakan ini backpackeran lo, tak pakai hotel, kita menginap di manapun yang dikasih oleh Bang Fudin dan Kak Non. Si Fika yang memang senang jalan-Jalan dan selalu bisa menempatkan diri dalam bergaul menyetujui ideku itu. Akhirnya kami sibuk berencana untuk mewujudkan mimpi ku yang tertunda itu.
Atas kemudahan dari Allah, Kami mendapatkan tiket murah, hasil pencarian Fika di internet. Kami mulai rute dari Medan, menuju Kuala Lumpur, dari Kuala Lumpur kami menuju Nagoya, landing di Chubu International Airport. Masya Allah… Aku terharu, karena tidak terpikir dulu akan sampai di negara ini. Tidak terlintas jalannya, tidak terpikir caranya. Tapi Allah tidak tidur, dia selalu mendengar setiap impian kita. Jika semua buntu, maka Allah akan membukakan jalan. Mamak meneteskan air mata ketika ku telepon dari negeri sakura ini. Terdengar suara sesegukan dari beliau. Aku tahu, bagi mamak, aku hanya anaknya yang baru saja beranjak dewasa, masih sedikit cengeng dan jarang keluar rumah, sekarang sudah sampai di negeri sakura yang sangat jauh bagi mamak, tapi kata Ibon Sensei, jarak nya hanya 7-8 jam naik pesawat, bukankah itu seperti dari Tembilahan ke Pekanbaru naik mobil? Senang sekali, aku bisa sampai ke Nagoya, Nagano, Tokyo, perfektur Gunma, Kyoto, sempat juga ke Danau Kawaguchi di Perfektur Yamanashi melihat indahnya Gunung Fuji. Memetik lembutnya sakura, puas-puas makan mochi, sushi, heboh menaiki shinkansen, merasakan sejuknya suhu 9°C tanpa debu. Terimakasih Bang Fudin dan Kak Non, karena sudah begitu baik mengantarkan kemanapun kami selama di Jepang. Terimakasih juga kepada bang Pardi dan Ryuhei Kun, yang sudah menampung kami selama di Ueda dan mengajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan selama di Jepang.
Ya Allah, terima kasih untuk semua pencapaian dalam hidupku yang sungguh tidak bisa aku duga. Begitu bermanfaat dan berkesan
Dari Lelah Menjadi Lillah

Oleh: Evanirosa

Perjalanan ini panjang, Allah telah memberikan rambu-rambu agar kita selalu berada di jalan yang diridhoi. Lalu tugas kita hanyalah meletakkan jiwa dan diri pada koridor yang telah Allah sediakan, yaitu melakukan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya. Tidak bisa dipungkiri, perjuangan ini memang melelahkan. Namun, jika setiap lelah yang kita tuai untuk mengharap keridhoanNya maka kebaikan-kebaikan yang akan kita dapat, kelelahan akan berubah menjadi Lillah yang sesungguhnya, terlebih bagi seorang muslim yang telah bersahabat dengan kesibukan-kesibukan. Namun, tetap harus mengcover lelah itu menjadi lillah agar langkah ini terhindar dari beban yang akan mengantarkan kita pada keluh kesah yang sia-sia.
Allah telah menganugerahkan segalanya kepada manusia, lalu wujud kesyukuran itu seperti apa? tidak lain adalah dengan menggunakan kenikmatan itu kepada hal-hal yang mendekatkan kita kepada-Nya, menumbuhkan cinta, serta meningkatkan keimanan kepada-Nya. Dalam hal ini, seyogyanya seorang penuntut ilmu memiliki keuletan, dan mewujudkan segala kesyukuran nikmat itu dengan memaksimalkan segala usaha, doa, dan ikhtiar. Kemudian, menjadikan keletihan dan kepayahan dalam menuntut ilmu, sebagai sarana dalam mewujudkan kehakikian ilmu walaupun kita tak ada lagi di dunia.
Setiap manusia pasti memiliki aktivitasnya masing-masing. Seorang ayah bekerja untuk memberi nafkah kepada keluarga, seorang ibu berusaha untuk menjaga anak dan merawat rumah, seorang anak pergi ke sekolah, dan lain sebagainya. Sebagai seorang manusia, kita semua pasti pernah merasa letih dalam beraktivitas. Namun bagi orang yang beriman, lelah bukan menjadi masalah asal bernilai pahala. Namun, tahukah kamu bahwa tidak semua orang mendapatkan pahala dari rasa capainya? ternyata, hanya orang tertentu saja yang disamping mereka lelah, poin-poin kebaikan juga selalu mereka dapatkan dalam catatan amal mereka. Tanpa harus saya jelaskan lebih dalam, kita pasti sudah tahu bahwa maksudnya adalah agar rasa capai kita diterima oleh Allah dan diganti dengan pahala.
Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mendapat keberkahan dari Lelah menjadi Lillah, diantaranya:
1. Mengenal Diri
Ada kata-kata bijak seorang sufi menyatakan “Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu” bahwa barang siapa yang mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya, Ungkapan ini memiliki nilai akidah dan memberi energi positif yang luar biasa ketika kita mampu mendalami esensi yang terkandung dalam makna tersebut, anjuran mengenali diri sendiri dalam agama sangatlah penting. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya berjudul Kimiya’ As-Sa’adah menjabarkan, mengenali diri sendiri merupakan kunci untuk mengenali Allah SWT lebih dekat. Mengenali diri sendiri merupakan salah satu jalan mendekat kepada Allah SWT. Ketika kita mengenali diri kita maka kita dapat melihat tujuan dari kita diciptakan, yaitu: Allah tidak akan menciptakan Jin dan Manusia melainkan beribadah kepada-Nya, (Q.S Adzariyat: 56)
2. Berdamai Dengan Hati
Dalam hidup ini akan selalu ada cobaan dan ujian yang membutuhkan kesabaran. Banyak hal yang terkadang terjadi tidak diinginkan. Tidak semua harapan akan menjadi kenyataan, dalam kondisi seperti itu dituntut kebijaksanaan diri untuk menyikapinya. Konfrontasi bukanlah solusi yang tepat untuk meredam konflik. Salah-salah mengambil tindakan bukannya menenangkan malah bisa menambah kekakacauan. Berdamai adalah sebuah cara paling ampuh untuk meredakan persoalan. Jika perdamaian itu terjadi antar individu mungkin itu biasa saja. Namun bagaimana jika kita dituntut untuk mau berdamai dengan hati? Mengalah kepada diri sendiri? Sepertinya tidak akan sulit, namun butuh kesabaran luar biasa untuk bisa mewujudkannya. Berdamai dengan hati, mengalahkan ego, serta membunuh segala macam rasa buruk yang timbul memang butuh latihan. Jika kita rajin berlatih untuk tetap berdamai dengan hati maka selamanya kebahagiaan itu akan kita miliki. Jiwa yang tenang akan memancarkan cahaya cinta, melenyapkan kedengkian, amarah dan sakit hati. Saat itulah kita bisa menatap hidup sebagai sesuatu yang ringan, mudah dan indah. Tidak ada beban, tanpa keluhan dan semuanya berjalan sebagaimana seharusnya. Seperti yang telah Tuhan gariskan dalam dikehidupan manusia. Berdamai dengan hati akan diperoleh seseorang yang menghindari segala bentuk keluhan, karena mengeluh hanya akan menambah penderitaan. Menerima setiap momen yang terjadi, baik pahit ataupun bahagia adalah sifat qonaah yang penting untuk kehidupan. Proses penerimaan ini tentu diiringi dengan pembelajaran memaknai kembali peristiwa tersebut. Dengan kata lain, menjadikan setiap peristiwa sebagai pelajaran.
3. Jalani, Nikmati dan Syukuri
Jalani hidup ini sebagai anugerah indah yang Allah beri. Berapa banyak orang di luar sana yang ingin berada di posisi kita saat ini, kita tidak akan mengetahuinya apabila tidak membuka diri untuk melihatnya. Allah berikan nikmat begitu besar disetiap detik untuk kita nikmati, nikmat sehat, nikmat hidup, nikmat Iman dan nikmat-nikmat lain yang terkadang lupa kita syukuri. Ketika sakit barulah kita mearasakan betapa nikmatnya sehat, dan lain sebagainya. Meyakini bahwa setiap orang sudah memiliki rezeki masing-masing adalah cara agar selalu bersyukur dalam hidup. Hal ini penting untuk menghindari rasa iri terhadap orang lain. Kita meyakini bahwa Allah sudah menentukan rezeki setiap manusia yang telah berusaha, yakinlah rezeki itu sudah tertakar yang tak mungkin tertukar apalagi nyasar. Bila prinsip itu sudah bisa kita aplikasikan dalam hati maka kita akan senantiasa mensyukuri apa yang kita miliki. Bersyukur itu kunci kesuksesan. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Al-Quran: Ibrahim ayat 7)
Demikan Capaian hidup saya yang terus berjalan, semua terasa ringan ketika melibatkan Allah dalam setiap urusan, mari kita berlatih menjalani hidup ini di awali dengan mengenal diri, berdamai dengan hati, menjalani kehidupan, menikmati apa yang ada, dan mensyukuri yang Allah beri, Insya Allah capaian dalam hidup senantiasa di Ridhoi Allah SWT.
-oo0oo-
Motivasi Prestasi Kehidupan Melalui Disiplin

Oleh: Dr. Juwita, SH.,MH., C.MBO.,C.HTc

Selama masa pandemi covid-19 ini, setiap masa weekend aku berusaha menahan diri untuk tidak pergi kemana-mana hal ini kulakukan untuk menghindari kerumunan massa dan juga kontak langsung dengan orang-orang di luar sana, yang aku sendiri tidak tahu apakah mereka sehat atau tidak, waspada sejak dini penting, hal ini untuk menghindari dampak penularan yang kian hari kian meningkat, tentunya hanya diri kita sendiri yang dapat menghindarinya, protokol kesehatan selalu tertanam dalam benakku untuk selalu disiplin menerapkan 3 (tiga) M yaitu Menggunakan Masker, Mencuci tangan dan Menjaga Jarak.
Berbicara disiplin, adalah kebiasaanku sejak kecil, dari mulai disiplin belajar, disiplin bermain dan disiplin dalam menempuh pendidikan sampai disiplin bekerja, hal itu selalu kulakukan, walaupun terkadang ada saja waktu yang terbuang percuma karena sesuatu hal yang mau tidak mau harus mengabaikan waktu yang telah terskedul dari awal, tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang sempurna, kalimat disiplin terkesan mudah dilakukan namun faktanya harus terbiasa, bila tak terbiasa akan sulit untuk menerapkan dalam kehidupan sehari hari. Terlahir dari keluarga yang serba kekurangan, kedua orangtuaku dalam mendidik anak-anaknya cukup keras, itu menurut pendapatku, bayangkan saja, kami bertiga, aku dan 2 (dua) adikku sedari kecil sudah ditanamkan tentang apa itu disiplin, dari mulai bangun pagi, sarapan pagi, bersekolah, makan siang, belajar bahkan bermain serta makan malam selalu diterapkan dengan waktu, waktu bermainku cukup singkat hanya 2 jam saja, selebihnya aku dirumah untuk belajar dan bercengkrama dengan keluarga, hal yang kuingat sampai saat ini adalah kebiasaan makan malam dikeluargaku dilaksanakan pukul 9 malam, hal ini ibuku terapkan karena ayahku selalu pulang kerja sekitar pukul 8.30an malam dan sudah menjadi kebiasaan, jam 9 malam kami makan malam bersama dan dipukul 9 malam tersebut, aku dan adik adiku harus sudah berada dirumah karena waktu bermainku hanya 2 jam dan itu dimulai pukul 7 malam sampai 9 malam, sebelum bermain wajib belajar terlebih dahulu. Bila kami melanggar maka akan mendapat hukuman dari ibuku, hukumannya menurutku cukup ekstrim yaitu mulut kami yang selalu berjanji menepati waktu pulang apabila berdusta akan di berikan cabai rawit yang diusapkan dimulut kami masing-masing, pedas rasanya bahkan sampai menangis, tapi rasa pedas itu akan hilang dengan sendirinya. Berkaitan dengan masa kecilku itulah maka disiplin bagiku merupakan bagian yang terpenting untuk memperoleh prestasi yang gemilang.
Dihari libur ini, seperti biasanya aku menuju ruang perpustakaan mini dirumah, terlihat jelas beberapa buku-buku tersusun rapi di beberapa lemari buku, bahkan yang tak kalah membanggakan bagiku adalah ada 30 piala yang aku raih selama ini, dari mulai masa kecil sampai saat ini, selain itu terdapat beberapa buku hasil karyaku yang sudah diterbitkan dan sudah terkonsumsi untuk para mahasiswaku disalah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia. Hasil prestasi yang kuraih, menurutku karena penerapan disiplin yang ditanamkan pada diriku, sehingga apa yang aku inginkan dapat kuraih dengan mudah, walaupun pada saat berkompetensi pastinya tidak mudah, harus bekerja keras dan belajar dengan penuh semangat. Prestasi bagiku adalah hasil usaha yang aku lakukan dengan mengandalkan kemampuan intelektual, emosional dan spiritual serta ketahanan diri dalam menghadapi situasi aspek kehidupan, selain itu disiplin dapat dikatakan pula sebagai sikap yang selalu menepati janji, sehingga orang lain akan percaya serta sebagai kepatuhan terhadap peraturan dan tunduk pada pengawasan dan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib, dengan disiplin, akan melahirkan mental yang kuat dan tidak mudah menyerah walaupun dalam kondisi sulit sekalipun.
Pada ceritaku ini, aku ingin berbagi pengalaman untuk teman-temanku diseluruh penjuru Indonesia raya, bahwa untuk meraih prestasi adalah gampang gampang susah, gampang bagi yang mau bekerja keras dan memiliki dedikasi serta berdisiplin tinggi, susah bagi orang yang malas dan tidak mau belajar bahkan mengabaikan waktu dengan percuma serta memiliki pemikiran yang sempit dan cenderung mengabaikan bahwa kehidupan yang dijalani ini akan mengarah kemana, ibarat kata, cita cita adalah sebuah sampan yang harus kita daung sampai tujuan, mendayungpun harus sekuat tenaga, dalam mengarahkan sebuah sampan tidaklah mudah, akan ada hambatan dan rintangan, tetapi apabila tekad kita kuat maka sampan akan sampai jua pada arah tujuan dengan tepat waktu, begitupun dengan cita-cita, jangan pernah puas dengan apa yang kita raih tapi berusaha agar cita-cita itu menjadi prestasi yang membanggakan.
Prestasi yang saat ini aku raih bagiku belumlah cukup, keinginan selalu ingin belajar selalu ada dalam diriku, aku selalu haus akan ilmu pengetahuan, dimanapun ilmu itu berada selalu aku kejar, aku tidak pernah memandang rendah siapapun yang memberikan ilmu pengetahuan tersebut, bahkan seseorang yang gelarnya lebih rendah darikupun aku turut belajar darinya, bagiku pengalaman mereka adalah guru bagiku.
Beberapa kiat bagiku yang cukup menarik untuk aku berbagi terkait dengan sikap disiplinku hingga dapat mengukir prestasi adalah :
1. Aku berupaya untuk disiplin dengan keyakinan dan komitmen yang kuat
Tidak mudah memang untuk memiliki keyakinan dan komitmen yang kuat namun aku selalu berusaha dalam diriku, bahwa aku bisa dan aku yakin, kalau aku bisa meraih prestasi sebagai impian hidupku dimasa kini dan mendatang, tentunya Disiplin dengan keyakinan dan komitmen yang kuat maka alam semesta akan mendukung dan membuka jalan yang lebar untukku. Memang terlihatnya sederhana, tapi awalnya sangat sulit bagiku, namun yang perlu diingat adalah bahwa manusia punya tujuan hidup, hanya diri sendirilah tujuan hidup itu dapat tercapai.
2. Aku Selalu belajar untuk dapat disiplin waktu dengan bijak
Aku selalu menerapkan bahwa waktu ada dalam kendaliku, dalam genggamanku, bukan waktu yang mengendalikanku, inipun sulit namun kendali waktu ada pada diri sendiri bukan oranglain dan manakala terkendala biasanya diluar kendali. Manajemen waktu penting bagiku, namun sesekali akupun memiliki mood yang mempengaruhi waktu, salah satunya terkadang masih mengabaikan tugas dikala tidak mood dalam mengerjakannya, contohnya cerita ini, ditengah kesibukanku yang luar biasa aku berupaya menyelesaikan cerita ini, dan aku bersyukur bahwa hampir setiap hari ada yang bawel mengingatkan diriku, tapi bagiku tak mengapa, karena dengan selalu terus menerus berceloteh dengan bawelannya menjadikan bahwa aku harus ada waktu untuk itu.  
3. Aku berupaya dapat berdisiplin untuk tidak terpengaruh dengan berbagai gangguan
Di era revolusi Industri 4.0, tehnologi menjadi kebutuhan manusia, begitupun untuk aku pribadi, media sosial menjadi bagian prestasiku saat ini, segala ilmu pengetahuan mudah didapat, tidak susah seperti dulu, bila membutuhkan buku harus keperpustakaan atau ke toko buku dahulu. Namun hal menarik bagiku adalah bahwa media sosial lainnya seperti, wa, facebook dan istaghram kadang juga menjadi bagian dari gangguan tersebut, hal ini pernah aku alami juga loh yaitu pada saat aku sedang membuat penulisan buku yang kejar tayang. Dimana baru berjalan 30 menit, tiba-tiba hpku berdering, ada wa masuk, langsung aku angkat telp wanya dan karena asyik dengan ceritanya tanpa disadari 2 jam sudah aku bertelepon ria, alhasil penyusunan bukuku terlambat, nah disinilah yang harus bisa disingkapi bahwa jangan terpengaruh dan terlena sehingga melupakan pekerjaan yang sedang dikerjakan, 2 jam itu waktu yang sangat berharga, bila dilaksanakan dengan waktu yang baik maka akan cepat selesai dan tepat waktu. Sedikit sharing, dulu pada saat awal ada facebook menjadi hal baru bagiku, sehingga aku seakan tidak bisa hidup tanpa mengecek Facebook berulang-ulang kali dan lambat laun aku mulai membatasi bermain sosial media sampai saat ini, bagiku prestasi lebih penting dibanding yang lainnya dan salah satu kunci menjadi orang-orang yang berprestasi tinggi adalah tidak terpengaruh dengan gangguan apapun, kecil maupun besar.
Dunia ini memang dirancang dengan banyak gangguan untuk diri kita tak terkecuali diriku sendiri. Jika untuk fokus saja sudah menyerah, ini sama saja kita telah kalah sebelum berperang. Hal penting yang harus selalu aku ingat adalah “jangan sampai lingkungan mempengaruhi kita, tapi kita yang mempengaruhi orang lain dengan pengaruh yang baik”. Jadi, jika kita adalah orang yang sebenarnya bisa fokus tapi tidak dapat mengendalikan gangguan yang ada, maka bersiaplah untuk kehilangan lebih banyak waktu dan ini akan semakin memperlambat kita untuk menjadi orang-orang yang berprestasi tinggi. Untuk mengatasi hal ini, aku selalu memastikan semua hal yang dapat menarik perhatian yaitu sebelum semua pekerjaan terselesaikan dengan baik. Cobalah belajar untuk merasa nyaman dengan keheningan dan fokus. Aku rasa dijamin, kualitas pekerjaan akan meningkat secara drastis dan akan menjadi lebih produktif, sehingga pemikiran akan semakin tajam dalam menyelesaikan tugas-tugas yang ada.  
4. Aku selalu berupaya Disiplin untuk Menjadi Sehat
Agar tetap sehat dan siap untuk mencapai semua tujuan, aku selalu mengalokasikan waktu yang teratur untuk terus menjaga kesehatan tubuh. Jika tubuh terbiasa dengan berolahraga teratur, maka menurutku akan lebih mudah dalam mengelola stres terhadap masalah apapun yang datang dalam kehidupanku. Aku merasa bahwa semakin baik mengelola stres dan energi, maka semakin baik dalam mencapai tujuan yang telah kita tetapkan untuk diri sendiri.  
Itulah beberapa kiat disiplin yang aku jalani selama ini, tidak mudah bukan, untuk meraih suatu prestasi. Semua kembali ke diri masing masing, mau berprestasi atau tidak. 30 (tiga puluh) piala yang ada diruang perpustakaan rumahku adalah bukti, bahwa aku berupaya berkaya nyata bukan berkaya kata, prestasi yang pernah aku raih dengan piala-pialaku itu diantara cerdas cermat, lomba pidato, lomba ceramah, lomba penyuluhan, lomba berkesenian mulai sebagai pelaku sampai pada koreografi, orang bilang aku multitalenta, kalau dibilang aku kuliah pada jurusan hukum mulai S1 sampai dengan S3, tetapi aku memiliki ketrampilan yang sejak kecil aku jalani yaitu menari, dan menari itulah yang menjadi hobiku dan dapat meraih prestasi dan menghasilkan income serta dapat merasakan keliling dunia sebagai Tim misi kebudayaan mewakili negaraku.
Aku memang terlahir dari keluarga yang ekonominya pas pasan, tapi bukan berarti aku berdiam diri dengan keterbatasan ekonomi, aku selalu terus berusaha untuk maju, waktu bagiku adalah tantangan perjalanan, akan kemana perjalanan itu bermuara, waktu dan displin berdampingan, dan Alhamdulillah prestasi yang aku raih menurutku adalah hal yang terindah dan akupun menyadari bahwa setiap prestasi yang aku raih tidak hanya cukup sampai disini tetapi harus terus berlanjut, namun yang harus aku waspadai adalah rintangan yang akan selalu ada, ibarat pepatah mengatakan “semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang menerpanya.”
Bagaimana mengatasi rintangan tersebut?, aku mengatasinya dengan Bersikap Masa Bodoh karena bagiku itu adalah Seni Baru, menurutku adalah lambang fokus, bahkan sebuah bentuk seni yang baru. Masa bodoh dalam hal apa dan bagaimana? Masa bodoh kepada sikap orang-orang yang berusaha untuk menjatuhkan kita. Mereka yang memiliki prestasi yang tinggi, pasti pernah merasakan dihina atau diremehkan oleh orang lain. Tapi, mereka berusaha sekuat tenaga untuk tidak peduli dengan itu. Ibarat kata, susah lihat orang senang dan senang lihat orang susah, semua itu sudah aku rasakan, bagaimana aku difitnah, bagaimana aku dihujat bahkan yang sangat menyedihkan adalah disaat aku dipromosikan untuk menduduki jabatan yang strategis, kurang dari 1 (satu) hari aku akan dilantik tiba-tiba datang sebuah surat yang tak dikenal, istilah kata trendnya “Surat kaleng”, yang tak setuju dengan promosi jabatanku yang baru yang akan diemban nanti, dan akhirnya lewatlah jabatan itu yang sudah di depan mata, bagiku peristiwa ini menjadi pelajaran seumur hidupku bahwa sebaik apapun yang aku lakukan untuk siapapun pasti masih ada orang yang tidak simpati, tapi biarlah, anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, aku tidak pernah putus asa, kejadian itu menjadikan diriku untuk introfeksi diri kearah lebih baik , bukan berarti aku tidak baik, tetapi sudut pandang orang yang melihat prestasi dan kesuksesanku timbul rasa tidak simpati dan cenderung menjatuhkan.
Selain Disiplin, aku selalu menanamkan Keyakinan Untuk Terus Maju Meraih Prestasi karena bagiku, hal ini untuk mewujudkan impian menjadi seorang yang sukses. Aku selalu yakinkan diri sendiri untuk terus maju dan berusaha meraih prestasi dalam kehidupan. Pengalaman adalah guru terbaik untuk menjalani hidup yang baik dan meraih apa yang diimpikan. Dengan belajar dari kesalahan, aku dapat mengevaluasi diri untuk berubah menjadi lebih baik dan belajar dari pengalaman juga bertujuan agar aku tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sehingga, aku bisa memperbaiki diri dan menjadi seorang yang lebih baik setiap kali belajar dari kesulitan dan kesalahan yang telah dilakukan.
Kesuksesan bagiku yang sebenarnya bukan hanya tentang keberhasilan yang sudah aku diperoleh. Kesuksesan yang sebenarnya yaitu kemampuan untuk memberikan inspirasi dan memberikan pengaruh kepada orang lain untuk menjadi lebih baik.
Inilah kisahku, semoga dapat memberikan inspirasi untuk meraih prestasi yang diinginkan, pesanku selalulah berdisiplin diri disemua lini karena kesuksesan berawal dari dirimu sendiri, disiplin terhadap diri merupakan sebuah langkah menuju kesuksesan. Jika ingin bebas dari aturan dan kedisiplinan, buatlah dunia sendiri, jangan pernah jadikan aturan itu menjadi keputus asaan dan bekerjalah ketika waktunya bekerja, bersenang-senanglah kerika waktunya bermain, ini adalah peraturan dasar dari kedisiplinan diri.
Jakarta, Februari 2021
 
Sahabat dan Cinta

Oleh: Leni Marlina

Semoga Allah memberkati kita semuanya, sahabat. Dulu aku selalu memanggil namamu Thomas, entah mengapa tiba-tiba aku menukarnya dalam surat ini dengan panggilan baru “Yusuf”. Tapi, aku tidak salah kan? Karena namanu memang “Thomas Alfa Yusuf”. Aku masih ingat beberapa teman dekatmu memanggil dengan sebutan yang hampir sama.
Terkadang membayangkan namamu, aku jadi teringat kisah Nabi Yusuf. Seorang laki-laki yang berakhlak mulia, berperawakan bagus, berbudi pekerti baik, tidak mudah tergoda hal duniawi yang menjerumuskan, selalu beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
Suatu waktu, ketika membayangkan namamu, aku juga pernah teringat kisah Thomas Alfa Edison, seorang ilmuwan sekaligus wirausahawan yang berhasil memperjuangkan ide dan temuannya yang telah berhasil menerangi dunia, lampu pijar. Setelah berpuluh tahun ia meninggal, namanya abadi dalam histori para penemu yang sudah berjasa banyak bagi kehidupan manusia.
Apalah arti sebuah nama? Bagiku nama seorang Thomas Alfa Yusuf, sangat berarti dan memiliki kisah tersendiri yang panjang tanpa henti. Nama itu merupakan salah satu nama yang mengusik perasaanku dan memberiku harapan pada akhir masa remaja tepatnya waktu kelas III SMA. Seorang teman dari STM negeri berlokasi di kota, tiba-tiba saja muncul di sekolahku dengan dua orang rekannya dan berkenalan denganku. Dirimulah orangnya. Dalam waktu singkat ia mengirimi aku surat bersama foto dan bunga edelweis yang waktu itu aku tidak sadar bahwa ia mulai menyukaiku lebih dari sekedar sahabat (begitulah pendapat teman-teman ketika kutanya). Memang kuper (Kurang Pergaulan) aku waktu itu. Sekarang mungkin juga masih kuper ( Kurang Pergaulan) soal cinta.
Aku memilki banyak teman akrab (setidaknya menurut perasaanku saja), perempuan dan laki-laki. Tapi, aku selalu tidak senang kalau lelaki yang menemuiku apalagi berbicara denganku dengan topi yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan sekolah atau akademis. Apalagi kalau ada teman laki-laki yang datang ke rumahku, tepatnya rumah nenekku dimana aku tinggal, yang katanya hanya sekedar bersilaturrahmi. Aku juga tidak senang kalau ada teman-teman perempuan yang menjodoh-jodohkan aku dengan seseorang.
Aku lebih senang dengan topik pembicaraan tentang pelajaran, organisasi, penelitian, pekerjaan, pengabdian, kegiatan sosial dan masa depan (mungkin kedengarannya “sok hebat”). Kadang-kadang aku juga suka humor. Kalau topiknya tentang pacar, cinta, gaya, asesoris, belanja, jala-jalan, hiburan , dan lain-lain, aku akan menjadi pendengar yang baik saja. Aku akan mengeluarkan senjata pribahasa “Diam adalah Emas”.
Kadang aku menjadi tempat curhat yang paling setia dan aman bagi sahabat-sahabatku yang jatuh cinta, dimabuk cinta, dan bahkan putus cinta. Paadahal aku bukan “dokter cinta”. Aku tidak tahu kenapa teman-teman sering curhat tentang cinta padaku, padahal aku tidak memiliki pengalaman, pengetahuan dan solusi yang jitu tentang hal itu. Tapi kalau ada seseorang menyatakan cinta, bahkan setengah gila mengejar aku yang bukanlah istimewa, maka aku pun setengah gila memikirkan bagaimana menjawab dan menolaknya tanpa menyakiti hatinya. Kadang berhasil kadang nihil. Nampaknya kadang jatuh cinta itu indah, kadang jatuh cinta itu kejam. Aku terima akibatnya. Satu-persatu teman mengejekku. “Kamu tidak super cantik dan tidak terlalu menarik. Ada beberapa cowok ganteng naksir kamu. Bahkan ada pemuda ganteng yang melamarmu dan menunggumu. Kenapa kau begitu bodoh dan tidak menerimanya?”
“Karena aku punya pilihan dan cita-cita sendiri dalam hidup ini” jawabku, tentu saja hanya berani jawab dalam hati. Begitulah yang dapat kukatakan apa adanya kepadamu. Wajar satu-persatu kawanku yang naksir aku mudur dan menjauhkan diri dariku. Semakin berkurang teman lamaku, semakin bertambah teman baruku. Tapi aku tidak akan pernah melupakan jasa-jasa teman lama dan berbagai memori dengan mereka ketika susah maupun senang. Kawan, aku tahu bahwa mencintai itu sifat alami manusia, dan saling mencinta karena Allah adalah salah satu bentuk anugerah. Aku mencintai diriku sendiri dan aku mencintai orang tuaku dan keluarga besarku apa adanya karena Allah. Aku berusaha mencintai sahabat-sahabatku dan saudara-saudariku seiman apa adanya hanya karena Allah. Aku mencintai guru-guruku dan sekolahku. Aku mencintai agama dan bangsa kita. Aku berusaha memaafkan dan mencintai orang-orang yang meremehkan dan menyusahkan hidupku dan keluargaku semata hanya karena Allah.
Sulit bagiku untuk mencintai seorang teman lebih dari sekedar sahabat dan saudara, tepatnya pacar. Kenapa? Aku juga tidak tahu waktu itu. Alasan ini pulalah yang membuatku telah bersalah pada sebuah nama “Thomas Alva Yusuf”. Aku telah melakukan suatu kesalahan terhadap sahabatku ini (dengan penuh perjuangan hatiku harus mengakuinya). Sejak pertama kali bertemu beberapa tahun lalu, dirimu selalu bersikap baik padaku. Engkau memberiku semangat dan dorongan untuk kuliah sambil bekerja di kota tempat ia tinggal. Ia juga mendoakanku agar mampu mencapai cita-cita. Doa ini ia abadikan dalam sebuah kartu ulang tahun yang ia desain dan berikan langsung ke tanganku sewaktu aku berumur 18 tahun. Aku berhutang budi padanya.
Ketik aku kuliah sambil kerja, ia berusaha untuk menengokku di tempat kerja, padahal ia sendiri juga sibuk bekerja. Ia berusaha untuk membantuku dan menawarkan bantuan untuk menemaniku pergi mengajar privat yang jaraknya cukup jauh (kalau jalan kaki jauh, kalau dengan kendaraan tidak begitu jauh). Aku selalu menolak tawarannya dan selalu berusaha menjauhinya. Aku tidak ingin lebih banyak berhutang budi pada sahabatku ini. Maka bisa dihitung dengan jari berapa kali kami bertemu dalam setahun walaupun tinggal di kota yang sama.
Beberapa tahun kemudian (bulan Ramadhan) secara terbuka ia mengungkapkan “Aku ingin menjadi lebih dari sekedar sahabatmu, aku menyukaimu dan mencintaimu”. Kira-kira begitulah versi singkat atau kesimpulan ia ucapkan kepadaku. Aku tidak kaget mendengarnya, karena telah kuduga sebelumnya. Tapi aku kaget dengan diriku sendiri ketika secara spontan aku menjawab “Aku tidak bisa menerimu sekarang. Aku memang menyukai dan mencintaimu lebih dari sekedar sahabat. Tapi aku tidak bisa menerima permintaanmu sekarang ini. Aku ingin konsentrasi kuliah sambil kerja dan menggapai cita-cita”. Begitulah ucapan itu keluar begitu saja dari mulutku.
Aku tidak tahu apakah ini jawaban yang gila atau basa-basi, atau karena memang perasaan cinta. Semuanya terjadi begitu saja. Aku tidak menyangka. Aku tidak tahu dan tidak sadar, kalau jawaban ini telah menumbuhkan harapan bagi sahabatku dan menumbuhkan benih setianya padaku. Hanya Allah, ya Raqib, Tuhan Yang Maha Mengetahui segala rahasia.
“Aku tidak ingin berpacaran karena selain dilarang oleh agama juga akan membuyarkan konsentrasi kuliah untuk mengejar cita-cita.” Pernyataan ini tentu saja hanya kuungkapkan dalam hati. Aku tidak tahu, kalau sejak itu seorang Thomas Alva Yusuf mendengar jawabanku dengan seksama dan menyimpan ungkapanku itu sebagai janjiku yang ia pegang teguh entah sampai berapa tahun lamanya dan berusaha untuk menagihnya setelah aku lulus wisuda sarjana dan bekerja fulltime. Aku juga tidak tahu, kalau sejak itu ia menolak secara halus ketika ada gadis lain yang menyukai, mencintainya dan menolak lamaran anak gadis lain melalui orangtuanya. Semoga Allah memberi pendamping hidup yang tepat bagi sahabatku ini dan semoga hidupnya lebih bahagia tanpa diriku.
Aku sendiri tidak pernah memiliki pacar apalagi berpacaran. Bahkan aku menolak secara halus maupun terang-terangan dengan orang yang katanya naksir, suka, cinta dengan diriku dan bahkan dengan beberapa orang yang pernah melamarku melalui orangtuaku. Aku akui, alasannya bukan karena aku setia dengan seorang Thomas Alva Yusuf (mohon maaf kalau kedengarannya kasar). Tapi, karena aku harus tahu diri dengan kondisiku dan kondisi keluargaku serta kondisi rohaniku.
“Cinta sejatiku hanyalah karena Allah. Cinta itu suatu saat yang tepat hanya untuk suami pilihan Allah bagiku”. Kedengarannya klise dan abstrak memang, tapi apalagi yang harus kukatakan kalau itu hanya satu-satunya alasan yang aku punya. Kalau aku boleh menebak, mungkin sahabatku, Thomas Alva Yusuf, pernah ingin mengatakan sesuatu seperti yang terdapat pada lirik lagu “Aku mencintaimu lebih dari sekedar yang kau tahu.” Tapi ia tidak pernah mengungkapkannya atau mungkin aku yang tidak pernah memberikan kesempatan padanya untuk mengungkapkannya, atau mungkin juga waktu itu tidak butuh untuk mendengarnya. Karena aku bisa merasakannya sendiri. Thomas Alva Yusuf, engkau memang sahabat yang baik.
Beberapa kali ibuku memperingatkan aku. “Jangan digantung tak bertali anak bujang orang. Kalau suka nyatakan suka. Kalau tidak suka tetap katakan dengan jujur walapun terasa pahit dan menyakitkan.”
Kali ini aku berusaha untuk mengatakan “Aku tidak menyukaimu. Aku tidak mencintaimu.” Tapi aku terlalu pengecut untuk mengatakannya langsung kepadamu. Karena aku takut menambah perasaan luka dihatimu, sahabatku. Kadang aku juga takut kehilangan sahabat sebaik dirimu. Aku salut, simpati dengan karakter dan perjuangan serta pengorbananmu untuk keluargamu. Engkau sebagai sisulung di keluargamu rela tidak kuliah dan hanya memutuskan untuk bekerja agar bisa membiayai kuliah adik-adikmu. Mulai saat itu, aku hanya bisa simpati dalam hati. Aku berusaha bersikap menjauhimu dan berusaha untuk tidak menunjukkan harapan apa-apa bagimu. Sekian lama kita tidak bertemu. Tapi, aku betul-betul tidak tahu kenapa Allah mempertemukan aku denganmu, dirimu lagi, ketika aku berusaha untuk menjauhimu. Waktu itu terjadi gempa kuat dan isu tsunami, dirimu di atas motor tiba-tiba muncul di depanku dan membantuku mengungsi ke rumah sahabat perempuanku. Engkau sangat perhatian padaku melebihi sahabat-sahabatku yang lainnya waktu itu. Aku sangat bersyukur kepada Allah dan sangat berterima kasih kepadamu. Bagaimanapun aku telah berjanji dengan ibuku “Jangan menggantung tak bertali anak orang”. Mungkin aku tidak tahu diri, sudah dibantu teman masih berusaha menjauhi teman. Masalahnya bukan antara teman dengan teman, antara seorang anak perempuan remaja dengan laki-laki remaja usia SMA. Tapi masalahnya adalah perasaan antara seorang perempuan yang beranjak dewasa dan laki-laki yang tentu sudah beranjak dewasa. Aku tidak mau berbuat salah atau memberikan pernyataan spontan seperti dulu lagi, yang memberi dia harapan untuk menerima cintanya.
Aku harus mengakui, aku pernah mencintaimu sama dengan mencintai sahabat-sahabatku yang lain. Aku juga pernah membencimu sama dengan membenci orang-orang yang memaksakan cintanya padaku. Aku senang dengannya sama dengan aku menyenangi sahabatku yang lain. Aku juga pernah kesal dengannya sama dengan orang-orang yang sering membuatku kesal. Tapi aku tidak pernah lupa dengan segala kebaikannya dan motivasinya dulu padaku untuk mengejar cita-cita. Aku mendoakanmu agar hidup bahagia, sama dengan mendoakan sahabatku yang lainnya.
Aku tidak bisa menerima ontanya lebih dari sekedar sahabat dalam hidupku, karena aku punya pilihan sendiri dalam hidup. Kalau ditanya apakah atau siapakah itu, aku juga tidak tahu cara menjawabnya apalagi jawabnnya. Lagi-lagi aku tidak tahu. Entahlah kenapa begitu? Padahal kata orang aku seorang yang berilmu. Kenapa jadi kedenagran membingungkan dan bodoh begitu? Hanya Tuhan yang tahu.
Sampai juga waktunya aku mengumpulkan kekuatan agar aku tidak mengecewakan sahabatku ini lebih lama. Tahun 2007, dua kali diwaktu dan tempat yang berbeda, aku nyatakan secara terang-terangan. “Lupakanlah aku kawan. Aku tidak bisa mencintaimu sekarang dan mungkin juga di masa mendatang. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Carilah perempuan yang lebih tepat untukmu dan lebih baik dari diriku.”
Tidak persis sama memang kalimatnya dengan apa yang aku sampaikan waktu itu. Tapi kira-kira demikian isinya. Wajar saja kalau seorang Thomas Alva Yusuf kecewa, sedih, dan marah padaku. Aku mengerti dan terima itu. Apa aku telah membohongi perasaan diriku sendiri? Sekian persen betul Aku tidak ingin kehilangan teman sebaik dirimu. Tapi aku tidak ingin mengecewakanmu lebih lama. Untuk sementara waktu aku tidak ingin bertemu dan bicara denganya karena membuatku menjadi tambah merasa bersalah dan membuat batinmu dan batinku tersiksa. Beberapa bulannya sebelumnya di tahun 2007, aku jatuh sakit dan aku seolah-olah melihat malaikat maut membelai tenggorokanku. Aku berusaha menelpon dan meminta maaf kepada orang-orang yang mungkin sangat tersakiti dengan sikapku karena kisah cintaku yang kaku atau mungkin lucu atau juga dungu, termasuk dengan sahabatku, Thomas Alva Yusuf. Alhamdulillah, ia memaafkan aku dan mendoakanku supaya cepat sembuh. Sejak itu aku bertekad untuk tidak menyakiti perasaannya lagi.
Lagi-lagi aku mealkukan hal yang aneh dan bodoh di akhir tahun 2007. Walaupun aku sering mengingat dan mengenangnya, aku tida ingin bertemu dan berbicara denganya. Aku memintanya agar jangan menemuiku lagi atau menelponku lagi. Aku takut mengeluarkan kata-kata yang bertambah mengecewakannya. Aku takut bertengkar hanya karena masalah hati dan cinta dengannya. Aku takut memberimu harapan yang tak mungkin aku penuhi. Aku takut menjelma dalam kenangan hidupmu yang paling menjengkelkan. Aku takut melakukan pembicaraan spontan yang hanya menambah kecewa dihatimu dan duka dihatiku.
Tiba-tiba saja aku jadi orang yang penakut. Padahal aku telah pernah berani mengarungi hidup jauh dari orang tua. Berjuang dengan gagah berani untuk mencapai cita-cita tahap pertama menjadi seorang gadis desa sederhana yang mencapai gelar sarjana. Aku akui bahwa aku takut karena aku telah berbuat salah pada perasaan sahabatku ini. Apalagi yang harus kuperbuat selain memohon maaf padanya dan agar ia memahami kondisi dan perasaanku. Aku mohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang ku sengaja dan yang tidak aku sengaja. Aku begitu kaget dengan pesan singkat via WA yang aku terima pada selang waktu yang tidak begitu lama (masih di tahun 2007). “Hati-hati dengan langkahmu. Mulut manis tapi berbisa.”
Pertama kali aku tidak percaya kalau pesan Whatsaap dirimu kirim sendiri atau teman dekatnya. Kalaupun dirimu yang mengirim sendiri, juga tidak apa-apa. Itu adalah hakmu mengirim pesan Whatsaap karena dirimu punya rasa dan tentu juga pulsa. Akhirnya sebagian kecil yang aku takutkan terjadi juga. Ia telah merasa begitu dikecewakan oleh sikapku (ini sih menurut pendapatku). Aku berkesimpulan begitu dari beberapa Whatsaapp yang aku terima darimu. Padahal sedikitpun tidak ada terlintas bagiku untuk menyakiti perasaanmu. Bahkan aku pernah berniat untuk menjadi bagian dari keluargamu, tepatnya menjadi saudara angkatmu. Tapi itu tak mungkin lagi, ya tak apa. Mungkin begitulah kehendak-Nya.
Tiba-tiba aku kembali jatuh sakit. Kali ini aku tidak ingin dikasihani oleh siapapun kecuali kasih-Nya. Aku tidak ingin terlalu dekat dengan siapapun, kecuali sealu dekat dengan-Nya. Ak utidak ingin lag idisibukkan oleh soal rasa dan cinta kepada manusia semata. Aku hanya ingin menyibukkan diri dan berjuang memperbaiki diri di jalan-Nya. Aku tahu aku bukan malaikat. Aku bukan manusia sempurna. Tidak ada jaminan bagiku sebagai penghuni surga. Tidak pula aku sanggup diberi neraka. Tapi setidaknya aku ingin melewati waktu mudaku yang tersisa demi sebuah cita-cita di jalan-Nya. Aku ingin lebih memaksimalkan kesempatan hidup yang diberi Tuhan untuk mengumpulkan bekal di akhirat nantinya.
Banyak ibadah yang bisa dilakukan di jalan-Nya. Menikah adalah ibadah. Aku tahu itu, sahabat. Diusia yang tidak lagi muda ini (setidaknya dibanding anak SMA), aku merasa manusia kecil yang masih berjiwa kerdil. Aku ingin jauh lebih berhasil. Aku ingin melanjutkan cita-cita menyelesaikan program pasca sarjana. Entah kapan itu tiba masanya. Aku ingin mewujudkan cita-cita ibuku menjadi anak yang berguna. Aku ingin mewujudkan cita-cita para orang tua angkatku menjadi contoh teladan bagi adik-adik angkatku. Aku ingin membantu saudara-saudaraku yang kurang beruntung dalam memperoleh kesempatan menuntut ilmu. Aku ingin berbagi dengan saudara-saudaraku yang kurang beruntung dalam memperoleh kesempatan menuntut ilmu. Aku ingin berbagi dengan saudara-saudaraku yang kurang beruntung dalam mencapai cita-cita. Aku ingin membantu saudara-saudaraku yang memiliki penderitaan hidup yang hampir sama. Aku ingin mengabdikan diriku demi agama, bangsa dan negara. Aku ingin meninggal dunia dengan meninggalkan amal shaleh dan kebaikan di dunia. Semuanya butuh pengorbanan dan perjuangan. Kedengarannya muluk, memang ia. Tapi sahabat, apalagi yang kumiliki sealin cita-cita. Apalagi yang bisa kubagi dengan dirimu, selain cita-cita.
Aku tidak ingin berbagi duka dan melanjutkan kisah sedihmu denganmu, sahabat. Karena aku telah banyak berbagi kisah sedihku denganmu. Dan engkau adalah salah satu sahabatku yang baik untuk itu. Tindakan dan mungkin keanehan sikapku sudah banyak mengecewakanmu. Aku harap engkau telah memaafkanku. Umur, rezeki dan jodoh adalah rahasia Tuhan. Aku berniat dengan umurku yang tersisa, agar aku mampu mewujudkan cita-cita yang kadang terasa dingin dan sepi. Tapi aku berusaha menghangatkan dan meramaikannya dengan air mata, sisa tenaga, doa dari siapa saja.
Aku ingin mencari rizki dan ridhonya sekuat tenaga yang aku punya, sehingga aku bisa berbagi dan menyumbangkannya di jalan Allah. Terdengar “sok idealis dan manis” memang. Tapi aku sangat ingin merintisnya walaupun terkadang penuh rintangan menghadang dan membuncahnya tangis. Aku ingin memiliki jodoh yang setia mendampingku di dunia dan membimbingku ke akhirat. Soal jodoh ini biarlah menjadi rahasia Tuhan. Di usiaku yang 25 aku kelihatan semakin tua (setidaknya menurut sekelompok orang). Biarlah aku tua dimata manusia. Aku tidak menunda untuk mencari jodoh apalagi menunda menikah. Biarlah aku katakan suatu hal yang mungkin kedengarannya ‘gila’. Ya mau gimana lagi? Aku ingin menghasilkan suatu yang bermanfaat bagi umat manusia dengan gelar S2, atau S3 atau profesor saja. Begitu banyak sahabatku akhirnya yang sekarang entah dimana, tidak punya kesempatan mencapai cita-cita pertamanya. Kalau aku memiliki kesempatan aku akan mewujudkan cita-cita mereka.
Aku beritahu engkau sesuatu, sahabat. Aku sudah biasa hidup menderita. Aku sudah sering dicaci dan dicerca. Aku sering dimaki dan dihina hanya karena masalah cinta dan cita-cita. Banyak orang yang tidak mengerti dengan pikiran dan jalan hidupku. Biarlah itu terjadi dan datang dari manusia. Hanya kepada Allah aku mengadukan semuanya.
Aku tidak akan pernah memaksamu, sahabat, untuk mengerti dengan keaadanku. Tapi izinkanlah aku mengucapkan terima kasih banyak atas segala kebaikan dan kemurahan hatimu serta pengertianmu. Izinkanlah aku mengembalikan bingkisanmu. Aku telah menerima niat baikmu untuk kembali menjalin silaturrahmi. Tapi aku tidak bisa menerima dan memakai isi bingkisanmu. Segala kebaikan dan doa tulusmu selama ini, sudah melebihi benda apapun yang ingin engkau berikan pada sahabatmu ini. Surat ini beserta puisi yang ada di dalamnya adalah ganti tanda penyambung silaturrahmi kita.
Arti Sahabat Sejati dari Sebuah Hati
 
Masihkah tersimpan dalam memori, ketika kutanya tentang sahabat sejati ?
Kini aku mengerti dan akan kuungkap lagi  
Sahabat sejati adalah buah dari tulusnya persahabatan
Tak pernah dipaksakan, tak pernah tergantikan emas, perak, intan dan berlian
Persahabatan sejati tak bisa dipungkiri
  Ia tidak sempurna dan abadi, karena yang sempurna dan abadi hanya milik ilahi
Kadang ia terasa indah kadang terasa sepi , kadang membuat gundah kadang melukai
Kadang membuat marah bahkan sakit hati, kadang membuat cinta kadang malah benci  
Sahabat sejati setia dengan perasaannya sendiri  
Kadang ia meminta kadang ia memberi, kadang ia meronta, kadang berdiam diri
Sahabat sejati memang dapat mencintai, tapi mencintai tidak harus memiliki
Mencintai berarti mengerti, tidak pernah memaksakan diri  
Sahabat sejati tak bisa dicari, ia akan datang dan pergi sendiri
Melukis jeka, di relung hati, meninggalkan kisah dalam memori
Dan hanya mungkin bertemu kembali karena kuasa ilahi  
Dirimu dan diriku adalah sahabat sejati yang tak terlupakan
Semakin kita melupakan, semakin kuat terbenam dalam ingatan
Kini aku mengerti, sahabat sejati akan selalu hidup dalam sanubari
Walau tak mungkin lagi bertatap muka karena waktu dan kondisi

Sahabat sejati jauh dimata dekat dihati
Mari kita berjuang di dunia untuk akhirat nanti
Dengan cara dan pilihan yang kita tempuh sendiri-sendiri.
 
Menjadi Ibu Sebelum Melahirkan

Oleh: Irdaningsih, S.ST

Sebagai seorang ASN di pada salah satu Kantor Layanan Publik (Health Center Community) ada kegiatan dalam gedung dan kegiatan Luar gedung. Suatu hari setelah selesai melaksanakan salah satu kegiatan luar gedung yang dilaksanakan di wilayah keja tempatku bertugas, aku mampir di sebuah kedai sambil berbincang-bincang dengan salah satu ibu yang ada di kedai tersebut. Banyak juga perbincangan sampai-sampai pada salah satu perbincangan ibu itu mengisahkan tentang mimpi seorang gadis remaja yang membuat hati saya bergetar, bahkan sampai airmata saya keluar karna rasa haru, bangga serta rasa syukur… Mashaa Allah.., dimana sang gadis yang masih remaja tersebut sebutlah Rani (bukan nama sebenarnya), pernah beberapa kali bermimpi Baitullah. Betapa tidak, tempat yang kurindukan dan kuimpikan untuk sampai berkunjung dan beribadah disana hadir dalam mimpi Rani, yang tidak terjadi pada semua orang. Hanya orang-orang pilihan dan izin Allah lah yang dapat kesempatan bisa bertemu/melihat Baitullah dan merasakan panggilan Baitullah hadir dalam mimpinya.
Saya jadi penasaran dan ingin mengetahui lebih banyak hal ada apa dan kenapa ya, Rani bisa bermimpi Baitullah yang merupakan tempat suci dan serta Kiblatnya orang Islam. Apa ya kelebihannya dan kebaikannya ?. Akhirnya aku mencari tahu dimana keberadaan dan no kontak Rani, dan Alhamdulillah kudapatkan dari seorang ibu yang ternyata ibu kandung Rani. Dari ibunya aku dapat khabar bahwa Rani sedang berada di luar Sumatera Barat. Gadis itu baru saja menyelesaikan perkuliahan dan merupakan alumni pada salah satu Universitas Islam Negeri di Jakarta. Suatu hari kucoba menghubungi, sebelumnya dengan memperkenalkan diri, konfirmasi kabar berita yang ku peroleh tentangnya dan menanyakan tentang kebenaran cerita dan atau kisah yang kuterima/dapatkan. Dari perbincangan kami ternyata memeang benar berita yang aku dengar bahwa Rani memang pernah beberapakali bermimpi Baitullah. Dia menceritakan dalam mimpinya itu melihat Baitullah dan merasakan ada panggilan dari Baitullah, apalagi jika selesai sholat dengan memakai sajadah yang ada gambar Ka’bah di tempat sujudnya. Hal ini sering dialaminya semenjak selesai melaksanakan Ibadah Umbrah sekitar bulan April 2014 yang lalu.
Pertengahan tahun 2014 tepatnya bulan Juni 2014 pertemuan yang sangat mengesankan dan sangat bermakna dengan Rani. Rani pulang kampung dan aku dapat kesempatan bertemu juga berbicara langsung dengan Rani. Banyak kisah dan cerita-cerita tentang dirinya, teman-temannya serta pengalaman kerjanya. Mashaa Allah… aku sungguh terharu, kagum atas kepribadiannya, ilmunya serta ibadahnya. Alhamdulillah, banyak hal pembelajaran, ilmu serta Hikmah yang kudapat. Sungguh suatu pertemuan yang sangat berkesan dan bermakna. Sejak saat itu kami sering berkomunikasi dan bertukar pikiran, meskipun dia kembali balik ke Jakarta, bekerja dan tempat kami berjauhan, namun komunikasi tetap lancar.
Dari sekian lama aku mengenalnya beberapa hal yang membuatku kagum dan bersyukur telah Allah pertemukan dengan salah seorang hambaNya yang bermimpi BaitNya. Seorang Gadis diusia remaja yang jauh dari orang tua tapi tetap rajin beribadah, seperti sholat tahajud, membaca Al-Qur’an, puasa sunnah, berbagi kepada sesama bukan hanya pada manusia bahkan kepada makhluk Allah yg lainpun dia ikut berbagi seperti pada kucing. Dia sering berjalan, bawa makanan dalam tasnya untuk diberikan pada kucing yang ditemuinya di jalanan. Mungkin karena kebaikan dan Ibadahnya itu Allah memelihnya sebagai salah satu hambaNya yang dapat berkunjung melihat dan beribadah di Baitullah (melaksanakan Ibadah Umbrah) dan sepulangnya Umbrah merasakan panggilan Baitullah dalam mimpinya. Wallahu ‘a’lam bisshowab.
Rani seorang gadis yang sederhana walaupun dia berasal dari keluarga yang cukup mampu, bersikap ramah, bersifat empati, dermawan, mudah dan pandai bergaul sehingga disukai dan disenangi di Lingkungannya (baik di Kampus, tempat kerja dan dimanapun dia tinggal). Gadis yang dengan pengalaman / pernah bekerja pada beberapa perusahaan di Jakarta ini rendah hati walaupun punya ilmu lebih dari orang teman disekitarnya. Rajin membaca, suka menulis dan pandai merangkai kata-kata, memotivasi serta membantu orang lain dalam mencari solusi dan atau pemecahan masalah. Dia gadis yang mandiri walaupun dia seorang putri tunggal dari kedua orang tuanya.
Rani punya keinginan dan cita-cita yg luhur dan mulia, ingin melanjutkan kuliahnya (S2 dan Profesi / Psikolog). bergerak dibidang sosial, antara lain ingin mendirikan Klinik, Yayasan untuk membantu anak-anak yang kurang mampu dan menjadi orang tua asuh. Gadis cantik dan baik hati in i pernah bertanya padaku “ siapa kira-kira anak untuk menjadi anak asuhnya”. Alhamdulillah sejak sekitar 3 tahun yang lalu dia dapat temukan anak yang kemudian jadi anak asuhnya.
Dengan kesederhanaan dan tawaddu’nya, gadis itu pergi langsung kerumah calon anak asuhnya, mengemukakan niatnya untuk menjadi orang tua (ibu asuh). Dengan penuh rasa syukur orang tua anak tersebut setuju, anaknya jadi asuh dari seorang ibu yang belum menikah apalagi melahirkan. Ya, Gadis ini sudah menjadi ibu sebelum melahirkan. Walaupun masih gadis, belum menikah dan belum melahirkan gadis ini sudah menjadi Ibu (ibu Asuh). Sebagaimana layaknya seorang ibu yang mempersiapkan anaknya masuk sekolah, gadis ini juga begitu. Dia pergi ke pasar membelikan segala keperluan sekolah anak yang akan masuk ke salah satu Pondok Pesantren di Kabupaten Lima Puluh Kota seperti Tas, baju koko, Al – Qur’an, peralatan asrama dan lain-lain. Menghubungi Bendahara sekolah untuk urusan pembayaran administrasi keuangan dan guru / wali kelas untuk segala keperluan yang dibutuhkan serta urusan perkembangan anak.
Perjuangan Rani untuk mencapai cita-citanya terus berlanjut. Dengan Ikhtiar-ikhtiar dan do’a yang dia dilakukan serta doa-doa dari orang tua dan orang-orang yang mengasihinya Allah perkenankan sehingga Rani Lulus masuk pada salah satu Universitas (Jawa Timur). Dengan kemandiriannya, semangat belajar / menuntut Ilmu serta kegigihannya dalam mengikuti semua proses perkuliahan.Rani merupakan “seorang pejuang yang takkan pernah meninggalkan medan juangnya. Ia akan menuntaskan apa yang sudah dimulainya”. Sebagaimana ungkapan dalam Bahasa Indonesia “Hasil tidak akan mengkhianati proses”, ungkapan yang bermakna bahwa jika kita melakukan sesuatu dengan serius atau berupaya dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mencapai hasil yang gemilang. Hal ini terbukti dengan Lulus Rani dan Wisuda dengan Prestasi Nilai Cumlaude.
Rani, gadis yang membuatku jadi Iri..(iri yang diperbolehkan dalam Islam). Salah satu sifat tercela yang harus dijauhi umat muslim adalah sifat hasud atau iri dengki kepada orang lain. Iri saat teman memiliki sesuatu yang baru atau pangkat dan jabatan yang tinggi. Namun, Nabi saw. di dalam suatu hadis menyebutkan bahwa ada dua orang yang kita boleh iri kepada mereka. Siapa sajakah orang itu?
Hadis tersebut merupakan riwayat Abdullah bin Mas’ud r.a., ia berkata bahwasannya Nabi saw. pernah bersabda,
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَآخَرُ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا. رواه البخاري.
“Tidak boleh ada rasa iri dengki kecuali kepada dua orang, yakni orang yang diberikan Allah harta, lalu ia membelanjakannya dalam kebenaran dan orang yang diberikan Allah suatu hikmah (ilmu), lalu ia menerapkannya dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari).
Berdasarkan hadis tersebut, Nabi saw. memperbolehkan iri kepada dua orang. Pertama adalah orang yang diberikan rezeki yang lebih oleh Allah swt. lalu ia dapat menggunakannya dengan baik. Tidak digunakan foya-foya atau dihambur-hamburkan dengan mubadzir. Tetapi ia manfaatkan hartanya dengan menatasarrufkannya kepada hal-hal yang baik. Untuk menafkahi keluarganya, membantu orang lain dan menshadaqahkannya. Maka, kita diperbolehkan iri kepadanya, iri atas sifatnya yang mulia.
Kedua adalah orang yang diberikan ilmu oleh Allah swt. lalu ia mampu mengamalkannya serta mengajarkannya kepada orang lain. Ilmu yang diberikan oleh Allah kepadanya tidak digunakan untuk membodoh-bodohi orang lain, atau disimpan sendiri tanpa mau membaginya. Dan ia pun senantiasa menerapkan ilmu yang ia miliki ke dalam kehidupan sehari-hari, artinya ilmunya sangat bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain. Maka, kita juga diperbolehkan iri kepada orang yang memiliki sifat seperti ini.
Demikianlah sabda Nabi SAW. yang membolehkan umatnya untuk iri kepada orang yang memiliki sikap dermawan dan bijak atas harta yang diberikan oleh Allah SWT. dan kepada orang yang dapat memanfaatkan ilmunya baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Kedua sikap ini aku temukan pada Rani, yang membuatku jadi iri (iri yang diperbolehkan dalam Islam). Wa Allahu A’lam bis Shawab.
Semoga cerita pengalaman saya ini menjadi inspirasi teman-teman.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *